Seperti biasa, mungkin jika mobil dikendarai tidak ada bunyinya, dapat dipastikan suasana sekarang, lebih sunyi dari kuburan.
Namun, kesunyian itu tidak bertahan lama, ketika sang pengemudi, membuka suaranya.
"Temanmu?!" tanya Artha, tanpa menolehkan pandangannya.
Mozayya mengerutkan keningnya, namun ia paham betul, siapa yang dimaksud pria di sampingnya, ini.
Memilih menolehkan pandangannya kesumber suara, seraya berkata, "Iya," Setelahnya, Mozayya kembali meluruskan pandangannya ke depan.
Artha; "Apa kamu tidak ingat, apa yang saya tegaskan padamu, tadi pagi?!"
Terdengar hembusan kasar, keluar dari hidung Mozayya.
Mozayya; "Dia teman aku satu-satunya, Artha."
Pria itu mengalihkan pandangannya, lalu menatap Mozayya datar. Sebelah alisnya terangkat sempurna, serta senyuman miringnya yang tak pernah alpa.
Artha; "Kenapa, begitu?"
Mozayya menatap Artha lekat, setelahnya ia menggelengkan kepalanya pelan. Lalu, kembali menatap jalanan.
Artha mengerutkan keningnya, tanpa berniat untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
***
"Ganti pakaianmu dengan seragam Maid, lalu datanglah ke kamar, saya!" ujarnya, setelahnya Artha berlalu menaiki tangga.
Kamar Mozayya! /POV Mozayya
Kenapa masalah itu terungkit kembali? Memang aku sudah menduganya, akan sangat sulit memiliki teman baru, di sekolah baruku, itu. Sudah aku duga dari satu hari sebelum aku masuk sekolah. Hanya saja aku tak menyangka, alasan aku tak memiliki teman, hanya karena masa lalu keluargaku.
Aku memang tak kesal kepada mereka, dengan alasan mereka, kenapa menjauhiku. Karena itu memang benar. Aku juga tak marah kepada ayahku, kenapa ayahku harus bangkrut. Karena, sangat jelas, tak ada seorangpun yang menginginkan kebangkrutan. Tapi, apa seharusnya mereka menghindariku karena aku mantan konglomerat?
Aku bisa merasakan dunia ini memang berputar. Aku gak nyangka aja, dulu apapun yang aku inginkan, aku bisa mendapatkannya disaat aku terbangun dari tidurku. Tapi, sekarang, satupun yang aku inginkan, tak…
Terjebak Psikopat
Pemandangan yang Biasa
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 97 Episodes
Comments