Jari-jari mungil itu terasa dingin, seperti es yang menusuk kulit, namun sekaligus memancarkan kehangatan aneh yang membuat Risa merinding hingga ke tulang sumsum. Bukan sentuhan yang menenangkan, melainkan cengkeraman yang mengikat, merantai. Ia tak bisa melawan, tubuhnya kaku, terpasung oleh rasa takut yang luar biasa. Matanya terpaku pada senyum mengerikan di wajah ibu yang kini terbingkai di dalam cermin tua itu. Senyum yang sama dengan gadis kecil di depannya. Kosong, mematikan, seperti bayangan kematian yang membeku.
“Lepaskan aku!” Suara Risa tercekat di tenggorokannya, lebih mirip erangan ketimbang teriakan. Ia mengerahkan seluruh sisa tenaganya, mencoba menarik tangannya dari genggaman gadis itu, namun cengkeraman itu justru semakin kuat, seolah terbuat dari baja tak kasat mata. Kunci liontin di lehernya kini membakar kulitnya, panasnya menjalar, serasa ingin menembus sampai ke jantung.
“Jangan takut, Kakak,” bisik gadis kecil itu, suaranya kini terdengar seperti belati yang mengiris udara. Matanya yang hitam pekat membesar, menelan seluruh cahaya di loteng yang remang-remang. “Kita akan bermain. Seperti dulu.”
Dulu? Kapan? Ingatan Risa seperti diserang gelombang kebingungan. Ada kekosongan besar di sana, lubang hitam yang menghisap setiap detail masa kecilnya di rumah ini. Apa yang gadis ini bicarakan? Siapa dia sebenarnya?
Dan saat ia menatap lebih dalam ke mata gadis itu, bukan kilatan kejahatan yang Risa lihat, melainkan… kesepian. Kesepian yang sangat dalam, yang dinginnya melebihi malam yang paling pekat. Gadis itu tidak jahat. Gadis itu… terluka. Dan dalam luka itu, tersimpan amarah yang siap meledak. Amarah yang telah lama terpendam, bersemayam di dinding-dinding usang ini.
“Aku tidak tahu siapa kamu,” desis Risa, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. “Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya.”
Gadis kecil itu tertawa. Tawa yang tak berwujud, melayang di udara, menggema di setiap sudut loteng. Tawa yang bukan berasal dari seorang anak kecil, me…
TERKUTUK! Rumah Tua Ini Simpan Rahasia Kematian Ibuku Yang Sebenarnya!
BAB 28: Terjebak di Cermin Kematian
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 50 Episodes
Comments