Waktu berputar membawa mendung kembali ke langit Jakarta saat jam menunjukkan pukul empat sore. Di meja administrasi lantai 17, Andra menatap tumpukan kuitansi vendor yang baru saja selesai ia rapikan. Sejak penghentian bekal makan siang bersama itu, tiga hari telah berlalu dalam keheningan yang kaku. Hubungan antara dirinya dan Nadia benar-benar kembali seperti sepasang orang asing yang terikat kontrak kerja. Tidak ada lagi obrolan santai, tidak ada tatapan mata yang lama, dan tidak ada lagi sapaan hangat di sore hari.
Andra merogoh saku celananya ketika merasakan getaran pendek dari ponsel murah miliknya. Sebuah pesan singkat dari Mas Joko masuk, memintanya untuk segera memeriksa kotak surat elektronik kantor karena ada pindaian surat dari desa yang dikirimkan oleh kepala desa melalui faks ke pos sekuriti lantai dasar.
Andra membuka tab baru di komputernya, memasukkan kata sandi, dan menemukan sebuah lampiran gambar dokumen. Itu adalah sepucuk surat yang ditulis tangan oleh adiknya, Sekar, di atas selembar kertas buku tulis bergaris yang sudah agak lecek.
Kang Andra, apa kabar di Jakarta? Semoga Akang selalu sehat dan dilindungi Gusti Allah. Sekar menulis surat ini mau memberi kabar kalau uang kiriman pertama dari Akang sudah sampai kemarin siang. Ibu langsung menangis sujud syukur di kamar, Kang. Uangnya langsung Sekar pakai untuk melunasi bon sembako di warung Bu Haji dan membeli obat batuk Ibu untuk satu bulan ke depan. Sisa uangnya juga cukup untuk membayar biaya ujian akhir Sekar minggu depan. Ibu berpesan agar Akang jangan telat makan di sana. Ibu selalu berdoa di setiap tahajud agar Akang selalu dikelilingi orang-orang baik yang tulus. Jangan khawatirkan kami di desa, Kang. Akang harus jaga diri baik-baik di kota orang.
Membaca baris demi baris tulisan tangan adiknya yang agak miring itu, sudut mata Andra mendadak terasa panas. Setitik air mata hampir saja luruh jika ia tidak segera mengedipkan matanya dengan cepat. Surat sederhana itu seperti sebuah tampar…
Antara Ketulusan Dan Godaan Bos
Bab 15: Surat dari Kampung dan Pertahanan yang Goyah
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 83 Episodes
Comments