Tama!

Berita duka dari Pak Guno telah sampai ke sekolah. Para siswa, terutama mereka yang merasa dekat dengan beliau, segera merencanakan takziah ke rumah duka.

Sepuluh orang siswa, termasuk Tamara dan Andin yang merupakan pengurus inti OSIS, berkumpul untuk berembuk. Mereka mengumpulkan uang duka yang akan diberikan kepada keluarga Guno. Setelah semua siap, mereka berangkat menggunakan sepeda motor. Tamara dan Andin berboncengan di barisan depan. Di sepanjang perjalanan, mereka berbincang mengenai kejadian yang menimpa istri Guno.

"Gas itu kalau sudah tercium baunya harus buru-buru dilepas regulatornya ya?" tanya Andin.

"Iya, harus! Kalau bau gas sudah menyebar di ruangan, api akan cepat melahap persis seperti bensin " jawab Tamara.

"Begitu ya? Pasti Pak Guno sedih sekali sekarang " gumam Andin.

"Gue jamin dia pasti pingsan!" timpal Tamara yakin.

"Ya, secara itu istri tercinta kan?"

"Iya" Tamara mengangguk.

Waktu berlalu hingga akhirnya mereka sampai di depan rumah duka. Suasana tampak ramai orang-orang hilir mudik untuk mengucapkan belasungkawa. Tamara, Andin, dan teman-temannya turun dari motor.

"Itu Pak Guno!" tunjuk Andin.

"Ya sudah, ayo kita samperin!" ajak sang Ketua OSIS.

Anak-anak menghampiri Pak Guno yang berdiri melamun. Pria itu tampak menatap kosong, seolah kejadian ini tak pernah terbayangkan sebelumnya.

"Pak," sapa Ketua OSIS pelan.

Suara itu membuat Guno tersentak. Guno yang tadinya tampak tak bergairah, seketika mengubah ekspresi wajahnya menjadi ramah dengan senyuman khasnya.

"Kalian ke sini?" tanya Guno.

"Iya Pak. Kami dapat kabar hari ini Bapak tidak masuk karena Ibu meninggal" jawab Ketua OSIS.

Guno menghela napas panjang lalu memeluk Ketua OSIS yang berdiri tepat di hadapannya.

"Terima kasih sudah datang. Kalau kalian mau melihat istri saya, silakan masuk ke dalam. Saya masih ingin di luar" ucap Guno.

Anak-anak itu mengangguk dan masuk ke dalam rumah. Guno memerhatikan wajah mereka satu per satu, hingga matanya terpaku pada Tamara. Gadis itu tampak sangat cantik dengan isak tangis yang membuat pipinya kemerahan.

"Tama!" panggil Guno tiba-tiba.

Tamara menoleh menganggukkan kepala pelan sebagai tanda hormat lalu kembali mengikuti teman-temannya masuk ke dalam.

Kok aku baru sadar kalau Tama bisa secantik itu? batin Guno. Namun, sedetik kemudian ia tersadar dan merasa bersalah karena memikirkan hal itu di saat istrinya baru saja meninggal.

Pemakaman telah usai. Para siswa pun berpamitan untuk pulang.

"Bapak yang sabar ya. Kami di sini pasti mendoakan yang terbaik untuk almarhumah," ucap Ketua OSIS menguatkan.

"Terima kasih Nak. Sekali lagi terima kasih banyak," sahut Guno.

Mereka pun berpamitan, beberapa dari mereka memeluk Guno sekadar memberi kekuatan bahwa hidup harus tetap berlanjut. Tamara dan Andin pun menaiki motor mereka. Di perjalanan pulang, topik pembicaraan mereka masih seputar sang guru.

"Gue pikir Pak Guno bakal nangis bombay sampai pingsan, ternyata cuma bengong!" celetuk Andin ketus.

"Cara orang bersedih itu beda-beda Din. Tidak bisa disamakan" bela Tamara.

"Lu sadar gak Tam? Tadi Pak Guno kayak mau meluk lu, tapi lu-nya keburu melengos!"

"Masa? Gue gak sadar."

"Kata gue sih, ini bakal ada puber kedua!"

"Hush! Gak boleh begitu. Kuburan belum kering sudah ngomongin puber kedua" tegur Tamara.

"Habisnya aneh. Orang lain kalau berduka biasanya linglung atau nangis. Ini dia cuma bengong, terus sok tegar berusaha senyum di depan kita. Padahal kalau sedih ya sedih saja kali."

"Sudah ah! Tidak baik membicarakan Pak Guno."

"Eh, tapi gue punya firasat nih!"

"Firasat apa lagi Andin?"

"Lu bakal jadi incaran Pak Guno!"

"Ih, amit-amit! Sudah bapak-bapak juga!"

"Awas saja sekarang amit-amit nanti imut-imut!"

"Enggak Andin!" Tamara bersikeras menolak.

Sementara itu di rumah Guno sedang duduk sembari menggulir layar ponselnya. Ia tengah memerhatikan foto-foto Tamara di Instagram.

"Cantik juga anak ini. Umur baru belasan tahun, tapi badannya bagus" gumam Guno.

Semakin jempolnya menggulir ke bawah semakin ia tertarik. Ia menyalakan pemantik api membakar sebatang rokok lalu menghisapnya dalam-dalam hingga asap tebal keluar dari mulutnya.

"Ranum, merah, dan putih," ucap Guno saat melihat foto Tamara yang sedang berlibur di pantai mengenakan celana pendek. "Aku masih muda dan bebas mencari perempuan mana pun yang aku mau, termasuk Tama."

Guno menekan tombol keluar dari aplikasi tersebut. Tak lama kemudian ibu mertuanya datang membawa selembar surat.

"Guno, Ibu boleh membicarakan ini meskipun kuburan Hana belum kering?"

"Tentang apa Bu?"

"Waktu Hana masih hidup, dia berjanji membagi dua hak waris rumah ini. Katanya, dia bekerja keras untuk membangun rumah ini. Ibu boleh menjual setengahnya? Semenjak Hana tidak ada, Ibu tidak punya sumber dana kecuali kalau kamu mau mengurus Ibu."

Guno tersentak. "Tapi Hana tidak pernah bilang kalau hak waris dibagi dua dengan Ibu. Lagi pula, rumah ini delapan puluh persen uangnya dari aku. Tidak bisa dibagi dua begitu saja, Bu!"

"Tapi Hana sudah berjanji. Kalau kamu tidak percaya, lihat surat ini. Ada cap jempolnya!"

Guno menyambar surat itu dan membacanya dengan tergesa-gesa. Ternyata benar isinya adalah pembagian hak waris antara Guno dan ibu mertuanya. Guno merasa sangat kesal. Bagaimana bisa istrinya tidak membicarakan hal sepenting ini? Ingin marah pun ia bingung harus kepada siapa.

Guno mengernyitkan kening, mencoba tetap tenang dan bersikap dewasa.

"Begini Bu daripada kita meributkan hak waris, sebaiknya Ibu tidak perlu cemas Ibu juga ibuku, Ibu tinggal saja di sini urusan makan dan biaya lainnya akan aku tanggung."

"Tapi Ibu juga harus ke salon. Waktu Hana masih hidup, Ibu selalu diajak ke salon untuk perawatan rambut, kuku, bahkan luluran," rengek mertuanya seperti bayi.

Guno makin syok. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ya kalau mau ke salon, bilang saja padaku! Butuh berapa nanti aku transfer"

Ibu mertuanya bernapas lega Ia mengelus lengan Guno dengan lembut "Terima kasih Nak, Kamu memang selalu bisa diandalkan."

Guno hanya mengangguk, meski di dalam hati ia merasa sangat jengkel.

Apa aku buat dia mati saja ya? Atau aku bawa ke panti jompo? Tapi umurnya masih muda. Duh, bikin pusing saja! batin Guno kejam. Namun, di luar ia tetap menampilkan senyum manis kepada ibu mertuanya.

Episodes
1 Mendadak Duda
2 Tama!
3 Blok M
4 Cukup apa uang segitu?
5 Risih
6 Jangan macam-macam kamu!
7 Rem mendadak
8 kolom komentar
9 Ruang musik
10 Paling ditolak Tama
11 Kamu tidak tertarik melihat ibu seperti ini?
12 Awas saja ya!
13 apakah pak Ilham tahu?
14 Kok sekarang malah jadian?
15 Harusnya First date!
16 I love purple
17 Tama mengirimkan fotonya
18 jangan menoleh kebelakang lagi
19 Ya pak, saya mau!
20 Garing, tidak renyah!
21 staycation
22 Ketiga kalinya
23 saya sakit hati!
24 Adel.
25 Urat hijau
26 Razia
27 child grooming
28 Anak lelakinya
29 siapa kamu?
30 mending sama Dede gemes aja!
31 merasa bersalah
32 ciuman 21+
33 gak ada yang nungguin elu!
34 Irfan
35 ini karena Tama selingkuh
36 musuh SMA
37 Rumah Raksa
38 menguras kesabaran Guno.
39 Flashdisk
40 calon keluarga suami
41 Ruang Teater
42 Soto Hana
43 Guno termangu
44 Hana belum empat puluh hari!
45 Serangan jantung
46 Mertua Biadap
47 Milik ku
48 Dipecat
49 SIAL
50 alkohol
51 Serpihan botol kaca
52 Kayaknya Tuhan Benci Gue
53 Masih menaruh harap
54 Duda Toxic
55 Cerai dulu baru bercinta 21+
56 Lelah sekali bukan?
57 Cemburu
58 Adel?
59 Sudah mulai luruh perasaannya
60 NPD
61 Tunggu
62 Memeluk lutut
63 Saya masih mencintai kamu Hana
64 Raksa?!
65 Mak, Guno dipenjara
66 Kali ini, Guno tak jujur.
67 Ingkar Janji
68 Haji Muis
69 oh, anak pak RW!
70 Reni bunuh diri
71 Gue mimpi?
72 Tanpa surat lamaran.
73 Sekertaris bos besar.
74 Hari ini Guno milikku!
75 Fuji Hyper?.
76 Ternyata Simpanan
77 Masa depan suram
78 Karoke VVIP 21+
79 Trauma itu kembali
80 Dosa besar
81 Kamu!
82 Tama ditampar
83 Dipermalukan
84 Nama Guno tidak disebut
85 Hukuman
86 Aku mau kamu
87 Jika
88 Menghancurkan Joy
89 Dejavu
90 Hah?!
91 Sepagi ini
92 pingsan 21+
93 Ratu Claster
94 Siapa dia?
95 ini semua salahku!
96 Saya Guno
97 Mba Jum!
98 Adik, kakak ipar.
99 Sang mantan 21+
100 Pak Joy ngamuk!!
101 Tamu undangan
102 Pengantin laki-laki 21+
103 Kabar pahit
104 Dukun beranak
105 Gagal 18+
106 Kamu selalu ada untuk ku
107 Hamil anak siapa kamu?
108 Tegas, berotot dan kejam.
109 Eksekusi 21+
110 Mayat Guno 21+ (TAMAT)
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Mendadak Duda
2
Tama!
3
Blok M
4
Cukup apa uang segitu?
5
Risih
6
Jangan macam-macam kamu!
7
Rem mendadak
8
kolom komentar
9
Ruang musik
10
Paling ditolak Tama
11
Kamu tidak tertarik melihat ibu seperti ini?
12
Awas saja ya!
13
apakah pak Ilham tahu?
14
Kok sekarang malah jadian?
15
Harusnya First date!
16
I love purple
17
Tama mengirimkan fotonya
18
jangan menoleh kebelakang lagi
19
Ya pak, saya mau!
20
Garing, tidak renyah!
21
staycation
22
Ketiga kalinya
23
saya sakit hati!
24
Adel.
25
Urat hijau
26
Razia
27
child grooming
28
Anak lelakinya
29
siapa kamu?
30
mending sama Dede gemes aja!
31
merasa bersalah
32
ciuman 21+
33
gak ada yang nungguin elu!
34
Irfan
35
ini karena Tama selingkuh
36
musuh SMA
37
Rumah Raksa
38
menguras kesabaran Guno.
39
Flashdisk
40
calon keluarga suami
41
Ruang Teater
42
Soto Hana
43
Guno termangu
44
Hana belum empat puluh hari!
45
Serangan jantung
46
Mertua Biadap
47
Milik ku
48
Dipecat
49
SIAL
50
alkohol
51
Serpihan botol kaca
52
Kayaknya Tuhan Benci Gue
53
Masih menaruh harap
54
Duda Toxic
55
Cerai dulu baru bercinta 21+
56
Lelah sekali bukan?
57
Cemburu
58
Adel?
59
Sudah mulai luruh perasaannya
60
NPD
61
Tunggu
62
Memeluk lutut
63
Saya masih mencintai kamu Hana
64
Raksa?!
65
Mak, Guno dipenjara
66
Kali ini, Guno tak jujur.
67
Ingkar Janji
68
Haji Muis
69
oh, anak pak RW!
70
Reni bunuh diri
71
Gue mimpi?
72
Tanpa surat lamaran.
73
Sekertaris bos besar.
74
Hari ini Guno milikku!
75
Fuji Hyper?.
76
Ternyata Simpanan
77
Masa depan suram
78
Karoke VVIP 21+
79
Trauma itu kembali
80
Dosa besar
81
Kamu!
82
Tama ditampar
83
Dipermalukan
84
Nama Guno tidak disebut
85
Hukuman
86
Aku mau kamu
87
Jika
88
Menghancurkan Joy
89
Dejavu
90
Hah?!
91
Sepagi ini
92
pingsan 21+
93
Ratu Claster
94
Siapa dia?
95
ini semua salahku!
96
Saya Guno
97
Mba Jum!
98
Adik, kakak ipar.
99
Sang mantan 21+
100
Pak Joy ngamuk!!
101
Tamu undangan
102
Pengantin laki-laki 21+
103
Kabar pahit
104
Dukun beranak
105
Gagal 18+
106
Kamu selalu ada untuk ku
107
Hamil anak siapa kamu?
108
Tegas, berotot dan kejam.
109
Eksekusi 21+
110
Mayat Guno 21+ (TAMAT)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!