Risa merasakan napasnya tertahan di tenggorokan. Udara di sekitarnya terasa menipis, digantikan oleh aroma melati yang kini terasa seperti racun, menusuk indra penciumannya dan memutar isi perutnya. Mata Bibi Lastri, yang baru saja memancarkan ancaman dingin, kini menyorot tajam ke arah liontin kunci di leher Risa. Jari-jari lentik wanita itu, yang semula mengusap kakinya, kini terhenti, seolah siap menerkam.
“Kunci ini… kamu tahu sesuatu, Risa?” Suara Bibi Lastri berbisik, nadanya terdengar seperti desisan ular, sangat berbeda dari kelembutan palsu yang sering Risa dengar. Senyum tipisnya masih mengembang, namun hanya sampai di bibir, tidak mencapai matanya yang gelap, penuh selubung misteri yang mengerikan. Risa merasa jantungnya berpacu gila-gilaan, berdentum keras di dadanya seolah ingin menerobos keluar. Ia mencoba bicara, namun kerongkongannya tercekat, lidahnya kelu.
Bekas luka bakar samar di tangan kanan Bibi Lastri yang baru saja ia lihat, kini tampak lebih jelas, terpantul cahaya rembulan yang samar-samar masuk dari jendela. Bentuknya tak biasa, berliku-liku seperti jejak sesuatu yang terbakar hebat, mungkin bukan hanya oleh api. Sebuah kengerian baru merayapi Risa, bukan lagi sekadar bayangan atau bisikan, melainkan ancaman nyata, berdiri hanya sejengkal darinya, dengan tatapan mengintimidasi dan senyum yang mematikan.
“Jawab aku, Risa. Apa yang ibumu katakan padamu? Apa yang kamu lihat malam itu?” Bibi Lastri menekan, suaranya kini lebih tinggi, lebih mendesak. Tangannya yang memiliki bekas luka itu kini bergerak mendekat, seolah ingin meraih liontin di leher Risa. Risa refleks menarik napas dalam, tubuhnya menegang. Rasa sakit di kakinya seolah menghilang, digantikan oleh adrenalin murni. Ia tidak bisa membiarkan Bibi Lastri mengambil kunci itu. Itu satu-satunya pengingat ibunya, satu-satunya petunjuk yang ia punya.
“Aku… aku tidak tahu apa-apa, Bi!” Risa berhasil memaksakan suaranya keluar, serak dan gemetar. “Aku… aku tidak ingat apa pun tentang malam…
TERKUTUK! Rumah Tua Ini Simpan Rahasia Kematian Ibuku Yang Sebenarnya!
BAB 19: Ancaman dan Bekas Luka
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 50 Episodes
Comments