Napas Andra memburu keras saat ia menaiki anak tangga darurat, melompati dua anak tangga sekaligus dengan sisa tenaga yang dipacu oleh kepanikan. Ketakutan bahwa Diana akan kembali lebih dulu ke ruangannya mengalirkan adrenalin berlebih ke seluruh pembuluh darahnya. Setibanya di lantai dua puluh dua, ia membuka pintu darurat dengan sangat hati-hati, memastikan tidak ada suara decitan engsel yang terdengar, lalu menyelinap kembali menuju pintu ganda ruang kerja Direktur Hukum.
Ruangan itu masih kosong. Andra segera merapikan jasnya yang sedikit kusut, mengatur napasnya yang terengah-engah, dan kembali duduk di kursinya di sudut ruangan. Jari-jarinya langsung menari di atas tuts kalkulator, berpura-pura sedang tenggelam dalam deretan angka anggaran yang membosankan.
Hanya berselang belasan detik kemudian, pintu kayu jati itu terbuka.
Diana melangkah masuk. Namun, kali ini, tidak ada aura tiran yang biasanya menyertai kedatangan sang Direktur Hukum. Postur tubuh wanita itu terlihat sedikit merosot. Wajahnya yang selalu dipoles sempurna kini tampak pucat dan sangat lelah. Topeng arogansi dan dominasi absolut yang selalu ia kenakan retak parah setelah berhadapan dengan utusan dari pria yang memegang tali kekang nasibnya.
Diana berjalan menuju kursi kebesarannya, lalu menjatuhkan tubuhnya di sana. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan, menghela napas panjang yang terdengar sangat menyayat hati. Untuk sesaat, Diana sama sekali tidak mempedulikan kehadiran Andra. Ia terlihat seperti seorang tawanan yang baru saja kembali dari ruang penyiksaan, sebuah pemandangan yang membuat dada Andra berdesir aneh.
(Dia hancur,) batin Andra, menatap sang tiran yang kini terlihat begitu rapuh. (Utusan itu pasti membawa ancaman yang luar biasa dari tunangannya.)
"Andra," panggil Diana, tanpa mengangkat wajahnya dari telapak tangannya. "Tinggalkan dokumen itu. Kamu boleh pulang hari ini. Aku tidak ingin melihat siapa pun sore ini. Keluar dari ruanganku."
Andra terdiam sejenak. Ada doronga…
Antara Ketulusan Dan Godaan Bos
BAB 47: Pelukan Keputusasaan
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 83 Episodes
Comments