Udara dingin menusuk tulang, menggantikan panas yang tadi membakar tenggorokan Risa. Aroma busuk entah dari mana, masih melekat kuat di indra penciumannya, bercampur dengan bau debu dan lembap khas rumah tua ini. Cahaya biru dari liontin kuncinya kini benar-benar redup, hanya menyisakan denyutan samar yang nyaris tak terlihat. Perisai tembus pandang itu telah lenyap, seolah tak pernah ada. Jantung Risa berdetak gila, memompa adrenalin ke seluruh tubuhnya, membuatnya gemetar dari ujung kaki sampai ubun-ubun.
“Risa? Kamu di dalam, Nak? Bibi dengar ada suara gaduh. Kamu baik-baik saja?”
Suara Bibi Lastri terdengar semakin dekat, langkah kakinya terburu-buru, mengikis kesunyian yang mencekam. Risa menelan ludah, lidahnya terasa kelu. Matanya menyapu sekeliling ruang makan yang kini kembali gelap dan sunyi, seolah kejadian barusan hanyalah halusinasi paling mengerikan dalam hidupnya. Tidak ada jejak ranting-ranting kering, tidak ada bayangan hitam yang merayap, dan yang paling penting, tidak ada sosok bermata merah itu. Semuanya lenyap, tak berbekas.
Ia mencengkeram erat liontin kuncinya. Dingin, padat, nyata. Bukti bahwa semua itu bukan mimpi. Kekuatan itu nyata. Dan bahaya itu nyata.
Sebuah bayangan melintas di ambang pintu ruang makan. Bibi Lastri muncul, napasnya terengah-engah, wajahnya menunjukkan campuran kekhawatiran dan sedikit kemarahan. Matanya langsung tertuju pada Risa yang berdiri terpaku di tengah ruangan, tangannya masih memegangi liontin dengan erat.
“Risa! Ya Tuhan, Nak! Kamu kenapa? Kenapa gelap-gelapan begini? Mana Kevin? Bukannya kalian tadi bersama?” Bibi Lastri langsung menghampiri, dengan gerakan cepat seperti biasa. Tangannya terulur, seolah hendak memegang bahu Risa.
Refleks, Risa mundur selangkah, menepis tangan bibinya. Gerakan itu spontan, tanpa pikir panjang. Mata Bibi Lastri melebar, raut wajahnya berubah. Dari khawatir menjadi... terluka? Atau marah?
“Jangan mendekat,” suara Risa tercekat, parau. Ia sendiri terkejut dengan nada suaranya ya…
TERKUTUK! Rumah Tua Ini Simpan Rahasia Kematian Ibuku Yang Sebenarnya!
BAB 12: Luka Baru, Luka Lama
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 50 Episodes
Comments