Bab 4: Meja Depan dan Dunia Baru

Pukul tujuh lewat empat puluh lima menit pagi, Andra sudah berdiri di koridor lantai 17 gedung Apex Media. Hari ini, ia tidak lagi mengenakan kemeja putih lungsuran yang tipis. Kemarin sore, setelah menerima kabar bahwa ia diterima bekerja, Mas Joko langsung mengantarnya ke pasar malam di dekat kontrakan untuk membeli dua lembar kemeja baru dan sebuah celana bahan hitam yang pas di tubuhnya. Meskipun bukan pakaian bermerek mahal, potongan kemeja biru muda yang melekat erat di tubuh tegapnya justru membuat proporsi badannya yang atletis tampak semakin menonjol.

Andra melangkah menuju sebuah meja kayu minimalis yang terletak tepat di sebelah pintu kaca ruang kerja Nadia. Di atas meja itu sudah tertata rapi sebuah komputer monitor tipis, telepon kabel dengan banyak tombol, seikat dokumen di dalam keranjang surat, dan sebuah papan nama kecil berbahan akrilik bertuliskan: Andra - Staf Administrasi Proyek.

"Pagi, Andra! Sudah siap tempur?"

Suara ceria itu berasal dari Citra, sekretaris tim kreatif yang mejanya berada tak jauh dari sana. Citra berjalan mendekat sambil membawa segelas es kopi susu, matanya sedikit tertahan menatap Andra. Harus diakui, penampilan Andra pagi ini sangat menyegarkan mata para karyawan wanita di lantai itu. Ketampanan alaminya yang bersih tanpa riasan tebal membuat beberapa orang yang lewat di koridor curi-curi pandang.

"Pagi, Mbak Citra. Nggih, siap," jawab Andra ramah, lengkap dengan senyum tulus dan sedikit anggukan sopan khas orang desa.

Citra tertawa kecil mendengar logat Andra. "Santai saja, Ndra. Di sini panggilnya 'Kak' atau langsung nama juga tidak apa-apa kalau sesama staf. Oh iya, Ibu Nadia biasanya datang jam delapan tepat. Sebelum dia datang, tugas pertamamu adalah memastikan berkas laporan mingguan dari tim kreatif sudah ada di mejanya, dan jangan lupa buatkan kopi hitam tanpa gula, letakkan di kubikal kecil sebelah sana."

"Kopi hitam tanpa gula, Kak? Baik, laksanakan," Andra mencatat instruksi itu baik-baik di kepala dan buku catatan kecilnya.

Tepat pukul delapan kurang dua menit, denting lift eksekutif berbunyi. Andra langsung berdiri tegak di samping mejanya. Dari kejauhan, sosok Nadia berjalan dengan langkah ritmis yang tegas. Sepatu hak tingginya berketuk konstan di atas lantai semen ekspos. Pagi ini ia mengenakan setelan celana dan blazer berwarna abu-abu arang, dipadukan dengan kemeja sutra putih di dalamnya. Wajahnya tampak segar dengan riasan *flawless*, seolah ketegangan dan kerapuhan yang terjadi bersama suaminya kemarin tidak pernah ada.

"Selamat pagi, Bu Nadia," sapa Andra membungkuk hormat saat wanita itu melintas di depan mejanya.

Nadia menghentikan langkahnya sejenak. Ia menatap Andra dari bawah ke atas, memperhatikan kemeja baru pemuda itu yang rapi. Aroma sabun batangan yang bersih dan segar tercium samar dari tubuh Andra, menggantikan aroma parfum pria kota yang biasanya terlalu menyengat di hidung Nadia.

"Selamat pagi, Andra. Laporan dari tim kreatif sudah siap?" tanya Nadia, suaranya terdengar dingin namun profesional.

"Sudah saya letakkan di meja Ibu, bersama kopi hitam hangatnya," jawab Andra sigap.

Nadia menaikkan sebelah alisnya, sedikit terkejut dengan kecepatan kerja asisten barunya. "Bagus. Lima belas menit lagi, masuk ke ruangan saya membawa agenda mingguan. Kita perlu menyinkronkan jadwal pertemuan dengan beberapa klien besar."

"Baik, Bu."

Pintu kaca ruangan Nadia tertutup kembali. Andra menarik napas panjang, merasa lega karena tugas pertamanya berjalan lancar. Ia segera duduk di kursinya, membuka komputer, dan mulai mempelajari sistem penjadwalan digital Apex Media dengan tekun. Baginya, setiap tombol dan aplikasi di layar ini adalah ilmu baru yang harus ia kuasai secepat mungkin agar tidak mengecewakan wanita di dalam sana.

Lima belas menit berlalu dengan cepat. Andra mengetuk pintu kayu ruangan Nadia dua kali, lalu melangkah masuk setelah mendengar suara izinan dari dalam.

Nadia sedang duduk di kursi kebesarannya, menyesap kopi hitam buatan Andra. Begitu Andra duduk di hadapannya, Nadia meletakkan cangkir porselennya.

"Kopi buatanmu pas. Tidak terlalu encer," puji Nadia tipis, hampir tak kentara. Namun bagi Andra, itu adalah suntikan semangat yang luar biasa.

"Terima kasih, Bu. Ibu saya di rumah sering membuatkan jamu dan kopi untuk almarhum bapak, jadi saya sedikit banyak belajar cara menakar air panasnya," jawab Andra jujur, tanpa maksud mencari perhatian.

Nadia terdiam sejenak mendengar jawaban itu. Kehidupan domestik yang hangat seperti yang diceritakan Andra terasa sangat asing baginya. Di rumahnya sendiri, dapur adalah tempat yang mati. Tidak ada aroma kopi buatan istri, tidak ada teh hangat di sore hari; yang ada hanyalah pelayan yang menyiapkan makanan instan atau katering sehat yang dipesan secara daring.

"Baik, mari kita mulai," Nadia berdehem, membuka sebuah map besar. "Minggu ini Apex Media sedang berkompetisi memperebutkan proyek kampanye iklan terbesar dari sebuah perusahaan kosmetik multinasional. Nilai proyeknya sangat besar, dan tim saya yang memimpin pitching ini. Jadwal saya akan sangat padat. Sore ini jam empat, saya ada janji temu dengan direktur pemasaran mereka di restoran hotel Grand Hyatt."

Nadia menatap Andra dengan tatapan menyelidik. "Asisten saya yang sebelumnya biasanya ikut untuk mencatat poin-poin penting dan menyiapkan materi presentasi di tablet. Apa kamu sudah paham cara mengoperasikan aplikasi presentasi yang saya kirim tadi pagi?"

Andra mengangguk mantap. "Sudah, Bu. Tadi Kak Citra juga sempat membantu saya mengulas poin-poinnya. Saya sudah mengunduh materi dokumennya dan siap mencatat semua arahan Ibu nanti sore."

Nadia tersenyum tipis, kali ini senyumannya terlihat sedikit lebih rileks. "Bagus. Kamu ternyata cepat belajar, Andra."

Namun, ketenangan di ruangan itu kembali terusik ketika ponsel di atas meja Nadia bergetar lama. Di layarnya muncul nama suaminya. Senyum tipis di wajah Nadia seketika lenyap, digantikan oleh kerutan dalam di dahi dan tatapan yang kembali mendingin.

Nadia menggeser tombol hijau, lalu mendekatkan ponsel ke telinganya. "Ya, Mas?"

Suara dari seberang telepon terdengar cukup keras di ruangan yang hening itu, bahkan Andra bisa mendengar samar-samar nada bicara pria itu yang ketus. "Nadia, sekretarisku bilang kamu belum mengirimkan dokumen persetujuan aset rumah yang di Pondok Indah. Tolong segera diurus, investor mau melihat kejelasan statusnya besok siang."

Nadia memijat pelipisnya yang mulai terasa berdenyut nyeri. "Mas, aset itu atas nama bersama. Bisakah kita bicarakan dulu akhir pekan ini saat kamu pulang dari Bali? Aku sedang sibuk mempersiapkan *pitching* besar untuk Apex."

Aku tidak punya waktu untuk berdebat, Nadia. Bisnis tidak bisa menunggu akhir pekanmu. Kirimkan saja dokumennya lewat kurir hari ini. Sudah ya, aku harus masuk ke ruang rapat, klik. Sambungan diputus secara sepihak.

Nadia perlahan menurunkan ponselnya. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, menatap langit-langit ruangan dengan tatapan mata yang kosong dan terluka. Di puncak kariernya yang gemilang sebagai pemimpin di Apex Media, di mana semua bawahannya menghormati dan tunduk pada perintahnya, di dalam hubungan pernikahannya sendiri ia tak lebih dari sekadar rekanan logistik yang bisa diperintah kapan saja. Kesepian dan rasa lelah yang ia sembunyikan rapat-rapat di balik riasan wajahnya seolah menguar ke seluruh penjuru ruangan.

Andra diam membisu. Seperti hari kemarin, ia langsung menundukkan kepalanya, menatap jemarinya sendiri yang bertumpu di lutut. Ia merasa iba, sekaligus menyadari betapa malangnya wanita cantik di hadapannya ini. Di desa, seorang suami akan pulang ke rumah dengan senyuman, menyantap masakan istri dengan lahap walau hanya dengan lauk tahu dan tempe. Namun di sini, di atas lantai 17 gedung mewah ini, uang yang berlimpah ternyata tidak mampu membeli secuil rasa hormat dan kasih sayang yang tulus.

"Andra," panggil Nadia pelan, suaranya terdengar sedikit bergetar, kehilangan ketegasan formalnya untuk beberapa detik.

Andra mengangkat kepalanya perlahan, menatap mata Nadia dengan pandangan yang sangat teduh dan penuh empati. "Nggih, Bu?"

Nadia menatap sepasang mata hitam itu. Di sana, ia tidak menemukan kilat penghakiman, tidak ada rasa penasaran yang usil, yang ada hanyalah sebuah ketulusan dan ketenangan yang entah bagaimana, membuat dadanya yang sesak perlahan-lahan terasa sedikit lebih ringan.

"Tolong... carikan dokumen aset Pondok Indah di lemari arsip belakang. Setelah itu, siapkan berkasnya untuk dikirim," ujar Nadia lirih, mengalihkan pandangannya ke jendela luar yang mulai diguyur mendung kota Jakarta.

"Baik, Bu Nadia. Segera saya siapkan. Ibu tidak perlu khawatir," jawab Andra dengan nada suara yang sangat lembut, seolah ingin meyakinkan wanita itu bahwa di tengah kerasnya dunia tempatnya berpijak, setidaknya ada satu orang di ruangan ini yang bisa ia percayai dengan aman.

Episodes
1 Bab 1 : Tiket Sekali Jalan
2 Bab 2 : Langkah Pertama
3 Bab 3: Tatapan Pertama
4 Bab 4: Meja Depan dan Dunia Baru
5 Bab 5: Pertemuan Sore dan Sisi yang Rapuh
6 Bab 6: Perjalanan Pulang dan Pengakuan yang Terpaut
7 Bab 7: Lembur Pertama dan Ruang yang Menyempit
8 Bab 8: Batas yang Mengabur
9 Bab 9: Pilihan di Ambang Batas
10 Bab 10: Hari Penentuan dan Sinyal yang Berubah
11 Bab 11: Bekal dan Meja yang Sama
12 Bab 12: Pertemuan yang Tak Terduga
13 Bab 13: Cermin yang Retak
14 Bab 14: Jarak yang Sengaja Diciptakan
15 Bab 15: Surat dari Kampung dan Pertahanan yang Goyah
16 Bab 16: Badai di Balik Pintu
17 Bab 17: Mengejar Waktu di Aspal Ibu Kota
18 Bab 18: Tatapan yang Berbeda di Lantai 22
19 Bab 19: Percikan Baru di Tengah Badai
20 Bab 20: Sarapan Pagi dan Perhatian yang Memperat
21 Bab 21: Undangan di Luar Jam Kantor
22 Bab 22: Setelan Jas di Menteng dan Sentuhan yang Berbeda
23 Bab 23: Malam di Hotel Mulia
24 Bab 24: Keputusan di Bawah Guyuran Hujan
25 Bab 25: Pagi yang Berbeda
26 Bab 26: Topeng
27 Bab 27: Ruangan Baru dan Isyarat
28 Bab 28: Tegangan yang Mulai Memanas
29 Bab 29: Pertemuan di Menara
30 Bab 30: Dokumen yang Sah dan Tatapan Curiga
31 Bab 31: Perangkap di Balik Tirai Malam
32 Bab 32: Sisa Kehangatan dan Isyarat yang Terbelah
33 Bab 33: Konfrontasi di Ruang Pleno
34 Bab 34: Pelarian di Ruang yang Terkunci
35 Bab 35: Fondasi yang Mengakar
36 Bab 36: Jerat di Lantai Dua Puluh Dua
37 Bab 37: Puing-Puing Rasa Bersalah
38 Bab 38: Retakan
39 Bab 39: Kilatan Dendam dari Bali
40 Bab 40: Sudut Sempit Koridor Kekuasaan
41 Bab 41: Persidangan
42 Bab 42: Pilihan yang Sulit
43 Bab 43: Tumbal di Atas Meja
44 BAB 44: Rencana di tengah badai
45 BAB 45: Pertemuan yang telah diatur
46 BAB 46: Udangan Valerin
47 BAB 47: Pelukan Keputusasaan
48 BAB 48: penghianatan Dibalik Topeng Kesetiaan
49 BAB 49: Di Antara Dua Api
50 BAB 50: Down Payment
51 BAB 51: Misi Bunuh Diri
52 BAB 52: Murka dan Perpisahan
53 BAB 53: kemenangan yang hampa
54 BAB 54 – Satu Tahun Kemudian
55 BAB 55 – Suntikan Dana
56 BAB 56 – Pertemuan dengan Alya
57 BAB 57 – Permintaan yang Vulgar
58 BAB 58 – Dominasi
59 BAB 59 – KONTRAK DI ATAS DOSA
60 BAB 60 – SANGKAR EMAS YANG PECAH
61 BAB 61 – ANCAMAN DARI SANG RAKSASA
62 BAB 62 – PILIHAN YANG SULIT
63 BAB 63 – PERUBAHAN DI BALIK DINDING KAMAR
64 BAB 64 – PERMAINAN
65 BAB 65 – GAIRAH ALYA
66 BAB 66 – DIBALIK KEKUASAAN
67 BAB 67 – DUA SISI
68 BAB 68 – AMBISI YANG BERTABRAKAN
69 BAB 69 – STRATEGI
70 BAB 70 – PELEPASAN HASRAT SANG PENGUASA MEDIA
71 BAB 71 – PAPAN CATUR
72 BAB 72 – RENCANA SABOTASE DAN GERAKAN UTUSAN GELAP
73 BAB 73 – JALAN BERDARAH
74 BAB 74 – RETAKAN DI BALIK BALUTAN LUKA
75 BAB 75 – NAFSU DAN BALUTAN LUKA
76 BAB 76 – BENIH-BENIH YANG TUMBUH
77 BAB 77 – PERTARUHAN
78 BAB 78 – MAKAN MALAM PRIVAT
79 BAB 79 – BADAI DI MENARA
80 BAB 80 – PENJARA DI BALIK KEMENANGAN
81 BAB 81 – AMBISI YANG BANGKIT
82 BAB 82 – PERANG DUA SAUDARI
83 BAB 83 – PENGHIANATAN SANG ADIK
Episodes

Updated 83 Episodes

1
Bab 1 : Tiket Sekali Jalan
2
Bab 2 : Langkah Pertama
3
Bab 3: Tatapan Pertama
4
Bab 4: Meja Depan dan Dunia Baru
5
Bab 5: Pertemuan Sore dan Sisi yang Rapuh
6
Bab 6: Perjalanan Pulang dan Pengakuan yang Terpaut
7
Bab 7: Lembur Pertama dan Ruang yang Menyempit
8
Bab 8: Batas yang Mengabur
9
Bab 9: Pilihan di Ambang Batas
10
Bab 10: Hari Penentuan dan Sinyal yang Berubah
11
Bab 11: Bekal dan Meja yang Sama
12
Bab 12: Pertemuan yang Tak Terduga
13
Bab 13: Cermin yang Retak
14
Bab 14: Jarak yang Sengaja Diciptakan
15
Bab 15: Surat dari Kampung dan Pertahanan yang Goyah
16
Bab 16: Badai di Balik Pintu
17
Bab 17: Mengejar Waktu di Aspal Ibu Kota
18
Bab 18: Tatapan yang Berbeda di Lantai 22
19
Bab 19: Percikan Baru di Tengah Badai
20
Bab 20: Sarapan Pagi dan Perhatian yang Memperat
21
Bab 21: Undangan di Luar Jam Kantor
22
Bab 22: Setelan Jas di Menteng dan Sentuhan yang Berbeda
23
Bab 23: Malam di Hotel Mulia
24
Bab 24: Keputusan di Bawah Guyuran Hujan
25
Bab 25: Pagi yang Berbeda
26
Bab 26: Topeng
27
Bab 27: Ruangan Baru dan Isyarat
28
Bab 28: Tegangan yang Mulai Memanas
29
Bab 29: Pertemuan di Menara
30
Bab 30: Dokumen yang Sah dan Tatapan Curiga
31
Bab 31: Perangkap di Balik Tirai Malam
32
Bab 32: Sisa Kehangatan dan Isyarat yang Terbelah
33
Bab 33: Konfrontasi di Ruang Pleno
34
Bab 34: Pelarian di Ruang yang Terkunci
35
Bab 35: Fondasi yang Mengakar
36
Bab 36: Jerat di Lantai Dua Puluh Dua
37
Bab 37: Puing-Puing Rasa Bersalah
38
Bab 38: Retakan
39
Bab 39: Kilatan Dendam dari Bali
40
Bab 40: Sudut Sempit Koridor Kekuasaan
41
Bab 41: Persidangan
42
Bab 42: Pilihan yang Sulit
43
Bab 43: Tumbal di Atas Meja
44
BAB 44: Rencana di tengah badai
45
BAB 45: Pertemuan yang telah diatur
46
BAB 46: Udangan Valerin
47
BAB 47: Pelukan Keputusasaan
48
BAB 48: penghianatan Dibalik Topeng Kesetiaan
49
BAB 49: Di Antara Dua Api
50
BAB 50: Down Payment
51
BAB 51: Misi Bunuh Diri
52
BAB 52: Murka dan Perpisahan
53
BAB 53: kemenangan yang hampa
54
BAB 54 – Satu Tahun Kemudian
55
BAB 55 – Suntikan Dana
56
BAB 56 – Pertemuan dengan Alya
57
BAB 57 – Permintaan yang Vulgar
58
BAB 58 – Dominasi
59
BAB 59 – KONTRAK DI ATAS DOSA
60
BAB 60 – SANGKAR EMAS YANG PECAH
61
BAB 61 – ANCAMAN DARI SANG RAKSASA
62
BAB 62 – PILIHAN YANG SULIT
63
BAB 63 – PERUBAHAN DI BALIK DINDING KAMAR
64
BAB 64 – PERMAINAN
65
BAB 65 – GAIRAH ALYA
66
BAB 66 – DIBALIK KEKUASAAN
67
BAB 67 – DUA SISI
68
BAB 68 – AMBISI YANG BERTABRAKAN
69
BAB 69 – STRATEGI
70
BAB 70 – PELEPASAN HASRAT SANG PENGUASA MEDIA
71
BAB 71 – PAPAN CATUR
72
BAB 72 – RENCANA SABOTASE DAN GERAKAN UTUSAN GELAP
73
BAB 73 – JALAN BERDARAH
74
BAB 74 – RETAKAN DI BALIK BALUTAN LUKA
75
BAB 75 – NAFSU DAN BALUTAN LUKA
76
BAB 76 – BENIH-BENIH YANG TUMBUH
77
BAB 77 – PERTARUHAN
78
BAB 78 – MAKAN MALAM PRIVAT
79
BAB 79 – BADAI DI MENARA
80
BAB 80 – PENJARA DI BALIK KEMENANGAN
81
BAB 81 – AMBISI YANG BANGKIT
82
BAB 82 – PERANG DUA SAUDARI
83
BAB 83 – PENGHIANATAN SANG ADIK

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!