Pukul delapan malam, lantai 17 gedung Apex Media sudah sunyi senyap. Lampu-lampu di area kubikal karyawan kreatif dan tim account executive telah dipadamkan, menyisakan pendar lampu koridor yang temaram dan pantulan lampu-lampu jalanan Sudirman dari balik dinding kaca masif. Sebagian besar staf sudah pulang sejak dua jam lalu untuk menghindari puncak kemacetan Jakarta yang diguyur hujan.
Namun, di ujung koridor, cahaya terang masih memancar dari balik pintu kaca ruang kerja Nadia.
Di meja depan, Andra masih duduk tegak menghadap layar komputernya. Jari-jemarinya yang kokoh bergerak lincah di atas papan tik, memasukkan data-data revisi anggaran dari tim kosmetik multinasional yang baru dikirimkan sore tadi. Di sebelahnya, bertumpuk beberapa bundel dokumen yang harus disortir berdasarkan skala prioritas sebelum esok pagi. Ini adalah lembur pertama Andra, dan meskipun punggungnya mulai terasa pegal setelah duduk seharian, tidak ada sedikit pun rasa mengeluh di wajahnya.
Pintu kaca di sampingnya bergeser terbuka. Nadia melangkah keluar dengan beberapa lembar kertas di tangannya. Ia telah melepas blazer abu-abunya, menyisakan kemeja sutra putih yang lengannya digulung hingga sebatas siku. Rambutnya yang biasa disanggul rapi kini dibiarkan tergerai sebahu, memberikan kesan yang lebih kasual dan tidak terlalu kaku.
"Andra, kamu belum pulang?" tanya Nadia, langkahnya terhenti di depan meja asistennya. Suaranya terdengar jernih di tengah keheningan lantai kantor yang kosong.
Andra langsung berdiri dari kursinya, membungkuk sopan. "Belum, Bu Nadia. Saya tanggung menyelesaikan input data anggaran untuk presentasi besok pagi. Tinggal sedikit lagi selesai."
Nadia menatap pemuda di hadapannya. Di bawah pendar lampu kubikal yang putih, Andra terlihat sangat segar meskipun telah bekerja lebih dari dua belas jam. Tidak ada gurat kekesalan atau wajah masam yang biasanya ditunjukkan oleh karyawan kota jika diminta bertahan hingga larut malam. Yang ada hanyalah pancaran mata hitam yang…
Antara Ketulusan Dan Godaan Bos
Bab 7: Lembur Pertama dan Ruang yang Menyempit
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 83 Episodes
Comments