Bab 3: Beban di Balik Wasiat

Malam itu, kediaman Arlan terasa begitu sunyi setelah riuh rendah pelayat mereda. Di ruang tengah, Arlan duduk bersandar dengan mata terpejam, sementara Umi dan Abi-nya duduk berhadapan, menatap putra mereka dengan raut prihatin. Di atas meja kayu itu, tergeletak sebuah amplop cokelat tebal surat wasiat yang ditinggalkan Inggit.

"Inggit sudah memikirkan semuanya, Lan," suara Abi memecah keheningan.

"Bukan hanya lisan di depan kamu dan Hana kemarin, seperti yang kamu ceritakan, tapi dia menuliskannya secara legal. Dia ingin kamu menikahi Hana."

Arlan membuka mata, tatapannya kosong.

"Tapi ini gila, Bi. Hana masih sangat muda. Dia punya masa depan, dan aku... aku baru saja kehilangan istriku."

"Ada hal lain yang harus kamu tahu," lanjut Abi sambil menyodorkan secarik dokumen dari bank.

"Sebagian besar aset dan tabungan yang selama ini kalian kumpulkan telah dibekukan oleh Inggit. Uang itu hanya bisa dicairkan jika pernikahanmu dengan Hana terlaksana. Inggit menuliskan bahwa sebagian besar dana itu harus diserahkan kepada keluarganya kepada adik-adiknya dan orang tuanya sebagai bentuk bakti terakhirnya."

Arlan memijat pelipisnya yang berdenyut.

"Jadi, secara tidak langsung, Inggit menyandera harta itu agar aku tidak punya pilihan selain menikahi Hana? Karena jika tidak, keluarga Inggit tidak akan mendapatkan bagian mereka, dan mereka akan menyalahkan aku seumur hidup."

"Atau mereka akan menyalahkan Hana, Lan," timpal Umi lembut, mengusap punggung tangan putranya.

"Siska sudah mulai menyerang gadis itu. Jika mereka tahu Hana adalah kunci untuk harta tersebut, Hana akan makin dipojokkan. Mereka akan menuduh Hana merayu Inggit untuk mengatur wasiat ini demi menguasai uang."

Arlan menghela napas panjang, suaranya terdengar sangat lelah.

"Umi, aku tidak punya cukup tenaga untuk ini. Kehilangan Inggit saja sudah membuatku hancur. Bagaimana aku bisa membela Hana di depan badai fitnah keluarga Siska? Aku merasa tidak sanggup melihat wajah Hana yang ketakutan setiap kali mereka memaki."

Umi mengangguk paham, ia tahu putranya sedang berada di titik terendah.

"Kita harus tetap menyampaikan amanat ini, Lan. Ini bukan cuma soal harta, tapi soal ketenangan arwah Inggit. Apapun respon keluarga Siska nanti, kamu harus hadapi sebagai laki-laki."

"Haruskah Hana ikut dalam pertemuan itu?" tanya Arlan ragu.

"Tidak," jawab Abi tegas.

"Membawa Hana ke tengah keluarga Inggit saat ini sama saja dengan melemparkannya ke kandang singa. Biar kita yang bicara pada mereka. Biar mereka tahu bahwa ini murni keputusan Inggit, bukan rencana Hana."

Arlan terdiam, menatap surat itu dengan benci sekaligus haru. Di satu sisi, ia merasa Inggit terlalu mengatur hidupnya bahkan setelah tiada. Namun di sisi lain, ia tahu Inggit melakukannya karena ia tahu Arlan butuh seseorang, dan Inggit merasa Hana adalah satu-satunya yang layak.

"Aku bingung, Umi..." Arlan berbisik lirih.

"Di satu sisi aku ingin melindungi Hana dengan menjauhinya, tapi di sisi lain, satu-satunya cara melindunginya dari fitnah lebih jauh justru dengan menikahinya sesuai wasiat ini. Tapi apakah itu adil bagi Hana?"

***

Suasana ruang tamu kediaman Arlan terasa begitu mencekam. Di satu sisi, Arlan duduk didampingi Abi dan Umi-nya yang berusaha tetap tenang. Di hadapan mereka, keluarga besar almarhumah Inggit duduk dengan wajah-wajah yang memerah karena amarah.

Ada Mama dan Papa Inggit yang tampak terpukul, Siska yang terus bersedekap dada didampingi suaminya, Roy, serta Romi yang menatap lantai dengan tangan mengepal kuat.

"Jadi, apa maksud semua ini, Mas?" Siska membuka suara, suaranya melengking membelah kesunyian.

"Mbak Inggit belum genap tiga hari di liang lahat, dan kalian memanggil kami untuk bicara soal wasiat pernikahan? Benar-benar tidak punya hati!"

"Siska, tolong tenang sedikit," tegur Mama Inggit dengan suara lemah, namun Siska justru makin meledak.

"Tenang bagaimana, Ma? Tuduhanku selama ini terbukti! Mas Arlan memang sudah bermain dengan mahasiswi itu di belakang Mbak Inggit. Kalau tidak, mana mungkin Mbak Inggit yang sedang sakit bisa menulis wasiat segila ini? Hana pasti sudah mencuci otaknya!"

"Jaga bicaramu, Siska!" Arlan akhirnya bersuara, nada suaranya rendah namun penuh penekanan.

"Inggit menulis ini dalam keadaan sadar sepenuhnya. Dia mencintai Hana seperti adiknya sendiri, dia ingin rumah ini tetap ada yang mengurus."

"Mengurus rumah atau mengurus tempat tidurmu, Mas?" sahut Roy, suami Siska, dengan senyum mengejek yang membuat suasana makin panas.

Romi, yang sejak tadi diam, tiba-tiba berdiri. Napasnya memburu. Ia melangkah mendekati Arlan dengan mata yang menyala penuh kebencian.

"Jadi ini alasannya, Bang? Abang pakai pengaruh Abang sebagai dosen untuk menarik hati Hana? Abang rebut dia dari aku dengan tameng wasiat istri sendiri?"

"Romi, duduk!" perintah Abi Arlan tegas, namun Romi tidak peduli.

"Aku sudah lama curiga, tapi aku tidak menyangka Abang seberengsek ini!" Romi mengangkat tangannya, siap melayangkan pukulan ke wajah Arlan.

"ROMI, BERHENTI!" teriak Mama Inggit. Ia berdiri dan menarik lengan putra bungsunya itu.

"Ingat di mana kamu berada! Jangan buat malu almarhumah kakakmu!"

Romi menurunkan tangannya perlahan, namun tatapannya tetap menghujam Arlan dengan dendam yang nyata.

Abi Arlan kemudian berdehem, mencoba mengembalikan situasi ke tujuan utama.

"Ada hal lain yang harus kalian ketahui. Inggit membekukan sebagian besar aset gono-gini di bank. Uang itu yang jumlahnya sangat besar, hanya bisa dicairkan setelah pernikahan Arlan dan Hana dilaksanakan. Dan dalam wasiatnya, Inggit meminta sebagian besar dana itu diserahkan kepada kalian, sebagai bentuk baktinya terakhir."

Seketika, ruangan itu menjadi sunyi senyap. Siska yang tadinya ingin berteriak lagi, tiba-tiba terdiam. Roy, suaminya, langsung menoleh dengan mata berbinar penuh minat. Serakah adalah obat yang paling cepat membungkam kemarahan.

"Maksud Abi... uang itu baru bisa kami terima kalau mereka menikah?" tanya Roy, memastikan.

"Benar," jawab Abi singkat.

Siska mendengus, mencoba menyembunyikan rasa haus akan hartanya di balik topeng harga diri.

"Jadi, Mbak Inggit benar-benar menjebak kita semua. Dia tahu kita butuh uang itu untuk menutupi kerugian bisnis Papa."

"Aku tidak sudi menerima uang dari pernikahan hasil zina!" teriak Romi, meski suaranya mulai terdengar ragu.

"Diam kamu, Romi!" Siska menyikut adiknya. Ia menatap Arlan dengan pandangan yang masih penuh kebencian namun penuh perhitungan. "Baik. Kalau memang itu maunya Mbak Inggit, lakukan saja. Menikahlah dengan pelakor itu. Tapi jangan harap aku akan menganggapnya sebagai perempuan baik-baik. Dia tetaplah sampah yang menusuk mbak Inggit dari belakang."

Siska berdiri, diikuti oleh Roy yang tampak puas.

"Segera urus pernikahannya. Semakin cepat mereka menikah, semakin cepat hak kami cair. Dan satu hal lagi, Mas Arlan... beri tahu mahasiswi kesayanganmu itu, dia mungkin memenangkan kamu, tapi dia tidak akan pernah memenangkan kehormatan di mata kami."

Keluarga Inggit melangkah keluar dengan kepala tegak, meninggalkan Arlan yang kini tertunduk lesu. Ia merasa baru saja menjual dirinya dan Hana demi sebuah amanah yang terasa seperti kutukan. Di sisi lain, ia tahu, mulai saat ini Hana akan menghadapi neraka yang lebih panas dari sebelumnya.

Episodes
1 Bab 1: Detik Terakhir dan Amanah yang Menghancurkan
2 Bab 2: Dua Sisi Langit
3 Bab 3: Beban di Balik Wasiat
4 Bab 4: Gemuruh dalam Diam
5 Bab 5: Penggemar Rahasia Vc Cabe Rawit
6 Bab 6: Amanah yang Ditagih
7 Bab 7: Tenggat Waktu Tujuh Hari
8 Bab 8: Harga Diri yang Dipertaruhkan
9 BAB 9: Pingsan di Balik Nisan
10 Bab 10: Keputusan di Ujung Lelah
11 Bab 11: Bayang-Bayang di Balik Bingkai
12 Bab 12: Memutus Rantai Masa Lalu: Rahasia di Balik Penyakit Inggit
13 Bab 12: Akad
14 Bab 14: Perisai yang Berdiri Tegak
15 Bab 15: Perjalanan Menuju Rumah Baru
16 Bab 16: Ambang Pintu dan Canggung yang Menyergap
17 Bab 17: Rambut yang Tergerai dan Jantung yang Berisik
18 Bab 18: Batas Kesabaran dan Segelas Air Penawar
19 Bab 19: Rahasia di Balik Gerbang Kampus
20 Bab 20: Pemilik Rahasia di Balik Kain Biru
21 Bab 21: Antara Benalu dan Debu Jalanan
22 Bab 22: Ketegangan di Balik Aroma Restoran
23 Bab 23: Badai yang Terencana
24 Bab 24: Runtuhnya Benteng Ketegaran
25 Bab 25: Luka yang Tak Kasat Mata
26 Bab 26: Di Ambang Batas Kesadaran
27 Bab 27: Skakmat di Ruang Rektorat
28 Bab 28: Suara Logika di Balik Pintu Bangsal
29 Bab 29: Pemilik Sapu Tangan Biru
30 Bab 30: Benang Merah yang Tak Pernah Putus
31 Bab 31: Rahasia di Balik Panggilan Dila
32 Bab 32: Akhir dari Sebuah Pengejaran
33 Bab 33: Satu Ciuman di Ujung Hidung
34 Bab 34: Taring di balik Wibawa
35 Bab 35: Jeruji Besi dan Drama Piyama Pink
36 Bab 36: Komedi Takdir di Balik Pintu Kamar
37 Bab 37: Penyelundupan di Balik Jendela
38 Bab 38: Strategi di Balik Tulang Ayam
39 Bab 39: Bukan di Balik Punggungmu
40 Bab 40: Dinding yang Mulai Mengikis
41 Bab 41: Di Antara Tatapan dan Takdir yang Salah Alamat
42 Bab 42: Badut Ancol dan Cupang Darat
43 Bab 43: Strategi Masker dan Polusi Perikejombloan
44 Bab 44: Antara SK Skripsi, "Obat Nyamuk", dan Jejak Cemburu
45 Bab 45: Simfoni Warna dan Mulut Tanpa Rem
46 Bab 46: Retaknya Topeng Sang Pemuja Warisan
47 Bab 47: Undangan di Balik Kecamuk Rasa
48 Bab 48: Di Balik Dingin yang Membakar
49 Bab 49: Sapu Tangan Biru dan Perut yang Berkhianat
50 Bab 50: Izin untuk Mencintai dan Pelarian yang Manis
51 Bab 51: Rahasia di Balik Sandi dan Teror yang Mengintai
52 Bab 52: Di Ambang Ketakutan dan Janji Pelindung Jiwa
53 Bab 53: Interupsi Dila dan Teori "Hal-Hal Lain"
54 Bab 5: Antara Jurnal Bisnis dan Strategi Tersembunyi
55 Bab 55: Senja di Teras dan Debar yang Tersisa
56 Bab 56: Hakikat Cinta dan Malam yang Bersemi
57 Bab 57: Pagi yang Baru dan Pelabuhan Hati
58 Bab 58: Dekapan Pagi dan Benteng Perlindungan
59 Bab 59: Wasiat yang Tak Terucap dan Luka di Balik Layar
60 Bab 60: Skakmat Sang Ahli Strategi
61 Bab 61: Pelabuhan Terakhir dan Janji yang Tersisa
62 Bab 62: Dua Hati, Satu Atap
63 Bab 63: Drama Pagi dan Bocoran Kamar Utama
64 Bab 64: Diplomat Dadakan dan Meja Perundingan Panas
65 Bab 65: Strategi sang Profesor
66 Bab 66: Duri di Meja Sebelah
67 Bab 67: Sanksi dari sang Istri
68 Bab 68: Takdir dan Sepucuk Amanah
69 Bab 69: Benteng yang Tak Lagi Diam
70 Bab 70: Langkah Pertama Menuju Cahaya
71 Bab 71: Air Mata di Lantai Dua
72 Bab 72: Manisnya Cokelat dan Pahitnya Perjodohan
73 Bab 73: Sinyal Bahaya untuk sang Dosen
74 Draft
75 Bab 75: Keheningan di Atas Jembatan
76 Bab 76: Kabar dari Hilang Arus
77 Bab 77: Secercah Harapan di Balik Kabut
78 Bab 78: Topeng yang Terkelupas
79 Bab 79: Memori yang Tertinggal di Balik Kabut
80 Bab 80: Labirin Ingatan
81 Bab 81: Rekam Jejak Trauma
82 Bab 82: Konfrontasi Dua Pria
83 Bab 83: Pelabuhan Terakhir
84 BAB 84: Pamit yang Penuh Air Mata
85 Bab 85: Rumah dan Pelukan yang Utuh
86 Bab 86: Hangat di Meja Makan, Manis di Sisi Ranjang
87 Bab 87: Sahabat, Pelukan, dan Rahasia yang Terbongkar
88 Bab 88: Berdiri untuk Bahagia
89 Bab 89: Balasan Terbaik dari Sebuah Luka
90 Bab 90 (EPILOG): Muara dari Segala Doa
91 EXTRA PART: Senandung di Bawah Langit yang Sama
92 PROMOSI CERITA AKUU
Episodes

Updated 92 Episodes

1
Bab 1: Detik Terakhir dan Amanah yang Menghancurkan
2
Bab 2: Dua Sisi Langit
3
Bab 3: Beban di Balik Wasiat
4
Bab 4: Gemuruh dalam Diam
5
Bab 5: Penggemar Rahasia Vc Cabe Rawit
6
Bab 6: Amanah yang Ditagih
7
Bab 7: Tenggat Waktu Tujuh Hari
8
Bab 8: Harga Diri yang Dipertaruhkan
9
BAB 9: Pingsan di Balik Nisan
10
Bab 10: Keputusan di Ujung Lelah
11
Bab 11: Bayang-Bayang di Balik Bingkai
12
Bab 12: Memutus Rantai Masa Lalu: Rahasia di Balik Penyakit Inggit
13
Bab 12: Akad
14
Bab 14: Perisai yang Berdiri Tegak
15
Bab 15: Perjalanan Menuju Rumah Baru
16
Bab 16: Ambang Pintu dan Canggung yang Menyergap
17
Bab 17: Rambut yang Tergerai dan Jantung yang Berisik
18
Bab 18: Batas Kesabaran dan Segelas Air Penawar
19
Bab 19: Rahasia di Balik Gerbang Kampus
20
Bab 20: Pemilik Rahasia di Balik Kain Biru
21
Bab 21: Antara Benalu dan Debu Jalanan
22
Bab 22: Ketegangan di Balik Aroma Restoran
23
Bab 23: Badai yang Terencana
24
Bab 24: Runtuhnya Benteng Ketegaran
25
Bab 25: Luka yang Tak Kasat Mata
26
Bab 26: Di Ambang Batas Kesadaran
27
Bab 27: Skakmat di Ruang Rektorat
28
Bab 28: Suara Logika di Balik Pintu Bangsal
29
Bab 29: Pemilik Sapu Tangan Biru
30
Bab 30: Benang Merah yang Tak Pernah Putus
31
Bab 31: Rahasia di Balik Panggilan Dila
32
Bab 32: Akhir dari Sebuah Pengejaran
33
Bab 33: Satu Ciuman di Ujung Hidung
34
Bab 34: Taring di balik Wibawa
35
Bab 35: Jeruji Besi dan Drama Piyama Pink
36
Bab 36: Komedi Takdir di Balik Pintu Kamar
37
Bab 37: Penyelundupan di Balik Jendela
38
Bab 38: Strategi di Balik Tulang Ayam
39
Bab 39: Bukan di Balik Punggungmu
40
Bab 40: Dinding yang Mulai Mengikis
41
Bab 41: Di Antara Tatapan dan Takdir yang Salah Alamat
42
Bab 42: Badut Ancol dan Cupang Darat
43
Bab 43: Strategi Masker dan Polusi Perikejombloan
44
Bab 44: Antara SK Skripsi, "Obat Nyamuk", dan Jejak Cemburu
45
Bab 45: Simfoni Warna dan Mulut Tanpa Rem
46
Bab 46: Retaknya Topeng Sang Pemuja Warisan
47
Bab 47: Undangan di Balik Kecamuk Rasa
48
Bab 48: Di Balik Dingin yang Membakar
49
Bab 49: Sapu Tangan Biru dan Perut yang Berkhianat
50
Bab 50: Izin untuk Mencintai dan Pelarian yang Manis
51
Bab 51: Rahasia di Balik Sandi dan Teror yang Mengintai
52
Bab 52: Di Ambang Ketakutan dan Janji Pelindung Jiwa
53
Bab 53: Interupsi Dila dan Teori "Hal-Hal Lain"
54
Bab 5: Antara Jurnal Bisnis dan Strategi Tersembunyi
55
Bab 55: Senja di Teras dan Debar yang Tersisa
56
Bab 56: Hakikat Cinta dan Malam yang Bersemi
57
Bab 57: Pagi yang Baru dan Pelabuhan Hati
58
Bab 58: Dekapan Pagi dan Benteng Perlindungan
59
Bab 59: Wasiat yang Tak Terucap dan Luka di Balik Layar
60
Bab 60: Skakmat Sang Ahli Strategi
61
Bab 61: Pelabuhan Terakhir dan Janji yang Tersisa
62
Bab 62: Dua Hati, Satu Atap
63
Bab 63: Drama Pagi dan Bocoran Kamar Utama
64
Bab 64: Diplomat Dadakan dan Meja Perundingan Panas
65
Bab 65: Strategi sang Profesor
66
Bab 66: Duri di Meja Sebelah
67
Bab 67: Sanksi dari sang Istri
68
Bab 68: Takdir dan Sepucuk Amanah
69
Bab 69: Benteng yang Tak Lagi Diam
70
Bab 70: Langkah Pertama Menuju Cahaya
71
Bab 71: Air Mata di Lantai Dua
72
Bab 72: Manisnya Cokelat dan Pahitnya Perjodohan
73
Bab 73: Sinyal Bahaya untuk sang Dosen
74
Draft
75
Bab 75: Keheningan di Atas Jembatan
76
Bab 76: Kabar dari Hilang Arus
77
Bab 77: Secercah Harapan di Balik Kabut
78
Bab 78: Topeng yang Terkelupas
79
Bab 79: Memori yang Tertinggal di Balik Kabut
80
Bab 80: Labirin Ingatan
81
Bab 81: Rekam Jejak Trauma
82
Bab 82: Konfrontasi Dua Pria
83
Bab 83: Pelabuhan Terakhir
84
BAB 84: Pamit yang Penuh Air Mata
85
Bab 85: Rumah dan Pelukan yang Utuh
86
Bab 86: Hangat di Meja Makan, Manis di Sisi Ranjang
87
Bab 87: Sahabat, Pelukan, dan Rahasia yang Terbongkar
88
Bab 88: Berdiri untuk Bahagia
89
Bab 89: Balasan Terbaik dari Sebuah Luka
90
Bab 90 (EPILOG): Muara dari Segala Doa
91
EXTRA PART: Senandung di Bawah Langit yang Sama
92
PROMOSI CERITA AKUU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!