Bab 2 : Langkah Pertama

Deru mesin kereta api kelas ekonomi perlahan melambat, berganti dengan suara decitan kencang besi yang bergesekan dengan rel. Pengeras suara di dalam gerbong mengumumkan dengan nada monoton bahwa kereta fajar telah tiba di tujuan akhir: Stasiun Pasar Senen, Jakarta.

Andra tersentak dari tidur ayamnya. Ia mengerjapkan mata yang terasa perih, lalu meregangkan otot lehernya yang kaku karena semalaman terpaksa bersandar pada kursi gerbong yang tegak dan keras. Melalui kaca jendela gerbong yang buram oleh debu jelaga, matanya langsung disambut oleh pemandangan yang belum pernah ia saksikan seumur hidupnya. Lautan manusia yang saling berdesakan membawa kardus dan koper, jembatan penyeberangan yang kokoh, serta di kejauhan, siluet gedung-gedung tinggi mencakar langit yang tampak angkuh membelah langit subuh Jakarta yang kelabu keunguan.

Andra menyandang ransel hitamnya, memastikan peniti besar yang mengunci ritsleting rusaknya terpasang kuat, lalu melangkah turun membaur dengan ribuan perantau lain. Hawa udara Jakarta langsung menyergapnya tanpa ampun—panas, pengap, dan pekat oleh aroma asap solar.

"Andra! Sini, Ndra!"

Sebuah lambaian tangan dari seorang pria berbadan tegap dengan seragam safari biru tua memecah kebingungan Andra di tengah peron. Itu Mas Joko, anak Pak RT dari desanya yang sudah lima tahun merantau menjadi sekuriti di ibu kota.

"Astaga, makin gagah saja kamu, Ndra. Tambah tinggi sekarang," ujar Mas Joko sambil menepuk pundak tegap Andra dengan akrab setelah mereka bersalaman.

"Maturnuwun, Mas Joko. Maaf ya, malah jadi merepotkan Mas Subuh-subuh begini," jawab Andra dengan senyum tulus yang membuat wajah lelahnya kembali terlihat segar.

"Halah, seperti sama siapa saja. Ayo, kita ke kontrakan dulu naik motor. Kamu mandi, istirahat biar segar. Besok pagi-pagi sekali baru kita ke kantor tempatku kerja.

Kebetulan divisinya Ibu... ah, pokoknya bos besar di lantai atas lagi butuh asisten administrasi cepat," kata Mas Joko penuh semangat.

Kontrakan Mas Joko terletak di sebuah gang sempit di daerah petakan Palmerah. Rumah itu berukuran sangat kecil, di mana ruang tamu, kasur lipat, dan kompor menyatu tanpa sekat. Kamar mandinya pun berada di luar, harus berbagi dengan penghuni petakan lain. Bagi Andra, ini adalah sebuah kejutan budaya awal. Di desa, meski rumahnya sederhana, mereka setidaknya memiliki halaman luas dan udara yang bersih untuk dihirup. Di sini, matahari bahkan kesulitan menembus celah-celah atap seng yang rapat dan berkarat. Namun, Andra tidak mengeluh sedikit pun. Di dalam hatinya, ia justru makin memantapkan niat: ia harus bertahan demi Ibu dan Sekar.

Keesokan harinya, pukul tujuh pagi, Andra sudah berdiri di depan cermin seukuran telapak tangan yang menempel di dinding tripleks kontrakan Mas Joko. Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang terbaiknya yang sudah disetrika rapi—walaupun kainnya agak tipis dan murah—serta celana bahan hitam longgar konvensional. Rambut hitamnya yang lurus disisir rapi menggunakan minyak rambut murah yang dibelinya di warung depan gang.

Ketika ia menatap pantulan dirinya, cermin itu menampilkan seorang pemuda dengan rahang tegas yang kokoh, sepasang mata hitam yang teduh namun memancarkan binar tekad yang tajam, serta postur tubuh tegap proporsional setinggi 180 cm.

Ketampanannya sangat murni dan maskulin, tipe ketampanan yang tidak dibentuk oleh perawatan mahal, melainkan dipahat oleh matahari dan kerja keras di sawah pedesaan.

"Wah, kalau begini caranya, kamu bukan cocok jadi staf admin, Ndra. Cocoknya jadi bintang iklan!" goda Mas Joko saat melihat Andra keluar dari kontrakan. Andra hanya tersenyum malu, wajah sawo matangnya sedikit merona mendengarnya.

Perjalanan menggunakan motor menuju kawasan Sudirman memakan waktu hampir satu jam karena macetnya jalanan Jakarta yang gila. Ketika motor Mas Joko akhirnya berhenti di area parkir bawah tanah sebuah gedung pencakar langit yang megah, jantung Andra mulai berdegup kencang. Gedung bertingkat ini adalah tempat bernaungnya **Apex Media**, salah satu raksasa agensi periklanan paling prestisius dan elite di Jakarta.

Mas Joko mengantar Andra hingga ke lobi lantai 17 menggunakan lift khusus karyawan.

Begitu pintu lift terbuka, Andra merasa seolah-olah dirinya baru saja melompat ke dunia yang sepenuhnya berbeda. Tidak ada dinding beton kaku berwarna cat putih membosankan seperti di kantor kecamatan.

Kantor Apex Media didesain dengan konsep *industrial modern* yang sangat estetik dan berkelas. Dindingnya berupa kaca-kaca masif yang menampilkan pemandangan kota Jakarta dari ketinggian, lantainya semen ekspos yang dipoles mengilap, dan di beberapa sudut terdapat lampu gantung berbentuk unik serta sofa-sofa kulit minimalis.

Orang-orang yang berlalu-lalang di sana pun seketika membuat Andra merasa kerdil.

Mereka adalah para pekerja kreatif—desainer grafis, *copywriter*, dan *account executive*.

Gaya pakaian mereka sangat modis, ekspresif, dan berkelas. Ada yang memakai sepatu bot kulit, jaket denim mahal, celana kulot trendi, dan hampir semuanya memegang tumbler kopi dari kafe waralaba terkenal sambil sibuk berbicara dengan campuran istilah bahasa Inggris yang tidak Andra pahami sama sekali.

Di tengah lingkungan yang serba gemerlap dan penuh gaya itu, Andra berdiri kaku dengan kemeja putih polosnya yang murah dan sepatu pantofel yang ujungnya sedikit terkelupas. Ia terlihat sangat kontras dan asing. Namun justru karena perbedaan itulah, beberapa karyawan wanita yang berjalan melewatinya tidak bisa menahan diri untuk tidak melirik ke arahnya. Wajah tampannya yang bersih, garis wajahnya yang jantan, serta tatapan matanya yang polos dan jujur tanpa kepura-puraan membuat Andra terlihat sangat menarik secara alami, jauh berbeda dari pria-pria kota yang terlalu banyak bersolek.

"Saudara Andra? Silakan masuk, ruangan Managing Director ada di sebelah sana,"

panggil seorang sekretaris wanita berpenampilan sangat modis dengan senyum ramah.

Andra menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan untuk meredakan gemuruh di dadanya. Ia menggenggam map cokelat berisi ijazahnya erat-erat, lalu melangkah menuju pintu kaca besar di ujung koridor. Langkah kaki pertamanya di Apex Media baru saja dimulai, dan ia tidak pernah tahu bahwa di balik pintu kaca itulah, takdir hidupnya sebagai pemuda desa akan diuji oleh godaan terbesar dari kota ini.

Episodes
1 Bab 1 : Tiket Sekali Jalan
2 Bab 2 : Langkah Pertama
3 Bab 3: Tatapan Pertama
4 Bab 4: Meja Depan dan Dunia Baru
5 Bab 5: Pertemuan Sore dan Sisi yang Rapuh
6 Bab 6: Perjalanan Pulang dan Pengakuan yang Terpaut
7 Bab 7: Lembur Pertama dan Ruang yang Menyempit
8 Bab 8: Batas yang Mengabur
9 Bab 9: Pilihan di Ambang Batas
10 Bab 10: Hari Penentuan dan Sinyal yang Berubah
11 Bab 11: Bekal dan Meja yang Sama
12 Bab 12: Pertemuan yang Tak Terduga
13 Bab 13: Cermin yang Retak
14 Bab 14: Jarak yang Sengaja Diciptakan
15 Bab 15: Surat dari Kampung dan Pertahanan yang Goyah
16 Bab 16: Badai di Balik Pintu
17 Bab 17: Mengejar Waktu di Aspal Ibu Kota
18 Bab 18: Tatapan yang Berbeda di Lantai 22
19 Bab 19: Percikan Baru di Tengah Badai
20 Bab 20: Sarapan Pagi dan Perhatian yang Memperat
21 Bab 21: Undangan di Luar Jam Kantor
22 Bab 22: Setelan Jas di Menteng dan Sentuhan yang Berbeda
23 Bab 23: Malam di Hotel Mulia
24 Bab 24: Keputusan di Bawah Guyuran Hujan
25 Bab 25: Pagi yang Berbeda
26 Bab 26: Topeng
27 Bab 27: Ruangan Baru dan Isyarat
28 Bab 28: Tegangan yang Mulai Memanas
29 Bab 29: Pertemuan di Menara
30 Bab 30: Dokumen yang Sah dan Tatapan Curiga
31 Bab 31: Perangkap di Balik Tirai Malam
32 Bab 32: Sisa Kehangatan dan Isyarat yang Terbelah
33 Bab 33: Konfrontasi di Ruang Pleno
34 Bab 34: Pelarian di Ruang yang Terkunci
35 Bab 35: Fondasi yang Mengakar
36 Bab 36: Jerat di Lantai Dua Puluh Dua
37 Bab 37: Puing-Puing Rasa Bersalah
38 Bab 38: Retakan
39 Bab 39: Kilatan Dendam dari Bali
40 Bab 40: Sudut Sempit Koridor Kekuasaan
41 Bab 41: Persidangan
42 Bab 42: Pilihan yang Sulit
43 Bab 43: Tumbal di Atas Meja
44 BAB 44: Rencana di tengah badai
45 BAB 45: Pertemuan yang telah diatur
46 BAB 46: Udangan Valerin
47 BAB 47: Pelukan Keputusasaan
48 BAB 48: penghianatan Dibalik Topeng Kesetiaan
49 BAB 49: Di Antara Dua Api
50 BAB 50: Down Payment
51 BAB 51: Misi Bunuh Diri
52 BAB 52: Murka dan Perpisahan
53 BAB 53: kemenangan yang hampa
54 BAB 54 – Satu Tahun Kemudian
55 BAB 55 – Suntikan Dana
56 BAB 56 – Pertemuan dengan Alya
57 BAB 57 – Permintaan yang Vulgar
58 BAB 58 – Dominasi
59 BAB 59 – KONTRAK DI ATAS DOSA
60 BAB 60 – SANGKAR EMAS YANG PECAH
61 BAB 61 – ANCAMAN DARI SANG RAKSASA
62 BAB 62 – PILIHAN YANG SULIT
63 BAB 63 – PERUBAHAN DI BALIK DINDING KAMAR
64 BAB 64 – PERMAINAN
65 BAB 65 – GAIRAH ALYA
66 BAB 66 – DIBALIK KEKUASAAN
67 BAB 67 – DUA SISI
68 BAB 68 – AMBISI YANG BERTABRAKAN
69 BAB 69 – STRATEGI
70 BAB 70 – PELEPASAN HASRAT SANG PENGUASA MEDIA
71 BAB 71 – PAPAN CATUR
72 BAB 72 – RENCANA SABOTASE DAN GERAKAN UTUSAN GELAP
73 BAB 73 – JALAN BERDARAH
74 BAB 74 – RETAKAN DI BALIK BALUTAN LUKA
75 BAB 75 – NAFSU DAN BALUTAN LUKA
76 BAB 76 – BENIH-BENIH YANG TUMBUH
77 BAB 77 – PERTARUHAN
78 BAB 78 – MAKAN MALAM PRIVAT
79 BAB 79 – BADAI DI MENARA
80 BAB 80 – PENJARA DI BALIK KEMENANGAN
81 BAB 81 – AMBISI YANG BANGKIT
82 BAB 82 – PERANG DUA SAUDARI
83 BAB 83 – PENGHIANATAN SANG ADIK
Episodes

Updated 83 Episodes

1
Bab 1 : Tiket Sekali Jalan
2
Bab 2 : Langkah Pertama
3
Bab 3: Tatapan Pertama
4
Bab 4: Meja Depan dan Dunia Baru
5
Bab 5: Pertemuan Sore dan Sisi yang Rapuh
6
Bab 6: Perjalanan Pulang dan Pengakuan yang Terpaut
7
Bab 7: Lembur Pertama dan Ruang yang Menyempit
8
Bab 8: Batas yang Mengabur
9
Bab 9: Pilihan di Ambang Batas
10
Bab 10: Hari Penentuan dan Sinyal yang Berubah
11
Bab 11: Bekal dan Meja yang Sama
12
Bab 12: Pertemuan yang Tak Terduga
13
Bab 13: Cermin yang Retak
14
Bab 14: Jarak yang Sengaja Diciptakan
15
Bab 15: Surat dari Kampung dan Pertahanan yang Goyah
16
Bab 16: Badai di Balik Pintu
17
Bab 17: Mengejar Waktu di Aspal Ibu Kota
18
Bab 18: Tatapan yang Berbeda di Lantai 22
19
Bab 19: Percikan Baru di Tengah Badai
20
Bab 20: Sarapan Pagi dan Perhatian yang Memperat
21
Bab 21: Undangan di Luar Jam Kantor
22
Bab 22: Setelan Jas di Menteng dan Sentuhan yang Berbeda
23
Bab 23: Malam di Hotel Mulia
24
Bab 24: Keputusan di Bawah Guyuran Hujan
25
Bab 25: Pagi yang Berbeda
26
Bab 26: Topeng
27
Bab 27: Ruangan Baru dan Isyarat
28
Bab 28: Tegangan yang Mulai Memanas
29
Bab 29: Pertemuan di Menara
30
Bab 30: Dokumen yang Sah dan Tatapan Curiga
31
Bab 31: Perangkap di Balik Tirai Malam
32
Bab 32: Sisa Kehangatan dan Isyarat yang Terbelah
33
Bab 33: Konfrontasi di Ruang Pleno
34
Bab 34: Pelarian di Ruang yang Terkunci
35
Bab 35: Fondasi yang Mengakar
36
Bab 36: Jerat di Lantai Dua Puluh Dua
37
Bab 37: Puing-Puing Rasa Bersalah
38
Bab 38: Retakan
39
Bab 39: Kilatan Dendam dari Bali
40
Bab 40: Sudut Sempit Koridor Kekuasaan
41
Bab 41: Persidangan
42
Bab 42: Pilihan yang Sulit
43
Bab 43: Tumbal di Atas Meja
44
BAB 44: Rencana di tengah badai
45
BAB 45: Pertemuan yang telah diatur
46
BAB 46: Udangan Valerin
47
BAB 47: Pelukan Keputusasaan
48
BAB 48: penghianatan Dibalik Topeng Kesetiaan
49
BAB 49: Di Antara Dua Api
50
BAB 50: Down Payment
51
BAB 51: Misi Bunuh Diri
52
BAB 52: Murka dan Perpisahan
53
BAB 53: kemenangan yang hampa
54
BAB 54 – Satu Tahun Kemudian
55
BAB 55 – Suntikan Dana
56
BAB 56 – Pertemuan dengan Alya
57
BAB 57 – Permintaan yang Vulgar
58
BAB 58 – Dominasi
59
BAB 59 – KONTRAK DI ATAS DOSA
60
BAB 60 – SANGKAR EMAS YANG PECAH
61
BAB 61 – ANCAMAN DARI SANG RAKSASA
62
BAB 62 – PILIHAN YANG SULIT
63
BAB 63 – PERUBAHAN DI BALIK DINDING KAMAR
64
BAB 64 – PERMAINAN
65
BAB 65 – GAIRAH ALYA
66
BAB 66 – DIBALIK KEKUASAAN
67
BAB 67 – DUA SISI
68
BAB 68 – AMBISI YANG BERTABRAKAN
69
BAB 69 – STRATEGI
70
BAB 70 – PELEPASAN HASRAT SANG PENGUASA MEDIA
71
BAB 71 – PAPAN CATUR
72
BAB 72 – RENCANA SABOTASE DAN GERAKAN UTUSAN GELAP
73
BAB 73 – JALAN BERDARAH
74
BAB 74 – RETAKAN DI BALIK BALUTAN LUKA
75
BAB 75 – NAFSU DAN BALUTAN LUKA
76
BAB 76 – BENIH-BENIH YANG TUMBUH
77
BAB 77 – PERTARUHAN
78
BAB 78 – MAKAN MALAM PRIVAT
79
BAB 79 – BADAI DI MENARA
80
BAB 80 – PENJARA DI BALIK KEMENANGAN
81
BAB 81 – AMBISI YANG BANGKIT
82
BAB 82 – PERANG DUA SAUDARI
83
BAB 83 – PENGHIANATAN SANG ADIK

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!