Suasana kamar rawat Hana terasa begitu sunyi, hanya terdengar suara detak alat pemantau jantung yang konstan. Hana duduk bersandar pada tumpukan bantal, matanya sembab dan pandangannya tertuju pada dahan pohon di luar jendela. Sejak sadar sepenuhnya, Hana menjadi sangat tertutup. Ia menolak televisi, menjauhkan ponsel, dan yang paling menyakitkan bagi Arlan, Hana menolak kehadirannya.
Setiap kali Arlan mencoba masuk, Hana akan memejamkan mata rapat-rapat atau membelakangi pintu. Ia seolah menyalahkan keberadaan Arlan sebagai magnet bagi semua kesialan yang menimpanya.
Dila duduk di kursi samping tempat tidur, mengupas jeruk dengan perlahan. Ia memperhatikan sahabatnya yang biasanya ceria itu kini tampak seperti raga tanpa jiwa.
"Na..." panggil Dila lembut.
"Sampai kapan kamu mau begini? Pak Arlan sudah dua malam tidur di kursi tunggu depan. Dia tidak pulang, tidak ganti baju, hanya untuk memastikan kamu baik-baik saja."
Hana tidak bergeming.
"Aku tidak mau bertemu dengannya, Dil. Setiap melihat Mas Arlan, aku teringat komentar-komentar itu. Aku merasa... aku merasa memang salah karena sudah setuju menikah dengannya."
Dila menghela napas panjang, ia meletakkan jeruknya dan menatap Hana lekat-lekat.
"Na, dengarkan aku. Kamu harus buka logika kamu sekarang. Bagaimanapun, Pak Arlan itu suami kamu. Kamu setuju menikah dengan beliau itu dengan kesadaran penuh, bukan paksaan, kan?"
Hana terdiam, jemarinya meremas sprei.
"Apa yang terjadi di luar sana, fitnah itu, gosip itu... itu di luar pengetahuan Pak Arlan. Bukankah kamu sendiri yang meminta agar pernikahan kalian dirahasiakan? Kamu yang ingin private karena takut jadi pusat perhatian di kampus," lanjut Dila, suaranya tegas namun tetap menunjukkan empati.
"Mungkin saja kalau hal itu tidak dirahasiakan, khususnya di area kampus, kamu tidak akan pernah diduga sebagai simpanan dosen atau hal buruk lainnya."
Hana mulai terisak kecil. Kata-kata Dila menghantamnya tepat di ulu hati. Ia menyadari bahwa ketakutannya se…
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan
Bab 28: Suara Logika di Balik Pintu Bangsal
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 92 Episodes
Comments