Cahaya sorot lampu yang tajam menusuk mata, membuat Risa memejamkan mata erat. Jantungnya berdebar kencang, bukan hanya karena rasa sakit di kaki, tapi karena siluet Bibi Lastri yang berdiri di ambang pintu, memegang linggis berlumuran darah. Darah. Aroma anyir itu seperti langsung menyergap indra penciumannya, membanjiri otaknya dengan pertanyaan-pertanyaan menakutkan.
Kevin sempat tersentak, sedikit terhuyung, namun pegangannya pada Risa tidak goyah. Mata tajamnya menatap Bibi Lastri, lalu turun ke linggis di tangan wanita itu, dan akhirnya berhenti pada noda merah gelap yang mengering di permukaannya. Napasnya tertahan.
“Bibi… ada apa?” Suara Kevin terdengar berat, berusaha menjaga ketenangannya, namun ada nada waspada yang tak bisa disembunyikan. Ia melangkah maju perlahan, mencoba menjauhkan Risa dari jangkauan Bibi Lastri, melindungi gadis itu dengan tubuhnya.
Bibi Lastri, dengan wajah yang masih menunjukkan ekspresi terkejut yang aneh, buru-buru menyembunyikan linggis itu di belakang punggungnya. Gerakannya canggung, terlalu cepat, dan itu justru membuat Risa semakin curiga. Bibirnya mengukir senyum yang dipaksakan, berusaha menutupi gurat kecemasan yang jelas terlihat di matanya. Matanya melirik ke arah sumur, lalu kembali ke Risa dan Kevin.
“Oh, itu… itu bukan apa-apa, Nak. Cuma… cuma tumpahan cat. Ya, cat merah. Tadi Bibi sedang membersihkan gudang belakang, lalu tidak sengaja menumpahkan cat.” Suara Bibi Lastri terdengar terlalu tinggi, terlalu cepat, dan ia bahkan menghindari kontak mata langsung. Tangannya yang tidak memegang linggis terlihat meremas-remas ujung bajunya. Dia berbohong.
Risa merasakan perutnya mual. Cat? Linggis yang berlumuran cat? Itu adalah kebohongan paling konyol yang pernah ia dengar. Aroma anyir darah masih sangat kuat, seolah merasuk ke dalam pori-porinya. Kakinya berdenyut-denyut nyeri, tapi rasa takut akan Bibi Lastri kini mengalahkan segalanya. Ia mencengkeram erat kemeja Kevin, mencoba mencari kekuatan.
“Cat merah, Bi?” Kevin…
TERKUTUK! Rumah Tua Ini Simpan Rahasia Kematian Ibuku Yang Sebenarnya!
BAB 18: Linggis Berdarah
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 50 Episodes
Comments