Bab 5: Penggemar Rahasia Vc Cabe Rawit

Suasana di dalam masjid begitu tenang, berbanding terbalik dengan gemuruh yang menghantam dada Hana. Dila mendekat dengan langkah perlahan, hatinya ikut teriris melihat sahabat yang biasanya selalu menyemangatinya kini tampak begitu rapuh dan hancur.

Dila duduk di samping Hana, lalu tanpa sepatah kata pun, ia menarik Hana ke dalam pelukannya. Detik itu juga, pertahanan Hana runtuh. Tangis yang sejak tadi ia tahan di kelas pecah sejadi-jadinya di pundak Dila. Isak tangis yang dalam, menyuarakan rasa sakit yang tak sanggup lagi ia tanggung sendiri.

"Aku bukan pelakor, Dil... Aku tidak merebut siapa pun. Demi Allah, aku tidak pernah melakukan itu," rintih Hana di sela isaknya. Suaranya serak, penuh dengan beban yang menyesakkan.

Dila mengusap punggung Hana dengan lembut, mencoba menyalurkan kekuatan.

"Aku tahu, Han. Aku tahu kamu orang seperti apa."

"Aku bahkan tidak pernah menyangka... tidak pernah terlintas sedikit pun di benakku kalau wasiat itu akan keluar dari lisan Bu Inggit. Tapi kenapa semuanya malah menyudutkanku? Kenapa mereka bicara seolah-olah aku ini iblis? Aku harus bagaimana, Dil?"

Dila melepaskan pelukannya sedikit, menatap mata Hana yang merah dan bengkak. Ia menyeka air mata di pipi sahabatnya dengan ibu jari.

"Han, dengarkan aku," ucap Dila lembut namun serius.

"Aku tahu kamu sangat menghormati Bu Inggit. Kalian sudah seperti saudara. Tapi Han, meskipun itu wasiat, kamu tetap punya hak penuh atas hidupmu sendiri. Bu Inggit bisa meminta, tapi kamu juga berhak menolak jika itu memang membuatmu menderita."

Hana menggeleng lemah, tatapannya kosong menatap hamparan karpet masjid.

"Aku takut, Dil... Aku takut melakukan kesalahan besar. Itu permintaan terakhirnya. Bagaimana kalau penolakanku membuatnya tidak tenang di sana? Bagaimana kalau ini memang jalan yang harus kutempuh sebagai bakti terakhirku padanya?"

Hana menangkup wajahnya dengan kedua tangan, tampak sangat tersiksa oleh dilema yang menghimpitnya.

Dila menghela napas panjang, lalu menggenggam tangan Hana erat-erat.

"Oke, sekarang begini. Tenangkan dirimu dulu. Jangan ambil keputusan saat hatimu masih penuh luka dan telingamu masih panas oleh ucapan orang lain."

Dila mendekatkan wajahnya, memberikan tatapan yang menenangkan.

"Coba istikharah, Han. Minta petunjuk langsung pada pemilik hati. Jika kamu tidak bisa menemukan jawaban dari manusia, carilah jawaban dari Allah. Biarkan Dia yang menuntun kakimu."

Mendengar penuturan Dila, Hana terdiam. Isaknya perlahan mereda. Kata-kata Dila seperti embun yang menyiram api di hatinya. Benar, jika dunia menghakiminya, ia masih punya Allah yang Maha Adil. Jika manusia menutup telinga dari kebenarannya, Allah Maha Tahu atas setiap niat di lubuk hatinya yang terdalam.

"Apapun jawabannya nanti, mungkin itulah takdir yang harus kujalani," bisik Hana lirih, lebih kepada dirinya sendiri.

Hana menatap kubah masjid di atasnya. Ada sedikit ketenangan yang mulai merayap masuk. Ia sadar, badai ini mungkin tidak akan segera berlalu, tapi setidaknya ia tidak akan menghadapinya sendirian. Ia punya Allah, Orangtuanya dan ia punya Dila.

***

Setelah perasaan Hana sedikit lebih ringan, Dila memutuskan untuk membawa sahabatnya itu pulang. Persetan dengan mata kuliah terakhir, kesehatan mental Hana jauh lebih berharga daripada absen hari ini. Dila merangkul bahu Hana erat menuju parkiran, bertindak seolah-olah dia adalah pengawal pribadi yang siap menerjang siapa pun yang berani menatap Hana dengan sinis.

Namun, baru saja Dila hendak mengeluarkan kunci motornya, sebuah mobil sport putih berhenti tepat di belakang motor mereka, menghalangi jalan. Kaca jendela terbuka, menampilkan wajah tampan yang selalu tampak percaya diri.

Tomi. Mantan Presma yang kharismanya sanggup membuat mahasiswi baru pingsan di tempat, tapi bagi Hana, Tomi adalah sumber masalah berjalan. Masalahnya bukan pada Tomi, tapi pada "pasukan" pacar dan mantan pacarnya yang selalu mendatangi Hana setiap kali Tomi mencoba mendekat.

"Han, kok tumben jam segini sudah di parkiran? Bolos ya?" tanya Tomi sambil menyunggingkan senyum andalannya. Dia bahkan hafal jadwal Hana lebih baik daripada jadwal kuliahnya sendiri.

Hana hanya diam, menatap aspal dengan sisa-sisa keletihan di wajahnya.

"Ada urusan! Minggir lo, ganggu jalan aja!" potong Dila galak.

Tomi mendengus, matanya beralih ke Dila dengan malas.

"Apaan sih, Dil? Gue nanya Hana, bukan nanya cabe rawit."

"Enak aja lo bilang gue cabe rawit! Dasar kulkas dua pintu! Minggir nggak? Gue mau lewat!" teriak Dila sambil menendang angin ke arah mobil Tomi.

"Tuh kan, makin pedas. Han, mending kamu pulang sama aku aja yuk? Adem, pakai AC. Daripada sama preman pasar ini, nanti kulit kamu kepanasan," tawar Tomi, sama sekali tidak mempedulikan wajah Dila yang sudah memerah padam.

"Woi! Enak aja lo bilang gue preman pasar! Sini turun lo kalau berani!" tantang Dila sambil menggulung lengan kemejanya, siap tempur.

"Tuh kan, Han, jiwa premannya mulai keluar. Ngeri gue," sahut Tomi sambil bergidik pura-pura ketakutan, namun matanya tetap tertuju pada Hana dengan binar memuja.

Hana menghela napas panjang. Kepalanya makin pening mendengar perdebatan dua orang di depannya ini. Jika tidak dihentikan, parkiran kampus bisa berubah jadi ring tinju.

"Maaf, Tom. Aku ada urusan sama Dila. Urgent banget," ucap Hana lirih, suaranya terdengar sangat lelah.

Lebih tepatnya mental aku yang urgent, batin Hana pahit.

Mendengar nada suara Hana yang tidak seperti biasanya, Tomi terdiam. Senyum jenakanya sedikit memudar, ia bisa menangkap ada gurat kesedihan yang coba disembunyikan gadis itu. Lagi-lagi ia ditolak, tapi kali ini rasanya berbeda.

"Tuh kan, dibilangin ngeyel sih! Minggir!" sentak Dila lagi, kali ini sambil menggeber motor matiknya.

Tomi akhirnya mengalah. Ia memundurkan mobilnya perlahan, memberi jalan bagi Dila. Namun sebelum gas ditarik, Dila sempat menunjuk dengan jempolnya ke arah sekelompok gadis yang berdiri tak jauh dari sana.

"Noh, fans klub lo sudah antre. Antar mereka aja sana, jangan ganggu Hana!" ketus Dila.

Tomi menoleh, dan benar saja, ada tiga mahasiswi cantik yang sedang melambai centil ke arahnya. Tomi hanya mendengus pasrah, menutup kaca mobilnya dengan perasaan dongkol. Dengan segala popularitas, ketampanan, dan jabatan mantan Presma-nya, hanya Hana Syafina yang mampu membuatnya merasa seperti remahan rempeyek.

Saat motor Dila melaju meninggalkan kampus, Tomi menatap spionnya dengan tatapan sendu.

"Ada yang nggak beres sama Hana hari ini," gumamnya pelan sebelum menginjak gas.

Episodes
1 Bab 1: Detik Terakhir dan Amanah yang Menghancurkan
2 Bab 2: Dua Sisi Langit
3 Bab 3: Beban di Balik Wasiat
4 Bab 4: Gemuruh dalam Diam
5 Bab 5: Penggemar Rahasia Vc Cabe Rawit
6 Bab 6: Amanah yang Ditagih
7 Bab 7: Tenggat Waktu Tujuh Hari
8 Bab 8: Harga Diri yang Dipertaruhkan
9 BAB 9: Pingsan di Balik Nisan
10 Bab 10: Keputusan di Ujung Lelah
11 Bab 11: Bayang-Bayang di Balik Bingkai
12 Bab 12: Memutus Rantai Masa Lalu: Rahasia di Balik Penyakit Inggit
13 Bab 12: Akad
14 Bab 14: Perisai yang Berdiri Tegak
15 Bab 15: Perjalanan Menuju Rumah Baru
16 Bab 16: Ambang Pintu dan Canggung yang Menyergap
17 Bab 17: Rambut yang Tergerai dan Jantung yang Berisik
18 Bab 18: Batas Kesabaran dan Segelas Air Penawar
19 Bab 19: Rahasia di Balik Gerbang Kampus
20 Bab 20: Pemilik Rahasia di Balik Kain Biru
21 Bab 21: Antara Benalu dan Debu Jalanan
22 Bab 22: Ketegangan di Balik Aroma Restoran
23 Bab 23: Badai yang Terencana
24 Bab 24: Runtuhnya Benteng Ketegaran
25 Bab 25: Luka yang Tak Kasat Mata
26 Bab 26: Di Ambang Batas Kesadaran
27 Bab 27: Skakmat di Ruang Rektorat
28 Bab 28: Suara Logika di Balik Pintu Bangsal
29 Bab 29: Pemilik Sapu Tangan Biru
30 Bab 30: Benang Merah yang Tak Pernah Putus
31 Bab 31: Rahasia di Balik Panggilan Dila
32 Bab 32: Akhir dari Sebuah Pengejaran
33 Bab 33: Satu Ciuman di Ujung Hidung
34 Bab 34: Taring di balik Wibawa
35 Bab 35: Jeruji Besi dan Drama Piyama Pink
36 Bab 36: Komedi Takdir di Balik Pintu Kamar
37 Bab 37: Penyelundupan di Balik Jendela
38 Bab 38: Strategi di Balik Tulang Ayam
39 Bab 39: Bukan di Balik Punggungmu
40 Bab 40: Dinding yang Mulai Mengikis
41 Bab 41: Di Antara Tatapan dan Takdir yang Salah Alamat
42 Bab 42: Badut Ancol dan Cupang Darat
43 Bab 43: Strategi Masker dan Polusi Perikejombloan
44 Bab 44: Antara SK Skripsi, "Obat Nyamuk", dan Jejak Cemburu
45 Bab 45: Simfoni Warna dan Mulut Tanpa Rem
46 Bab 46: Retaknya Topeng Sang Pemuja Warisan
47 Bab 47: Undangan di Balik Kecamuk Rasa
48 Bab 48: Di Balik Dingin yang Membakar
49 Bab 49: Sapu Tangan Biru dan Perut yang Berkhianat
50 Bab 50: Izin untuk Mencintai dan Pelarian yang Manis
51 Bab 51: Rahasia di Balik Sandi dan Teror yang Mengintai
52 Bab 52: Di Ambang Ketakutan dan Janji Pelindung Jiwa
53 Bab 53: Interupsi Dila dan Teori "Hal-Hal Lain"
54 Bab 5: Antara Jurnal Bisnis dan Strategi Tersembunyi
55 Bab 55: Senja di Teras dan Debar yang Tersisa
56 Bab 56: Hakikat Cinta dan Malam yang Bersemi
57 Bab 57: Pagi yang Baru dan Pelabuhan Hati
58 Bab 58: Dekapan Pagi dan Benteng Perlindungan
59 Bab 59: Wasiat yang Tak Terucap dan Luka di Balik Layar
60 Bab 60: Skakmat Sang Ahli Strategi
61 Bab 61: Pelabuhan Terakhir dan Janji yang Tersisa
62 Bab 62: Dua Hati, Satu Atap
63 Bab 63: Drama Pagi dan Bocoran Kamar Utama
64 Bab 64: Diplomat Dadakan dan Meja Perundingan Panas
65 Bab 65: Strategi sang Profesor
66 Bab 66: Duri di Meja Sebelah
67 Bab 67: Sanksi dari sang Istri
68 Bab 68: Takdir dan Sepucuk Amanah
69 Bab 69: Benteng yang Tak Lagi Diam
70 Bab 70: Langkah Pertama Menuju Cahaya
71 Bab 71: Air Mata di Lantai Dua
72 Bab 72: Manisnya Cokelat dan Pahitnya Perjodohan
73 Bab 73: Sinyal Bahaya untuk sang Dosen
74 Draft
75 Bab 75: Keheningan di Atas Jembatan
76 Bab 76: Kabar dari Hilang Arus
77 Bab 77: Secercah Harapan di Balik Kabut
78 Bab 78: Topeng yang Terkelupas
79 Bab 79: Memori yang Tertinggal di Balik Kabut
80 Bab 80: Labirin Ingatan
81 Bab 81: Rekam Jejak Trauma
82 Bab 82: Konfrontasi Dua Pria
83 Bab 83: Pelabuhan Terakhir
84 BAB 84: Pamit yang Penuh Air Mata
85 Bab 85: Rumah dan Pelukan yang Utuh
86 Bab 86: Hangat di Meja Makan, Manis di Sisi Ranjang
87 Bab 87: Sahabat, Pelukan, dan Rahasia yang Terbongkar
88 Bab 88: Berdiri untuk Bahagia
89 Bab 89: Balasan Terbaik dari Sebuah Luka
90 Bab 90 (EPILOG): Muara dari Segala Doa
91 EXTRA PART: Senandung di Bawah Langit yang Sama
92 PROMOSI CERITA AKUU
Episodes

Updated 92 Episodes

1
Bab 1: Detik Terakhir dan Amanah yang Menghancurkan
2
Bab 2: Dua Sisi Langit
3
Bab 3: Beban di Balik Wasiat
4
Bab 4: Gemuruh dalam Diam
5
Bab 5: Penggemar Rahasia Vc Cabe Rawit
6
Bab 6: Amanah yang Ditagih
7
Bab 7: Tenggat Waktu Tujuh Hari
8
Bab 8: Harga Diri yang Dipertaruhkan
9
BAB 9: Pingsan di Balik Nisan
10
Bab 10: Keputusan di Ujung Lelah
11
Bab 11: Bayang-Bayang di Balik Bingkai
12
Bab 12: Memutus Rantai Masa Lalu: Rahasia di Balik Penyakit Inggit
13
Bab 12: Akad
14
Bab 14: Perisai yang Berdiri Tegak
15
Bab 15: Perjalanan Menuju Rumah Baru
16
Bab 16: Ambang Pintu dan Canggung yang Menyergap
17
Bab 17: Rambut yang Tergerai dan Jantung yang Berisik
18
Bab 18: Batas Kesabaran dan Segelas Air Penawar
19
Bab 19: Rahasia di Balik Gerbang Kampus
20
Bab 20: Pemilik Rahasia di Balik Kain Biru
21
Bab 21: Antara Benalu dan Debu Jalanan
22
Bab 22: Ketegangan di Balik Aroma Restoran
23
Bab 23: Badai yang Terencana
24
Bab 24: Runtuhnya Benteng Ketegaran
25
Bab 25: Luka yang Tak Kasat Mata
26
Bab 26: Di Ambang Batas Kesadaran
27
Bab 27: Skakmat di Ruang Rektorat
28
Bab 28: Suara Logika di Balik Pintu Bangsal
29
Bab 29: Pemilik Sapu Tangan Biru
30
Bab 30: Benang Merah yang Tak Pernah Putus
31
Bab 31: Rahasia di Balik Panggilan Dila
32
Bab 32: Akhir dari Sebuah Pengejaran
33
Bab 33: Satu Ciuman di Ujung Hidung
34
Bab 34: Taring di balik Wibawa
35
Bab 35: Jeruji Besi dan Drama Piyama Pink
36
Bab 36: Komedi Takdir di Balik Pintu Kamar
37
Bab 37: Penyelundupan di Balik Jendela
38
Bab 38: Strategi di Balik Tulang Ayam
39
Bab 39: Bukan di Balik Punggungmu
40
Bab 40: Dinding yang Mulai Mengikis
41
Bab 41: Di Antara Tatapan dan Takdir yang Salah Alamat
42
Bab 42: Badut Ancol dan Cupang Darat
43
Bab 43: Strategi Masker dan Polusi Perikejombloan
44
Bab 44: Antara SK Skripsi, "Obat Nyamuk", dan Jejak Cemburu
45
Bab 45: Simfoni Warna dan Mulut Tanpa Rem
46
Bab 46: Retaknya Topeng Sang Pemuja Warisan
47
Bab 47: Undangan di Balik Kecamuk Rasa
48
Bab 48: Di Balik Dingin yang Membakar
49
Bab 49: Sapu Tangan Biru dan Perut yang Berkhianat
50
Bab 50: Izin untuk Mencintai dan Pelarian yang Manis
51
Bab 51: Rahasia di Balik Sandi dan Teror yang Mengintai
52
Bab 52: Di Ambang Ketakutan dan Janji Pelindung Jiwa
53
Bab 53: Interupsi Dila dan Teori "Hal-Hal Lain"
54
Bab 5: Antara Jurnal Bisnis dan Strategi Tersembunyi
55
Bab 55: Senja di Teras dan Debar yang Tersisa
56
Bab 56: Hakikat Cinta dan Malam yang Bersemi
57
Bab 57: Pagi yang Baru dan Pelabuhan Hati
58
Bab 58: Dekapan Pagi dan Benteng Perlindungan
59
Bab 59: Wasiat yang Tak Terucap dan Luka di Balik Layar
60
Bab 60: Skakmat Sang Ahli Strategi
61
Bab 61: Pelabuhan Terakhir dan Janji yang Tersisa
62
Bab 62: Dua Hati, Satu Atap
63
Bab 63: Drama Pagi dan Bocoran Kamar Utama
64
Bab 64: Diplomat Dadakan dan Meja Perundingan Panas
65
Bab 65: Strategi sang Profesor
66
Bab 66: Duri di Meja Sebelah
67
Bab 67: Sanksi dari sang Istri
68
Bab 68: Takdir dan Sepucuk Amanah
69
Bab 69: Benteng yang Tak Lagi Diam
70
Bab 70: Langkah Pertama Menuju Cahaya
71
Bab 71: Air Mata di Lantai Dua
72
Bab 72: Manisnya Cokelat dan Pahitnya Perjodohan
73
Bab 73: Sinyal Bahaya untuk sang Dosen
74
Draft
75
Bab 75: Keheningan di Atas Jembatan
76
Bab 76: Kabar dari Hilang Arus
77
Bab 77: Secercah Harapan di Balik Kabut
78
Bab 78: Topeng yang Terkelupas
79
Bab 79: Memori yang Tertinggal di Balik Kabut
80
Bab 80: Labirin Ingatan
81
Bab 81: Rekam Jejak Trauma
82
Bab 82: Konfrontasi Dua Pria
83
Bab 83: Pelabuhan Terakhir
84
BAB 84: Pamit yang Penuh Air Mata
85
Bab 85: Rumah dan Pelukan yang Utuh
86
Bab 86: Hangat di Meja Makan, Manis di Sisi Ranjang
87
Bab 87: Sahabat, Pelukan, dan Rahasia yang Terbongkar
88
Bab 88: Berdiri untuk Bahagia
89
Bab 89: Balasan Terbaik dari Sebuah Luka
90
Bab 90 (EPILOG): Muara dari Segala Doa
91
EXTRA PART: Senandung di Bawah Langit yang Sama
92
PROMOSI CERITA AKUU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!