Udara malam terasa dingin menusuk, namun keringat dingin yang membasahi pelipis Risa tidak ada hubungannya dengan suhu. Jantungnya masih berdegup kencang di balik rusuk, seolah ingin melompat keluar. Tubuhnya bergetar hebat, sisa dari ketakutan yang mencekiknya beberapa detik lalu. Para pria itu sudah pergi, tapi kengerian mereka masih terbayang. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Kevin. Kevin. Ia harus menemukan Kevin.
Dengan kaki yang masih terasa seperti jeli, Risa memaksa dirinya bangkit. Lorong gelap itu tampak lebih menyeramkan sekarang, setiap bayangan seolah menyembunyikan ancaman baru. Ia melangkah tertatih, pandangannya menyapu sekeliling, mencari sosok Kevin. Tidak ada. Kevin tidak ada di tempat ia meninggalkannya tadi. Sebuah kepanikan baru mencengkeram. Apa yang terjadi padanya? Apakah para preman itu melakukan sesuatu pada Kevin?
"Kevin? Kevin!" panggil Risa, suaranya parau. Ia mencoba terdengar kuat, tapi yang keluar hanyalah bisikan putus asa. Tidak ada jawaban. Hanya gema suaranya yang memantul di dinding bata lembap. Risa mempercepat langkah, nyaris berlari, menyusuri lorong sempit itu. Ia melewati tumpukan kardus basah, kaleng-kaleng kosong, dan bau anyir yang membuat perutnya mual. Setiap langkah adalah perjuangan, setiap bayangan adalah potensi bahaya.
Kemudian, ia melihatnya. Di sudut gelap, sedikit tersembunyi di balik tumpukan sampah, tergeletak sosok yang dikenalnya. "Kevin!" Pekikan itu keluar begitu saja. Risa menyerbu ke arahnya, menjatuhkan diri di samping tubuh Kevin yang tak bergerak. Darah. Ada noda merah kehitaman di kemeja putih Kevin, tepat di bagian samping kepalanya. Kevin tidak sadarkan diri.
"Kevin! Kevin, bangun!" Risa menepuk-nepuk pipi Kevin dengan panik, tangannya gemetar. Matanya berkaca-kaca. Wajah Kevin pucat pasi, dan napasnya terdengar berat, tersendat-sendat. Ia berusaha mencari denyut nadi Kevin di pergelangan tangannya. Lemah. Sangat lemah. Air mata mulai menetes, membasahi pipi Risa. Ini semua sal…
TERKUTUK! Rumah Tua Ini Simpan Rahasia Kematian Ibuku Yang Sebenarnya!
BAB 7: Petunjuk Hilang, Nyawa Terancam
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 50 Episodes
Comments