Bab 5: Pertemuan Sore dan Sisi yang Rapuh

Tepat pukul tiga sore, mendung yang sejak siang menggelayut di atas langit Jakarta akhirnya tumpah menjadi hujan lebat. Dari balik dinding kaca lantai 17 gedung Apex Media, jalanan Sudirman di bawah sana seketika berubah menjadi lautan lampu merah yang memanjang, terjebak dalam kemacetan total khas ibu kota saat diguyur air dari langit.

Andra berdiri di dekat meja kerjanya, memastikan tablet kantor dan map dokumen cadangan sudah tersimpan rapi di dalam tasnya. Ia menoleh saat pintu ruangan Nadia terbuka. Wanita itu keluar dengan menyandang tas jinjing kulit hitamnya. Wajahnya tampak lelah setelah maraton rapat internal sejak siang tadi, namun ia tetap terlihat anggun dan memancarkan wibawa yang kuat.

"Mobil sudah siap di lobi bawah, Andra?" tanya Nadia sambil membetulkan letak jam tangan emasnya.

"Sudah, Bu. Pak Joko tadi sudah bantu koordinasi dengan sopir kantor. Mobil sudah menunggu di lantai dasar," jawab Andra sigap.

Nadia mengangguk puas. "Bagus. Ayo kita turun sekarang. Perjalanan ke Grand Hyatt dalam kondisi hujan begini pasti akan memakan waktu lebih lama dari biasanya."

Selama perjalanan di dalam lift menuju lantai dasar, keheningan menyelimuti mereka berdua. Nadia sibuk memeriksa beberapa pesan di ponselnya, sementara Andra memilih berdiri dengan jarak yang sopan di sudut lift, menjaga pandangannya agar tidak lancang. Beberapa karyawan lain yang ikut masuk ke dalam lift sempat melirik ke arah mereka. Kombinasi antara Nadia yang terlihat seperti wanita aristokrat kota dan Andra yang bertubuh tegap dengan wajah tampan bersahaja menciptakan pemandangan yang cukup menarik perhatian.

Di dalam mobil sedan hitam fasilitas kantor, hujan yang menghantam kaca jendela menciptakan suara ketukan konstan yang monoton. Nadia menyandarkan kepalanya ke bantalan kursi, menatap kosong ke arah deretan mobil yang merayap di sepanjang jalan Jenderal Sudirman.

"Andra," panggil Nadia memecah keheningan di dalam kabin mobil yang kedap suara.

"Nggih, Bu Nadia?" Andra menoleh dari kursi penumpang depan, menatap bosnya dengan pandangan penuh hormat.

"Kamu sudah berapa lama di Jakarta?"

"Baru tiga hari ini, Bu. Hari pertama saya tiba, besoknya langsung wawancara di kantor Ibu," jawab Andra jujur dengan senyum tipis yang tulus.

Nadia menaikkan alisnya sedikit. "Jadi ini benar-benar pertama kalinya kamu menginjakkan kaki di kota ini? Bagaimana rasanya? Berbeda jauh dengan desamu?"

Andra terkekeh kecil, membuat suasana di dalam mobil terasa sedikit lebih rileks.

"Sangat berbeda, Bu. Di desa saya, jam begini jalanan sudah sepi, yang terdengar hanya suara jangkrik atau angin di sawah. Di sini, bahkan di dalam mobil yang tertutup pun saya masih bisa mendengar suara klakson. Gedung-gedungnya juga sangat tinggi, membuat saya merasa sangat kecil saat pertama kali keluar dari stasiun."

Nadia tersenyum samar mendengarnya. "Jakarta memang begitu. Kota ini membuat semua orang merasa kecil dan terasing, tidak peduli seberapa tinggi jabatan atau seberapa banyak uang yang mereka miliki." Ada nada getir yang terselip di akhir kalimat Nadia, membuat Andra terdiam sejenak.

Pertemuan dengan Direktur Pemasaran perusahaan kosmetik di restoran Grand Hyatt berlangsung cukup alot. Selama dua jam penuh, Andra menyaksikan bagaimana Nadia bertransformasi menjadi sosok yang sangat tajam, cerdas, dan penuh taktik dalam bernegosiasi. Setiap pertanyaan sulit dari pihak klien berhasil dijawab Nadia dengan argumen yang memikat. Andra sendiri bekerja dengan sangat fokus; ia mencatat setiap poin revisi, menyajikan data di tablet tepat waktu saat diminta, dan memastikan jalannya presentasi tidak mengalami kendala teknis.

Ketika pertemuan akhirnya selesai dengan kesepakatan awal yang positif, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Hujan di luar masih menyisakan rintik-rintik tipis, dan udara Jakarta terasa lebih dingin dari biasanya.

Saat mereka berjalan kembali menuju lobi hotel untuk menunggu mobil jemputan, langkah Nadia tiba-tiba limbung. Sepatu hak tingginya tampaknya tersangkut di celah ubin lobi yang sedikit basah.

Dengan refleks yang cepat akibat terbiasa melakukan kerja fisik, Andra langsung menangkap lengan Nadia sebelum wanita itu terjatuh ke lantai marmer. Tubuh mereka sempat berdekatan selama beberapa detik. Nadia bisa merasakan kehangatan yang kuat dari cengkeraman tangan Andra di lengannya, sementara Andra bisa menghirup aroma parfum melati yang mewah dan lembut dari rambut Nadia yang sedikit berantakan.

"Ibu tidak apa-apa?" tanya Andra dengan nada suara yang sangat cemas, matanya menatap langsung ke dalam manik mata Nadia dengan pancaran kekhawatiran yang murni.

Nadia tertegun. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang, bukan hanya karena terkejut karena hampir jatuh, melainkan karena jarak yang begitu dekat dengan wajah tampan Andra. Di bawah pendar lampu lobi hotel yang temaram dan kekuningan, wajah Andra terlihat begitu rupawan dengan guratan rahang yang tegas dan tatapan mata yang sangat teduh. Sentuhan tangan Andra di lengannya terasa begitu nyata dan protektif—sesuatu yang sudah sangat lama tidak ia rasakan dari sosok seorang pria.

"Saya... saya tidak apa-apa. Terima kasih, Andra," ujar Nadia agak gugup, perlahan melepaskan diri dan merapikan blazernya yang sedikit kusut.

"Sama-sama, Bu. Maaf kalau saya kelancangan memegang tangan Ibu," ucap Andra meminta maaf sambil menundukkan kepalanya, merasa tidak enak karena telah melanggar batas kesopanan.

Nadia menggelengkan kepala. "Tidak, kamu justru menolong saya. Kalau tidak ada kamu, saya pasti sudah jatuh dan menanggung malu di sini."

Saat mobil sedan hitam mereka tiba di depan lobi, Nadia melangkah masuk terlebih dahulu. Namun, sebelum Andra sempat menutup pintu depan untuk duduk di samping sopir, Nadia menahan pintu tersebut.

"Andra, duduk di belakang saja. Temani saya bicara, perjalanan pulang pasti akan sangat macet," perintah Nadia dengan nada yang tidak lagi sekaku di kantor.

Andra sempat ragu sejenak, namun akhirnya ia mengangguk patuh. "Baik, Bu."

Di kursi belakang yang luas, jarak di antara mereka kini terasa berbeda setelah insiden di lobi tadi. Ada sebuah ketegangan tak kasat mata yang mulai merayap di antara mereka berdua. Nadia menatap keluar jendela kaca yang berembun, sementara Andra duduk dengan tenang di sisi lain, menggenggam tas kerjanya.

Tanpa mereka sadari, retakan pada dinding pembatas profesional di antara asisten dari desa dan bos wanita kota itu baru saja membesar, dan jalan yang mereka tempuh setelah ini tidak akan pernah sama lagi.

Episodes
1 Bab 1 : Tiket Sekali Jalan
2 Bab 2 : Langkah Pertama
3 Bab 3: Tatapan Pertama
4 Bab 4: Meja Depan dan Dunia Baru
5 Bab 5: Pertemuan Sore dan Sisi yang Rapuh
6 Bab 6: Perjalanan Pulang dan Pengakuan yang Terpaut
7 Bab 7: Lembur Pertama dan Ruang yang Menyempit
8 Bab 8: Batas yang Mengabur
9 Bab 9: Pilihan di Ambang Batas
10 Bab 10: Hari Penentuan dan Sinyal yang Berubah
11 Bab 11: Bekal dan Meja yang Sama
12 Bab 12: Pertemuan yang Tak Terduga
13 Bab 13: Cermin yang Retak
14 Bab 14: Jarak yang Sengaja Diciptakan
15 Bab 15: Surat dari Kampung dan Pertahanan yang Goyah
16 Bab 16: Badai di Balik Pintu
17 Bab 17: Mengejar Waktu di Aspal Ibu Kota
18 Bab 18: Tatapan yang Berbeda di Lantai 22
19 Bab 19: Percikan Baru di Tengah Badai
20 Bab 20: Sarapan Pagi dan Perhatian yang Memperat
21 Bab 21: Undangan di Luar Jam Kantor
22 Bab 22: Setelan Jas di Menteng dan Sentuhan yang Berbeda
23 Bab 23: Malam di Hotel Mulia
24 Bab 24: Keputusan di Bawah Guyuran Hujan
25 Bab 25: Pagi yang Berbeda
26 Bab 26: Topeng
27 Bab 27: Ruangan Baru dan Isyarat
28 Bab 28: Tegangan yang Mulai Memanas
29 Bab 29: Pertemuan di Menara
30 Bab 30: Dokumen yang Sah dan Tatapan Curiga
31 Bab 31: Perangkap di Balik Tirai Malam
32 Bab 32: Sisa Kehangatan dan Isyarat yang Terbelah
33 Bab 33: Konfrontasi di Ruang Pleno
34 Bab 34: Pelarian di Ruang yang Terkunci
35 Bab 35: Fondasi yang Mengakar
36 Bab 36: Jerat di Lantai Dua Puluh Dua
37 Bab 37: Puing-Puing Rasa Bersalah
38 Bab 38: Retakan
39 Bab 39: Kilatan Dendam dari Bali
40 Bab 40: Sudut Sempit Koridor Kekuasaan
41 Bab 41: Persidangan
42 Bab 42: Pilihan yang Sulit
43 Bab 43: Tumbal di Atas Meja
44 BAB 44: Rencana di tengah badai
45 BAB 45: Pertemuan yang telah diatur
46 BAB 46: Udangan Valerin
47 BAB 47: Pelukan Keputusasaan
48 BAB 48: penghianatan Dibalik Topeng Kesetiaan
49 BAB 49: Di Antara Dua Api
50 BAB 50: Down Payment
51 BAB 51: Misi Bunuh Diri
52 BAB 52: Murka dan Perpisahan
53 BAB 53: kemenangan yang hampa
54 BAB 54 – Satu Tahun Kemudian
55 BAB 55 – Suntikan Dana
56 BAB 56 – Pertemuan dengan Alya
57 BAB 57 – Permintaan yang Vulgar
58 BAB 58 – Dominasi
59 BAB 59 – KONTRAK DI ATAS DOSA
60 BAB 60 – SANGKAR EMAS YANG PECAH
61 BAB 61 – ANCAMAN DARI SANG RAKSASA
62 BAB 62 – PILIHAN YANG SULIT
63 BAB 63 – PERUBAHAN DI BALIK DINDING KAMAR
64 BAB 64 – PERMAINAN
65 BAB 65 – GAIRAH ALYA
66 BAB 66 – DIBALIK KEKUASAAN
67 BAB 67 – DUA SISI
68 BAB 68 – AMBISI YANG BERTABRAKAN
69 BAB 69 – STRATEGI
70 BAB 70 – PELEPASAN HASRAT SANG PENGUASA MEDIA
71 BAB 71 – PAPAN CATUR
72 BAB 72 – RENCANA SABOTASE DAN GERAKAN UTUSAN GELAP
73 BAB 73 – JALAN BERDARAH
74 BAB 74 – RETAKAN DI BALIK BALUTAN LUKA
75 BAB 75 – NAFSU DAN BALUTAN LUKA
76 BAB 76 – BENIH-BENIH YANG TUMBUH
77 BAB 77 – PERTARUHAN
78 BAB 78 – MAKAN MALAM PRIVAT
79 BAB 79 – BADAI DI MENARA
80 BAB 80 – PENJARA DI BALIK KEMENANGAN
81 BAB 81 – AMBISI YANG BANGKIT
82 BAB 82 – PERANG DUA SAUDARI
83 BAB 83 – PENGHIANATAN SANG ADIK
Episodes

Updated 83 Episodes

1
Bab 1 : Tiket Sekali Jalan
2
Bab 2 : Langkah Pertama
3
Bab 3: Tatapan Pertama
4
Bab 4: Meja Depan dan Dunia Baru
5
Bab 5: Pertemuan Sore dan Sisi yang Rapuh
6
Bab 6: Perjalanan Pulang dan Pengakuan yang Terpaut
7
Bab 7: Lembur Pertama dan Ruang yang Menyempit
8
Bab 8: Batas yang Mengabur
9
Bab 9: Pilihan di Ambang Batas
10
Bab 10: Hari Penentuan dan Sinyal yang Berubah
11
Bab 11: Bekal dan Meja yang Sama
12
Bab 12: Pertemuan yang Tak Terduga
13
Bab 13: Cermin yang Retak
14
Bab 14: Jarak yang Sengaja Diciptakan
15
Bab 15: Surat dari Kampung dan Pertahanan yang Goyah
16
Bab 16: Badai di Balik Pintu
17
Bab 17: Mengejar Waktu di Aspal Ibu Kota
18
Bab 18: Tatapan yang Berbeda di Lantai 22
19
Bab 19: Percikan Baru di Tengah Badai
20
Bab 20: Sarapan Pagi dan Perhatian yang Memperat
21
Bab 21: Undangan di Luar Jam Kantor
22
Bab 22: Setelan Jas di Menteng dan Sentuhan yang Berbeda
23
Bab 23: Malam di Hotel Mulia
24
Bab 24: Keputusan di Bawah Guyuran Hujan
25
Bab 25: Pagi yang Berbeda
26
Bab 26: Topeng
27
Bab 27: Ruangan Baru dan Isyarat
28
Bab 28: Tegangan yang Mulai Memanas
29
Bab 29: Pertemuan di Menara
30
Bab 30: Dokumen yang Sah dan Tatapan Curiga
31
Bab 31: Perangkap di Balik Tirai Malam
32
Bab 32: Sisa Kehangatan dan Isyarat yang Terbelah
33
Bab 33: Konfrontasi di Ruang Pleno
34
Bab 34: Pelarian di Ruang yang Terkunci
35
Bab 35: Fondasi yang Mengakar
36
Bab 36: Jerat di Lantai Dua Puluh Dua
37
Bab 37: Puing-Puing Rasa Bersalah
38
Bab 38: Retakan
39
Bab 39: Kilatan Dendam dari Bali
40
Bab 40: Sudut Sempit Koridor Kekuasaan
41
Bab 41: Persidangan
42
Bab 42: Pilihan yang Sulit
43
Bab 43: Tumbal di Atas Meja
44
BAB 44: Rencana di tengah badai
45
BAB 45: Pertemuan yang telah diatur
46
BAB 46: Udangan Valerin
47
BAB 47: Pelukan Keputusasaan
48
BAB 48: penghianatan Dibalik Topeng Kesetiaan
49
BAB 49: Di Antara Dua Api
50
BAB 50: Down Payment
51
BAB 51: Misi Bunuh Diri
52
BAB 52: Murka dan Perpisahan
53
BAB 53: kemenangan yang hampa
54
BAB 54 – Satu Tahun Kemudian
55
BAB 55 – Suntikan Dana
56
BAB 56 – Pertemuan dengan Alya
57
BAB 57 – Permintaan yang Vulgar
58
BAB 58 – Dominasi
59
BAB 59 – KONTRAK DI ATAS DOSA
60
BAB 60 – SANGKAR EMAS YANG PECAH
61
BAB 61 – ANCAMAN DARI SANG RAKSASA
62
BAB 62 – PILIHAN YANG SULIT
63
BAB 63 – PERUBAHAN DI BALIK DINDING KAMAR
64
BAB 64 – PERMAINAN
65
BAB 65 – GAIRAH ALYA
66
BAB 66 – DIBALIK KEKUASAAN
67
BAB 67 – DUA SISI
68
BAB 68 – AMBISI YANG BERTABRAKAN
69
BAB 69 – STRATEGI
70
BAB 70 – PELEPASAN HASRAT SANG PENGUASA MEDIA
71
BAB 71 – PAPAN CATUR
72
BAB 72 – RENCANA SABOTASE DAN GERAKAN UTUSAN GELAP
73
BAB 73 – JALAN BERDARAH
74
BAB 74 – RETAKAN DI BALIK BALUTAN LUKA
75
BAB 75 – NAFSU DAN BALUTAN LUKA
76
BAB 76 – BENIH-BENIH YANG TUMBUH
77
BAB 77 – PERTARUHAN
78
BAB 78 – MAKAN MALAM PRIVAT
79
BAB 79 – BADAI DI MENARA
80
BAB 80 – PENJARA DI BALIK KEMENANGAN
81
BAB 81 – AMBISI YANG BANGKIT
82
BAB 82 – PERANG DUA SAUDARI
83
BAB 83 – PENGHIANATAN SANG ADIK

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!