Di luar, lorong rumah sakit mulai lengang.
Keluarga Halvard masih duduk di tempat yang sama, tanpa banyak bicara,ereka tidak tahu bahwa di balik pintu itu, dinding yang selama ini dibangun Marsha perlahan mulai retak.
Dua minggu berlalu, dan kehadiran keluarga Halvard di lorong rumah sakit telah menjadi semacam konstanta bagi Marsha seperti detak jantung monitor atau bau antiseptik yang tajam. Ia mulai bisa memprediksi posisi mereka tanpa harus menoleh.
Xabiru di kursi paling ujung kiri, Valerina di tengah, dan Andreas di sisi kanan, selalu dekat dengan pintu kaca.
Namun, sore itu ada yang berbeda.
Ketika Marsha keluar dari ruang bangsal dengan berkas pasien di pelukannya, matanya secara otomatis melirik ke arah kursi tunggu.
Kosong.
Hanya ada kursi plastik biru yang dingin dan deretan lantai marmer yang mengkilap. Tidak ada koran yang terlipat, tidak ada aroma kopi, tidak ada sosok Andreas yang diam mematung.
Marsha berhenti sejenak. Ia menyesuaikan letak kacamatanya, mencoba meyakinkan diri bahwa rasa hampa yang tiba-tiba muncul di dadanya hanyalah akibat kelelahan setelah rotasi dua belas jam.
“Baguslah,” batinnya ketus. “Setidaknya aku bisa berjalan ke kantin tanpa merasa diawasi.”
Namun, langkahnya terasa lebih berat. Setiap beberapa meter, ia mendapati dirinya secara tidak sadar mencari bayangan mereka di balik pilar atau di kerumunan pengunjung lain. Dinding yang ia bangun memang retak, dan retakan itu mulai membocorkan rasa cemas yang tidak masuk akal.
Saat ia melewati taman kecil di tengah rumah sakit, ia melihat mereka, mereka tidak sedang menunggunya, Kali ini, situasinya berbalik. Xabiru terduduk di kursi taman dengan nafas yang tampak berat, sementara Valerina panik memanggil perawat. Andreas berdiri di sana, wajahnya yang biasanya kaku kini tampak pucat pasi, tangannya gemetar saat memegang bahu adiknya.
Marsha seharusnya terus berjalan, tugasnya di bangsal bedah sudah selesai, ada dokter jaga lain yang bisa menangani situasi darurat di tama…
Anak Terbuang Milik CEO Arogan
Bab 17
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 134 Episodes
Comments