AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan

AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan

Bab 1: Detik Terakhir dan Amanah yang Menghancurkan

"Hana… Arlan… mendekatlah."

Suara itu nyaris menyerupai desiran angin yang paling tipis, begitu rapuh hingga Hana harus menahan napas agar tidak melewatkan setiap ucapannya.

Hana melangkah maju dengan tungkai yang terasa seringan kapas sekaligus seberat timah. Di belakangnya, sang Mama meremas bahu Hana begitu kuat, seolah itu adalah satu-satunya jangkar yang menjaga mereka berdua agar tidak tenggelam dalam lautan duka di ruangan itu.

Di atas tempat tidur medis yang dingin, Bu Inggit, wanita yang selama ini menjadi kompas bagi bisnis dan hidup Hana, mengulurkan tangannya yang sepucat porselen. Ia tidak melirik sedikit pun pada kotak beludru berisi sampel hijab terbaru yang didekap Hana.

Dengan gerakan lambat yang menyakitkan, ia meraih jemari Hana, lalu menarik tangan suaminya, Pak Arlan, yang berdiri mematung layaknya monumen kesedihan di sisi lain ranjang.

Di tengah bunyi monitor jantung yang mendesis teratur dan aroma disinfektan yang mencekik, Bu Inggit menyatukan tangan mereka berdua.

"Arlan, jaga Hana. Hana… menikahlah dengan suamiku. Gantikan aku di rumah ini. Ini… satu-satunya permintaanku."

Dunia seolah berhenti berputar. Hana merasakan aliran listrik dingin yang menyengat menjalar dari telapak tangan Pak Arlan, merambat ke nadinya, dan meledak di dadanya.

Ia ingin menarik tangannya. Ia ingin berteriak bahwa wasiat ini adalah kegilaan. Namun, tatapan mata Bu Inggit yang berkaca-kaca, tatapan seorang wanita yang sedang bernegosiasi dengan maut, mengunci lidah Hana rapat-rapat.

"Hana... Arlan... berjanjilah," bisik Bu Inggit untuk terakhir kalinya.

Mata sayu itu perlahan meredup, namun bibirnya masih menyisakan senyum tipis yang penuh beban. Tak lama kemudian, bunyi panjang dari monitor jantung bergema datar, memutus segala harapan yang tersisa di ruangan itu.

Detik itu juga, genggaman tangan Bu Inggit yang tadi begitu erat memegang tangan Hana dan Pak Arlan perlahan melonggar. Jemari yang pucat dan dingin itu kehilangan tenaganya, merosot perlahan, dan akhirnya jatuh terkulai tak berdaya di atas tubuhnya yang kini tak lagi bergerak.

Suara jatuh tangan itu begitu pelan, namun di telinga Hana, bunyinya seperti dentuman keras yang meruntuhkan seluruh dunianya.

"Ibu...?" suara Hana tercekat di tenggorokan.

Hana menatap tangan yang baru saja menyatukannya dengan Pak Arlan. Keheningan yang menyiksa menyergap, sebelum akhirnya tangis Hana pecah sejadi-jadinya. Ia jatuh terduduk di sisi ranjang, membenamkan wajahnya di antara lipatan kain sprei yang dingin. Bahunya terguncang hebat, meratapi kepergian wanita yang amat ia cintai dan segani sekaligus meratapi nasibnya yang kini terkunci oleh wasiat yang mematikan.

Di atas kepala Hana, Pak Arlan masih berdiri mematung. Pria itu tidak bersuara, namun tangannya yang tadi bersentuhan dengan tangan Hana perlahan mengepal kuat, seolah ia pun sedang berperang dengan badai yang baru saja dimulai.

BRAKK!

Pintu kamar itu terbanting keras, menghantam dinding hingga suaranya menggema seperti guntur. Siska, adik kandung Bu Inggit, masuk dengan napas memburu. Matanya merah, bukan karena tangis duka, melainkan karena api amarah yang menyala hebat.

"JADI BENAR DUGAANKU SELAMA INI! KALIAN MEMANG SUDAH TIDAK SABAR!"

Siska melangkah maju, sepatu hak tingginya beradu tajam dengan lantai rumah sakit. Jarinya menunjuk tepat di depan mata Hana yang basah karena tangis.

"Mbak Inggit sedang sekarat, dan kalian malah meresmikan perselingkuhan di depan matanya? Luar biasa!" Siska tertawa sumbang, sebuah tawa yang lebih menyakitkan daripada makian.

"Mahasiswi teladan, teman bisnis yang tulus… ternyata itu hanya topeng untuk mencuri suami orang, Hana!"

"Tante, demi Allah, saya tidak pernah berpikir seburuk itu,"

"Diam kamu, Pelakor!" teriakan Siska menggelegar, memenuhi keheningan duka yang dirasakan.

"Pantas saja kamu selalu punya alasan untuk datang ke rumah Mbak Inggit. Antar hijab, konsultasi bisnis, membantu urus butik… itu semua cuma umpan agar kamu bisa masuk ke tempat tidur Pak Arlan, kan? Kamu sudah merencanakan ini sejak Mbak Inggit mulai sakit!"

Hana menoleh ke arah Pak Arlan. Pria itu adalah sosok yang paling ia hormati di kampus, pria yang selalu punya jawaban untuk setiap teori sulit. Namun kini, pria itu hanya menunduk dalam diam yang mematikan.

Genggamannya pada tangan Hana memang sudah terlepas, namun ia tetap tak bersuara. Keheningan Pak Arlan seperti sembilu yang menyayat hati Hana, lebih perih daripada teriakan Siska.

"Siska, tolong jaga bicaranya!" sang Mama akhirnya bersuara, meskipun suaranya bergetar hebat.

"Hana anak baik-baik. Kami di sini karena kasih sayang pada Mbak Inggit, bukan karena niat busuk."

"Kasih sayang? Atau racun yang sudah perempuan ini bisikkan pada Mbak Inggit yang sedang tidak sadar tipuanya?" Siska menatap rendah pada Mama Hana.

"Ingat ya, kalian berdua. Mbak Inggit mungkin telah pergi hari ini, tapi aku tidak akan membiarkan perempuan murahan ini hidup dengan tenang. Kamu itu sampah, Hana. Pengkhianat berbaju malaikat!"

"Mbak Inggit!" jerit Siska pecah, namun alih-alih merangkul kakaknya, ia justru menatap Hana dengan kebencian yang makin mengakar.

"Lihat apa yang kamu lakukan! Dia pergi dengan membawa aib yang kamu tanamkan!"

Hana tidak mendengar lagi makian itu. Isaknya menelan segalanya. Di sana, di samping raga yang sudah mendingin, Hana tahu bahwa kehidupannya yang damai baru saja ikut terkubur bersama napas terakhir Bu Inggit.

Terpopuler

Comments

Bunda

Bunda

Ijin baca kak 🙏

2026-03-29

1

Noona Rara

Noona Rara

Aku mampir juga kak

2026-03-04

1

falea sezi

falea sezi

nyimakkk

2026-02-28

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Detik Terakhir dan Amanah yang Menghancurkan
2 Bab 2: Dua Sisi Langit
3 Bab 3: Beban di Balik Wasiat
4 Bab 4: Gemuruh dalam Diam
5 Bab 5: Penggemar Rahasia Vc Cabe Rawit
6 Bab 6: Amanah yang Ditagih
7 Bab 7: Tenggat Waktu Tujuh Hari
8 Bab 8: Harga Diri yang Dipertaruhkan
9 BAB 9: Pingsan di Balik Nisan
10 Bab 10: Keputusan di Ujung Lelah
11 Bab 11: Bayang-Bayang di Balik Bingkai
12 Bab 12: Memutus Rantai Masa Lalu: Rahasia di Balik Penyakit Inggit
13 Bab 12: Akad
14 Bab 14: Perisai yang Berdiri Tegak
15 Bab 15: Perjalanan Menuju Rumah Baru
16 Bab 16: Ambang Pintu dan Canggung yang Menyergap
17 Bab 17: Rambut yang Tergerai dan Jantung yang Berisik
18 Bab 18: Batas Kesabaran dan Segelas Air Penawar
19 Bab 19: Rahasia di Balik Gerbang Kampus
20 Bab 20: Pemilik Rahasia di Balik Kain Biru
21 Bab 21: Antara Benalu dan Debu Jalanan
22 Bab 22: Ketegangan di Balik Aroma Restoran
23 Bab 23: Badai yang Terencana
24 Bab 24: Runtuhnya Benteng Ketegaran
25 Bab 25: Luka yang Tak Kasat Mata
26 Bab 26: Di Ambang Batas Kesadaran
27 Bab 27: Skakmat di Ruang Rektorat
28 Bab 28: Suara Logika di Balik Pintu Bangsal
29 Bab 29: Pemilik Sapu Tangan Biru
30 Bab 30: Benang Merah yang Tak Pernah Putus
31 Bab 31: Rahasia di Balik Panggilan Dila
32 Bab 32: Akhir dari Sebuah Pengejaran
33 Bab 33: Satu Ciuman di Ujung Hidung
34 Bab 34: Taring di balik Wibawa
35 Bab 35: Jeruji Besi dan Drama Piyama Pink
36 Bab 36: Komedi Takdir di Balik Pintu Kamar
37 Bab 37: Penyelundupan di Balik Jendela
38 Bab 38: Strategi di Balik Tulang Ayam
39 Bab 39: Bukan di Balik Punggungmu
40 Bab 40: Dinding yang Mulai Mengikis
41 Bab 41: Di Antara Tatapan dan Takdir yang Salah Alamat
42 Bab 42: Badut Ancol dan Cupang Darat
43 Bab 43: Strategi Masker dan Polusi Perikejombloan
44 Bab 44: Antara SK Skripsi, "Obat Nyamuk", dan Jejak Cemburu
45 Bab 45: Simfoni Warna dan Mulut Tanpa Rem
46 Bab 46: Retaknya Topeng Sang Pemuja Warisan
47 Bab 47: Undangan di Balik Kecamuk Rasa
48 Bab 48: Di Balik Dingin yang Membakar
49 Bab 49: Sapu Tangan Biru dan Perut yang Berkhianat
50 Bab 50: Izin untuk Mencintai dan Pelarian yang Manis
51 Bab 51: Rahasia di Balik Sandi dan Teror yang Mengintai
52 Bab 52: Di Ambang Ketakutan dan Janji Pelindung Jiwa
53 Bab 53: Interupsi Dila dan Teori "Hal-Hal Lain"
54 Bab 5: Antara Jurnal Bisnis dan Strategi Tersembunyi
55 Bab 55: Senja di Teras dan Debar yang Tersisa
56 Bab 56: Hakikat Cinta dan Malam yang Bersemi
57 Bab 57: Pagi yang Baru dan Pelabuhan Hati
58 Bab 58: Dekapan Pagi dan Benteng Perlindungan
59 Bab 59: Wasiat yang Tak Terucap dan Luka di Balik Layar
60 Bab 60: Skakmat Sang Ahli Strategi
61 Bab 61: Pelabuhan Terakhir dan Janji yang Tersisa
62 Bab 62: Dua Hati, Satu Atap
63 Bab 63: Drama Pagi dan Bocoran Kamar Utama
64 Bab 64: Diplomat Dadakan dan Meja Perundingan Panas
65 Bab 65: Strategi sang Profesor
66 Bab 66: Duri di Meja Sebelah
67 Bab 67: Sanksi dari sang Istri
68 Bab 68: Takdir dan Sepucuk Amanah
69 Bab 69: Benteng yang Tak Lagi Diam
70 Bab 70: Langkah Pertama Menuju Cahaya
71 Bab 71: Air Mata di Lantai Dua
72 Bab 72: Manisnya Cokelat dan Pahitnya Perjodohan
73 Bab 73: Sinyal Bahaya untuk sang Dosen
74 Draft
75 Bab 75: Keheningan di Atas Jembatan
76 Bab 76: Kabar dari Hilang Arus
77 Bab 77: Secercah Harapan di Balik Kabut
78 Bab 78: Topeng yang Terkelupas
79 Bab 79: Memori yang Tertinggal di Balik Kabut
80 Bab 80: Labirin Ingatan
81 Bab 81: Rekam Jejak Trauma
82 Bab 82: Konfrontasi Dua Pria
83 Bab 83: Pelabuhan Terakhir
84 BAB 84: Pamit yang Penuh Air Mata
85 Bab 85: Rumah dan Pelukan yang Utuh
86 Bab 86: Hangat di Meja Makan, Manis di Sisi Ranjang
87 Bab 87: Sahabat, Pelukan, dan Rahasia yang Terbongkar
88 Bab 88: Berdiri untuk Bahagia
89 Bab 89: Balasan Terbaik dari Sebuah Luka
90 Bab 90 (EPILOG): Muara dari Segala Doa
91 EXTRA PART: Senandung di Bawah Langit yang Sama
92 PROMOSI CERITA AKUU
Episodes

Updated 92 Episodes

1
Bab 1: Detik Terakhir dan Amanah yang Menghancurkan
2
Bab 2: Dua Sisi Langit
3
Bab 3: Beban di Balik Wasiat
4
Bab 4: Gemuruh dalam Diam
5
Bab 5: Penggemar Rahasia Vc Cabe Rawit
6
Bab 6: Amanah yang Ditagih
7
Bab 7: Tenggat Waktu Tujuh Hari
8
Bab 8: Harga Diri yang Dipertaruhkan
9
BAB 9: Pingsan di Balik Nisan
10
Bab 10: Keputusan di Ujung Lelah
11
Bab 11: Bayang-Bayang di Balik Bingkai
12
Bab 12: Memutus Rantai Masa Lalu: Rahasia di Balik Penyakit Inggit
13
Bab 12: Akad
14
Bab 14: Perisai yang Berdiri Tegak
15
Bab 15: Perjalanan Menuju Rumah Baru
16
Bab 16: Ambang Pintu dan Canggung yang Menyergap
17
Bab 17: Rambut yang Tergerai dan Jantung yang Berisik
18
Bab 18: Batas Kesabaran dan Segelas Air Penawar
19
Bab 19: Rahasia di Balik Gerbang Kampus
20
Bab 20: Pemilik Rahasia di Balik Kain Biru
21
Bab 21: Antara Benalu dan Debu Jalanan
22
Bab 22: Ketegangan di Balik Aroma Restoran
23
Bab 23: Badai yang Terencana
24
Bab 24: Runtuhnya Benteng Ketegaran
25
Bab 25: Luka yang Tak Kasat Mata
26
Bab 26: Di Ambang Batas Kesadaran
27
Bab 27: Skakmat di Ruang Rektorat
28
Bab 28: Suara Logika di Balik Pintu Bangsal
29
Bab 29: Pemilik Sapu Tangan Biru
30
Bab 30: Benang Merah yang Tak Pernah Putus
31
Bab 31: Rahasia di Balik Panggilan Dila
32
Bab 32: Akhir dari Sebuah Pengejaran
33
Bab 33: Satu Ciuman di Ujung Hidung
34
Bab 34: Taring di balik Wibawa
35
Bab 35: Jeruji Besi dan Drama Piyama Pink
36
Bab 36: Komedi Takdir di Balik Pintu Kamar
37
Bab 37: Penyelundupan di Balik Jendela
38
Bab 38: Strategi di Balik Tulang Ayam
39
Bab 39: Bukan di Balik Punggungmu
40
Bab 40: Dinding yang Mulai Mengikis
41
Bab 41: Di Antara Tatapan dan Takdir yang Salah Alamat
42
Bab 42: Badut Ancol dan Cupang Darat
43
Bab 43: Strategi Masker dan Polusi Perikejombloan
44
Bab 44: Antara SK Skripsi, "Obat Nyamuk", dan Jejak Cemburu
45
Bab 45: Simfoni Warna dan Mulut Tanpa Rem
46
Bab 46: Retaknya Topeng Sang Pemuja Warisan
47
Bab 47: Undangan di Balik Kecamuk Rasa
48
Bab 48: Di Balik Dingin yang Membakar
49
Bab 49: Sapu Tangan Biru dan Perut yang Berkhianat
50
Bab 50: Izin untuk Mencintai dan Pelarian yang Manis
51
Bab 51: Rahasia di Balik Sandi dan Teror yang Mengintai
52
Bab 52: Di Ambang Ketakutan dan Janji Pelindung Jiwa
53
Bab 53: Interupsi Dila dan Teori "Hal-Hal Lain"
54
Bab 5: Antara Jurnal Bisnis dan Strategi Tersembunyi
55
Bab 55: Senja di Teras dan Debar yang Tersisa
56
Bab 56: Hakikat Cinta dan Malam yang Bersemi
57
Bab 57: Pagi yang Baru dan Pelabuhan Hati
58
Bab 58: Dekapan Pagi dan Benteng Perlindungan
59
Bab 59: Wasiat yang Tak Terucap dan Luka di Balik Layar
60
Bab 60: Skakmat Sang Ahli Strategi
61
Bab 61: Pelabuhan Terakhir dan Janji yang Tersisa
62
Bab 62: Dua Hati, Satu Atap
63
Bab 63: Drama Pagi dan Bocoran Kamar Utama
64
Bab 64: Diplomat Dadakan dan Meja Perundingan Panas
65
Bab 65: Strategi sang Profesor
66
Bab 66: Duri di Meja Sebelah
67
Bab 67: Sanksi dari sang Istri
68
Bab 68: Takdir dan Sepucuk Amanah
69
Bab 69: Benteng yang Tak Lagi Diam
70
Bab 70: Langkah Pertama Menuju Cahaya
71
Bab 71: Air Mata di Lantai Dua
72
Bab 72: Manisnya Cokelat dan Pahitnya Perjodohan
73
Bab 73: Sinyal Bahaya untuk sang Dosen
74
Draft
75
Bab 75: Keheningan di Atas Jembatan
76
Bab 76: Kabar dari Hilang Arus
77
Bab 77: Secercah Harapan di Balik Kabut
78
Bab 78: Topeng yang Terkelupas
79
Bab 79: Memori yang Tertinggal di Balik Kabut
80
Bab 80: Labirin Ingatan
81
Bab 81: Rekam Jejak Trauma
82
Bab 82: Konfrontasi Dua Pria
83
Bab 83: Pelabuhan Terakhir
84
BAB 84: Pamit yang Penuh Air Mata
85
Bab 85: Rumah dan Pelukan yang Utuh
86
Bab 86: Hangat di Meja Makan, Manis di Sisi Ranjang
87
Bab 87: Sahabat, Pelukan, dan Rahasia yang Terbongkar
88
Bab 88: Berdiri untuk Bahagia
89
Bab 89: Balasan Terbaik dari Sebuah Luka
90
Bab 90 (EPILOG): Muara dari Segala Doa
91
EXTRA PART: Senandung di Bawah Langit yang Sama
92
PROMOSI CERITA AKUU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!