Bab 3: Tatapan Pertama

Pintu kaca setinggi dua setengah meter itu bergeser terbuka dengan desis halus yang hampir tak terdengar. Andra melangkah masuk, membiarkan sepatu pantofelnya tenggelam sedikit di atas karpet beludru abu-abu tebal yang melapisi seluruh lantai ruangan. Aroma ruangan itu langsung menyergap indra penciumannya—perpaduan antara wangi aromaterapi melati yang menenangkan dan keharuman kopi hitam yang pekat dan mahal.

Di seberang ruangan, sebuah meja kerja dari kayu jati solid berukuran masif mendominasi pemandangan. Di balik meja itu, duduk seorang wanita yang sedang menatap layar laptop tipisnya dengan kening sedikit berkerut.

Wanita itu adalah Nadia.

Sebagai *Managing Director* di Apex Media, Nadia adalah definisi nyata dari wanita karier modern yang sukses. Di usianya yang menginjak tiga puluh dua tahun, penampilannya begitu anggun dan matang. Kulitnya putih bersih, kontras dengan blazer formal berwarna *navy blue* potongan pas badan yang ia kenakan. Rambut hitamnya disanggul rapi ke atas, menyisakan beberapa helai halus yang membingkai leher jenjangnya. Ia memancarkan aura otoritas yang begitu kuat, tipe pemimpin yang akan membuat siapapun berpikir dua kali sebelum membantah perintahnya. Namun, jika seseorang jeli melihat di balik maskara dan riasan matanya yang tajam, ada gurat keletihan yang teramat sangat di sana. Keletihan yang bukan hanya berasal dari kurang tidur.

"Silakan duduk," ujar Nadia tanpa mengangkat wajahnya dari layar. Suaranya jernih, bernada bariton rendah yang profesional.

"Terima kasih, Bu," jawab Andra pelan namun tegas. Ia melangkah mendekat dan mengambil tempat di salah satu kursi kulit di depan meja kerja tersebut. Posisi duduknya tegak, kedua tangannya bertumpu dengan sopan di atas lutut, memegang map cokelat kusam miliknya.

Nadia membubuhkan tanda tangan digital di laptopnya, menutup layar tersebut perlahan, lalu mengangkat pandangannya untuk menatap calon asisten administrasi barunya.

Detik itu juga, gerakan Nadia tertahan sejenak.

Di industri periklanan sekalas Apex Media, Nadia sudah terbiasa berhadapan dengan pria-pria berparas rupawan. Setiap minggu ia bertemu dengan model papan atas, aktor iklan berwajah blasteran, hingga eksekutif muda yang wangi parfumnya tercium dari jarak lima meter. Namun, pria-pria itu biasanya memiliki satu kesamaan: tatapan mata mereka selalu dipenuhi intrik, penuh kalkulasi, manipulatif, atau terlalu narsis karena sadar akan ketampanan mereka sendiri.

Tetapi pemuda di hadapannya saat ini berbeda. Andra memiliki ketampanan yang sangat murni dan bersahaja. Garis rahangnya kokoh, kulit sawo matangnya bersih, dan postur tubuhnya yang tegap terbalut kemeja putih murah itu justru memberikan kesan karismatik yang jantan. Yang paling membuat Nadia tertegun adalah sepasang matanya. Mata hitam Andra begitu teduh, jernih, dan memancarkan kejujuran yang murni tanpa kepalsuan—sesuatu yang sudah bertahun-tahun tidak pernah Nadia temui di belantara Jakarta.

Nadia berdehem kecil, buru-buru menguasai diri dan kembali ke sikap profesionalnya. Ia menarik map dokumen pelamar yang sudah disiapkan oleh tim HRD.

"Andra, benar?" tanya Nadia, matanya membaca baris demi baris riwayat hidup Andra. "Saya sudah membaca penilaian dari HRD dan catatan dari tim sekuriti. Kamu lulusan SMK Administrasi dari daerah dan punya nilai yang cukup bagus. Tapi, saya harus memperingatkanmu sejak awal. Apex Media adalah agensi besar. Tekanan di sini sangat tinggi, jam kerja tidak menentu, dan kamu harus siap bergerak cepat. Apa kamu sanggup?"

Andra menatap mata Nadia dengan lurus, tidak ada keraguan di sana, melainkan rasa hormat dan kesungguhan yang mendalam. "Saya sanggup, Bu Nadia. Saya datang ke Jakarta memang untuk bekerja keras. Apapun tugas yang Ibu berikan, akan saya kerjakan dengan jujur dan sebaik-baiknya. Saya butuh pekerjaan ini untuk membiayai pengobatan ibu saya dan sekolah adik saya di desa. Saya tidak takut lelah."

Mendengar kata "ibu" dan "adik", sekeping dinding es di hati Nadia rasanya sedikit terkikis. Di kota tempat semua orang saling sikut demi mengejar jabatan, bonus besar, dan gaya hidup mewah, pemuda di hadapannya ini justru menawarkan keringatnya demi alasan yang paling mendasar: keluarga. Ketulusan suara Andra beresonansi dengan rasa hampa yang selama ini terkunci rapat di dada Nadia.

Tepat ketika Nadia membuka mulutnya untuk memberikan keputusan, daun pintu kayu di samping ruangan terbuka dengan sentakan kasar tanpa ada ketukan terlebih dahulu. Langkah kaki yang berat dan tergesa-gesa terdengar masuk, memecah keheningan ruangan intim tersebut.

Seorang pria berbadan tegap dengan setelan jas desainer mahal masuk sambil menempelkan ponsel di telinganya. Wajahnya tampak gusar, alisnya bertaut rapat.

Pria itu adalah suami Nadia.

"Aku tidak mau tahu! Urusan pembebasan lahan di Serpong itu harus selesai minggu ini. Kalau mereka minta naik harga, batalkan saja!" bentak suami Nadia ke arah telepon, mengabaikan keberadaan Andra sepenuhnya seolah pemuda itu hanya dekorasi ruangan yang tak kasat mata.

Pria itu mematikan sambungan teleponnya dengan kasar, lalu berjalan mendekati meja kerja Nadia. Tanpa melihat istrinya, ia melempar sebuah map dokumen tebal ke atas meja hingga menimbulkan suara debukan yang keras.

"Tanda tangani ini sekarang. Aku harus langsung ke bandara, ada penerbangan ke Bali sampai akhir pekan untuk urusan proyek resort baru," ucap suaminya dengan nada memerintah, dingin, dan tanpa kehangatan sedikit pun.

Nadia menatap map tersebut, lalu beralih menatap suaminya dengan pandangan yang perlahan meredup, berubah menjadi dingin dan kaku. "Kamu baru pulang dari Surabaya dua hari lalu, dan sekarang ke Bali lagi? Kita bahkan belum sempat bicara soal urusan rumah kita, Mas."

"Ini bisnis, Nadia! Kamu sendiri yang selalu bilang kita harus profesional dengan karier masing-masing, kan? Sudahlah, jangan kekanak-kanakan. Aku buru-buru," sahut suaminya acuh tak acuh. Setelah Nadia membubuhkan tanda tangan dengan tangan yang sedikit gemetar, pria itu menyambar map tersebut, berbalik badan, dan melangkah keluar begitu saja tanpa mengucapkan satu kata pamit pun yang layak untuk seorang istri.

Pintu tertutup kembali dengan dentuman pelan yang menggema di dalam ruangan.

Suasana seketika membeku. Keheningan yang tercipta kali ini terasa begitu kaku, canggung, dan menyakitkan. Nadia memejamkan matanya rapat-rapat, jemarinya mengepal kuat di atas meja kerja yang dingin. Harga dirinya sebagai seorang wanita dan pimpinan perusahaan rasanya luruh seketika di hadapan calon karyawan barunya sendiri. Ia merasa sangat terhina karena kehidupan pernikahannya yang hancur dipamerkan begitu saja. Air mata rasanya mendesak ingin keluar di sudut kelopak matanya, namun ia tahan dengan sisa-sisa harga diri yang ia miliki.

Di seberang meja, Andra melakukan hal yang membuat Nadia terkesan. Pemuda itu tidak mencuri pandang penuh rasa ingin tahu, tidak juga menunjukkan ekspresi kasihan yang merendahkan. Sejak suami Nadia masuk hingga pergi, Andra dengan sopan langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap ujung sepatunya sendiri. Ia sengaja berpura-pura tidak mendengar dan tidak melihat apa-apa, sebuah sikap santun yang ia lakukan untuk menjaga kehormatan dan harga diri bos wanitanya.

Melihat sikap Andra yang begitu peka dan menjaga batasan diri, Nadia menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan untuk menetralkan gemuruh di dadanya. Rasa hormatnya pada pemuda desa ini langsung melonjak naik.

Nadia merapikan blazernya, mencoba tersenyum tipis meskipun matanya masih menyiratkan luka yang basah. "Maaf atas ketidaknyamanan tadi, Andra."

"Tidak apa-apa, Bu," jawab Andra lembut, tetap menjaga pandangannya agar tidak terlalu lancang menatap wajah rapuh Nadia.

Nadia menutup map dokumen Andra, lalu mengetuknya sekali dengan pulpen mahal miliknya. "Baik, Andra. Kamu diterima kerja di sini sebagai asisten administrasi pribadi untuk divisi saya. Mulai besok pagi jam delapan, kamu sudah harus ada di meja depan ruangan ini. Tolong jaga profesionalisme, dan jangan kecewakan saya."

Andra langsung mengangkat kepalanya, sepasang mata hitamnya berbinar penuh rasa syukur yang tak terhingga. Sebuah senyuman tampan yang sangat tulus terkembang di wajahnya. "Baik, Bu Nadia! Terima kasih banyak atas kesempatan ini. Saya berjanji akan bekerja sebaik mungkin dan tidak akan mengecewakan Ibu."

Saat Andra berdiri, membungkuk hormat, lalu melangkah keluar dari ruangan, Nadia menatap punggung tegap pemuda itu hingga hilang di balik pintu kaca. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup dalam kesepian di tengah gemerlapnya Jakarta, Nadia merasakan ada sebuah ketulusan yang baru saja masuk ke dalam hidupnya—sebuah ketulusan yang tanpa ia sadari, kelak akan menjadi godaan paling berbahaya bagi kedamaian batinnya.

Episodes
1 Bab 1 : Tiket Sekali Jalan
2 Bab 2 : Langkah Pertama
3 Bab 3: Tatapan Pertama
4 Bab 4: Meja Depan dan Dunia Baru
5 Bab 5: Pertemuan Sore dan Sisi yang Rapuh
6 Bab 6: Perjalanan Pulang dan Pengakuan yang Terpaut
7 Bab 7: Lembur Pertama dan Ruang yang Menyempit
8 Bab 8: Batas yang Mengabur
9 Bab 9: Pilihan di Ambang Batas
10 Bab 10: Hari Penentuan dan Sinyal yang Berubah
11 Bab 11: Bekal dan Meja yang Sama
12 Bab 12: Pertemuan yang Tak Terduga
13 Bab 13: Cermin yang Retak
14 Bab 14: Jarak yang Sengaja Diciptakan
15 Bab 15: Surat dari Kampung dan Pertahanan yang Goyah
16 Bab 16: Badai di Balik Pintu
17 Bab 17: Mengejar Waktu di Aspal Ibu Kota
18 Bab 18: Tatapan yang Berbeda di Lantai 22
19 Bab 19: Percikan Baru di Tengah Badai
20 Bab 20: Sarapan Pagi dan Perhatian yang Memperat
21 Bab 21: Undangan di Luar Jam Kantor
22 Bab 22: Setelan Jas di Menteng dan Sentuhan yang Berbeda
23 Bab 23: Malam di Hotel Mulia
24 Bab 24: Keputusan di Bawah Guyuran Hujan
25 Bab 25: Pagi yang Berbeda
26 Bab 26: Topeng
27 Bab 27: Ruangan Baru dan Isyarat
28 Bab 28: Tegangan yang Mulai Memanas
29 Bab 29: Pertemuan di Menara
30 Bab 30: Dokumen yang Sah dan Tatapan Curiga
31 Bab 31: Perangkap di Balik Tirai Malam
32 Bab 32: Sisa Kehangatan dan Isyarat yang Terbelah
33 Bab 33: Konfrontasi di Ruang Pleno
34 Bab 34: Pelarian di Ruang yang Terkunci
35 Bab 35: Fondasi yang Mengakar
36 Bab 36: Jerat di Lantai Dua Puluh Dua
37 Bab 37: Puing-Puing Rasa Bersalah
38 Bab 38: Retakan
39 Bab 39: Kilatan Dendam dari Bali
40 Bab 40: Sudut Sempit Koridor Kekuasaan
41 Bab 41: Persidangan
42 Bab 42: Pilihan yang Sulit
43 Bab 43: Tumbal di Atas Meja
44 BAB 44: Rencana di tengah badai
45 BAB 45: Pertemuan yang telah diatur
46 BAB 46: Udangan Valerin
47 BAB 47: Pelukan Keputusasaan
48 BAB 48: penghianatan Dibalik Topeng Kesetiaan
49 BAB 49: Di Antara Dua Api
50 BAB 50: Down Payment
51 BAB 51: Misi Bunuh Diri
52 BAB 52: Murka dan Perpisahan
53 BAB 53: kemenangan yang hampa
54 BAB 54 – Satu Tahun Kemudian
55 BAB 55 – Suntikan Dana
56 BAB 56 – Pertemuan dengan Alya
57 BAB 57 – Permintaan yang Vulgar
58 BAB 58 – Dominasi
59 BAB 59 – KONTRAK DI ATAS DOSA
60 BAB 60 – SANGKAR EMAS YANG PECAH
61 BAB 61 – ANCAMAN DARI SANG RAKSASA
62 BAB 62 – PILIHAN YANG SULIT
63 BAB 63 – PERUBAHAN DI BALIK DINDING KAMAR
64 BAB 64 – PERMAINAN
65 BAB 65 – GAIRAH ALYA
66 BAB 66 – DIBALIK KEKUASAAN
67 BAB 67 – DUA SISI
68 BAB 68 – AMBISI YANG BERTABRAKAN
69 BAB 69 – STRATEGI
70 BAB 70 – PELEPASAN HASRAT SANG PENGUASA MEDIA
71 BAB 71 – PAPAN CATUR
72 BAB 72 – RENCANA SABOTASE DAN GERAKAN UTUSAN GELAP
73 BAB 73 – JALAN BERDARAH
74 BAB 74 – RETAKAN DI BALIK BALUTAN LUKA
75 BAB 75 – NAFSU DAN BALUTAN LUKA
76 BAB 76 – BENIH-BENIH YANG TUMBUH
77 BAB 77 – PERTARUHAN
78 BAB 78 – MAKAN MALAM PRIVAT
79 BAB 79 – BADAI DI MENARA
80 BAB 80 – PENJARA DI BALIK KEMENANGAN
81 BAB 81 – AMBISI YANG BANGKIT
82 BAB 82 – PERANG DUA SAUDARI
83 BAB 83 – PENGHIANATAN SANG ADIK
Episodes

Updated 83 Episodes

1
Bab 1 : Tiket Sekali Jalan
2
Bab 2 : Langkah Pertama
3
Bab 3: Tatapan Pertama
4
Bab 4: Meja Depan dan Dunia Baru
5
Bab 5: Pertemuan Sore dan Sisi yang Rapuh
6
Bab 6: Perjalanan Pulang dan Pengakuan yang Terpaut
7
Bab 7: Lembur Pertama dan Ruang yang Menyempit
8
Bab 8: Batas yang Mengabur
9
Bab 9: Pilihan di Ambang Batas
10
Bab 10: Hari Penentuan dan Sinyal yang Berubah
11
Bab 11: Bekal dan Meja yang Sama
12
Bab 12: Pertemuan yang Tak Terduga
13
Bab 13: Cermin yang Retak
14
Bab 14: Jarak yang Sengaja Diciptakan
15
Bab 15: Surat dari Kampung dan Pertahanan yang Goyah
16
Bab 16: Badai di Balik Pintu
17
Bab 17: Mengejar Waktu di Aspal Ibu Kota
18
Bab 18: Tatapan yang Berbeda di Lantai 22
19
Bab 19: Percikan Baru di Tengah Badai
20
Bab 20: Sarapan Pagi dan Perhatian yang Memperat
21
Bab 21: Undangan di Luar Jam Kantor
22
Bab 22: Setelan Jas di Menteng dan Sentuhan yang Berbeda
23
Bab 23: Malam di Hotel Mulia
24
Bab 24: Keputusan di Bawah Guyuran Hujan
25
Bab 25: Pagi yang Berbeda
26
Bab 26: Topeng
27
Bab 27: Ruangan Baru dan Isyarat
28
Bab 28: Tegangan yang Mulai Memanas
29
Bab 29: Pertemuan di Menara
30
Bab 30: Dokumen yang Sah dan Tatapan Curiga
31
Bab 31: Perangkap di Balik Tirai Malam
32
Bab 32: Sisa Kehangatan dan Isyarat yang Terbelah
33
Bab 33: Konfrontasi di Ruang Pleno
34
Bab 34: Pelarian di Ruang yang Terkunci
35
Bab 35: Fondasi yang Mengakar
36
Bab 36: Jerat di Lantai Dua Puluh Dua
37
Bab 37: Puing-Puing Rasa Bersalah
38
Bab 38: Retakan
39
Bab 39: Kilatan Dendam dari Bali
40
Bab 40: Sudut Sempit Koridor Kekuasaan
41
Bab 41: Persidangan
42
Bab 42: Pilihan yang Sulit
43
Bab 43: Tumbal di Atas Meja
44
BAB 44: Rencana di tengah badai
45
BAB 45: Pertemuan yang telah diatur
46
BAB 46: Udangan Valerin
47
BAB 47: Pelukan Keputusasaan
48
BAB 48: penghianatan Dibalik Topeng Kesetiaan
49
BAB 49: Di Antara Dua Api
50
BAB 50: Down Payment
51
BAB 51: Misi Bunuh Diri
52
BAB 52: Murka dan Perpisahan
53
BAB 53: kemenangan yang hampa
54
BAB 54 – Satu Tahun Kemudian
55
BAB 55 – Suntikan Dana
56
BAB 56 – Pertemuan dengan Alya
57
BAB 57 – Permintaan yang Vulgar
58
BAB 58 – Dominasi
59
BAB 59 – KONTRAK DI ATAS DOSA
60
BAB 60 – SANGKAR EMAS YANG PECAH
61
BAB 61 – ANCAMAN DARI SANG RAKSASA
62
BAB 62 – PILIHAN YANG SULIT
63
BAB 63 – PERUBAHAN DI BALIK DINDING KAMAR
64
BAB 64 – PERMAINAN
65
BAB 65 – GAIRAH ALYA
66
BAB 66 – DIBALIK KEKUASAAN
67
BAB 67 – DUA SISI
68
BAB 68 – AMBISI YANG BERTABRAKAN
69
BAB 69 – STRATEGI
70
BAB 70 – PELEPASAN HASRAT SANG PENGUASA MEDIA
71
BAB 71 – PAPAN CATUR
72
BAB 72 – RENCANA SABOTASE DAN GERAKAN UTUSAN GELAP
73
BAB 73 – JALAN BERDARAH
74
BAB 74 – RETAKAN DI BALIK BALUTAN LUKA
75
BAB 75 – NAFSU DAN BALUTAN LUKA
76
BAB 76 – BENIH-BENIH YANG TUMBUH
77
BAB 77 – PERTARUHAN
78
BAB 78 – MAKAN MALAM PRIVAT
79
BAB 79 – BADAI DI MENARA
80
BAB 80 – PENJARA DI BALIK KEMENANGAN
81
BAB 81 – AMBISI YANG BANGKIT
82
BAB 82 – PERANG DUA SAUDARI
83
BAB 83 – PENGHIANATAN SANG ADIK

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!