Udara di ruangan itu mengental, berubah menjadi es yang menusuk paru-paru Risa. Napasnya tercekat, mata tak berkedip menatap siluet di ambang pintu. Bibi Lastri. Sosok yang selama ini memeluknya, menawarinya kehangatan palsu, kini berdiri di sana dengan seringai yang mengerikan, menyembunyikan wajah di balik bayangan, namun kilatan pisau dapur di tangannya tampak jelas memantulkan cahaya redup.
Pisau itu panjang, runcing, dan berkilat seolah baru diasah. Bayangan Bibi Lastri memanjang, menelan seluruh lorong di belakangnya, menciptakan ilusi monster raksasa yang siap menerkam. Jantung Risa berdentum kencang di rusuknya, memompa adrenalin yang mengalir dingin ke ujung jari-jarinya. Ia ingin berteriak, ingin lari, namun kakinya seolah terpaku ke lantai. Otaknya lumpuh, hanya mampu memproses satu gambar: Bibi Lastri, pisau, dan ancaman yang tak terkatakan.
"Risa… Sayang… kenapa kamu di sini?" Suara Bibi Lastri terdengar lembut, terlalu lembut untuk situasi ini, bagai melodi jahat yang membuat bulu kuduk Risa merinding. Wanita itu melangkah masuk, perlahan, setiap langkahnya mengikis jarak di antara mereka, setiap langkahnya terasa seperti detak jarum jam menuju akhir. "Bibi mencarimu, loh. Kan sudah Bibi bilang, jangan main-main di bagian rumah ini. Berbahaya."
Bibi Lastri tersenyum, senyum itu lebar, menampilkan deretan giginya yang putih, namun mata dinginnya tetap kosong, tanpa emosi, menusuk tepat ke mata Risa. Bekas luka samar di tangan kanannya yang selalu tertutup kini terlihat jelas, terpapar saat ia menggenggam pisau. Luka bakar yang menghitam, tak rata, seolah bekas cakaran api yang ganas.
"Berbahaya?" Risa akhirnya menemukan suaranya, meski hanya berupa bisikan serak. Ia mundur selangkah, menabrak meja di belakangnya. Kotak perak dan surat-surat ibunya terjatuh, berserakan di lantai dingin. "Apa yang sebenarnya Bibi sembunyikan? Apa yang terjadi pada Ibu?"
Senyum Bibi Lastri tak luntur, justru melebar. "Ibumu? Oh, Risa, ibumu hanya... ceroboh. Kecelakaan bia…
TERKUTUK! Rumah Tua Ini Simpan Rahasia Kematian Ibuku Yang Sebenarnya!
BAB 22: Senyum Iblis dan Pisau Berkilat
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 50 Episodes
Comments