Satu minggu kemudian, Lingga sudah diperbolehkan pulang. Seperti janji yang telah diucapkannya, Nindya datang menjenguk tepat saat Lingga bersiap-siap pulang.
“Kenapa baru menengok hari ini?” protes Lingga karena selama satu minggu ia dirawat, hanya dua kali Nindya mengunjunginya.
“Kemarin-kemarin kan sibuk di sekolah. Pak Lurah kan sudah stabil dan banyak yang nungguin,” jelas Nindya. “Kalau saya tiap hari datang ke sini, nanti saya yang sakit karena kecapean. Memangnya tidak capek bolak balik dari sana ke sini. Butuh dua jam lebih. Kalau bolak balik jadi empat jam. Saya pulang mengajar jam empat sore. Kalau datang menengok, jam berapa saya tiba di rumah lagi. Belum besoknya saya harus kembali mengajar. Lagian Pak Lurah kan bukan siapa-siapa saya. Beda kalau Pak Lurah orang tua atau kakak saya. Saya pasti akan menemani hingga sembuh.”
“Saya kan calon suami kamu,” ucap Lingga dengan kepercayaan diri tinggi.
“Bakal calon,” balas Nindya. Ia merasa suhu di sekitar wajahnya meningkat beberapa derajat Celsius karena tema pembicaraan yang pasti akan mereka bahas.
“Kok bakal calon sih? Kaya pemilu saja,” protes Lingga.
“Kalau calon itu sudah pasti arahnya. Kalau bakal calon itu, baru kandidat untuk menjadi calon. Masih panjang proses dan ketentuannya.”
“Lah, kita juga sudah sangat pasti arahnya. Saya mau kamu jadi istri saya. Masa hal seperti ini tidak disebut kepastian. Saya ini laki-laki yang penuh perhitungan dan perencanaan. Jika saya belum memperhitungkan dan merencanakan dengan matang, saya tidak akan memberikan sebuah kepastian kepada seorang perempuan, ” ungkap Lingga.
“Itu kan baru maunya Pak Lurah, bukan maunya saya.”
“Memangnya kamu gak mau sama saya?” cecar Lingga.
“Ya belum tentu juga sih. Bisa ya, bisa tidak,” jawab Nindya berusaha santai walau detak jantungnya begitu kencang. Nindya mencoba untuk bernapas normal agar tidak terlihat gugup.
“Kamu baik-baik saja, kan?”
“Sekarang tanyakan sama hati kamu. Saat saya terluka, apa yang kamu rasakan? Kalau kamu meras…
Kepak Asa
61. Siap Kembali
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 74 Episodes
Comments