Mobil SUV hitam Arlan sudah terparkir manis di depan minimarket saat Dila dan Hana sampai. Arlan menurunkan kaca mobilnya sedikit, menampilkan wajah tegasnya yang seketika melunak saat melihat Hana.
"Titip sahabat saya ya, Pak," ujar Dila sembari membantu Hana turun dari motor.
"Tolong dijaga baik-baik, jangan diapa-apain ya, Pak!" lanjutnya dengan nada memperingatkan yang dibuat-buat serius.
Arlan menaikkan sebelah alisnya, menatap mahasiswinya yang satu itu dengan tatapan menyindir.
"Maksud kamu 'diapa-apain' itu apa, Dila?"
Dila seketika nyengir lebar sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia baru sadar kalau peringatannya barusan terdengar konyol.
Lagipula mau diapa-apain juga sudah sah jadi istri, Dila! Bodoh sekali kamu, batin Dila menertawakan diri sendiri.
"Hehe, iya Pak, maaf. Refleks protektif," ucap Dila sambil memberikan hormat dua jari yang kocak namun tetap sopan.
"Ya sudah kalau begitu, saya pamit duluan ya, Pak. Jagain istrinya baik-baik!" Dila memberikan kedipan jahil pada Hana yang sukses membuat wajah Hana memanas.
Hana segera masuk ke dalam mobil untuk menghindari keusilan Dila lebih jauh. Saat ia hendak meraih sabuk pengaman, gerakannya sedikit terhambat karena tasnya yang mengganjal. Arlan yang menyadari hal itu, langsung bergerak peka. Tanpa aba-aba, ia mencondongkan tubuhnya ke arah Hana untuk menarik sabuk pengaman tersebut.
Aksi itu membuat jarak keduanya mendadak terkikis habis. Arlan yang sedang menunduk fokus pada pengait sabuk, tidak menyadari betapa dekatnya wajah mereka. Saat Arlan mengangkat kepalanya kembali setelah bunyi klik terdengar, mata mereka langsung bertemu.
Jarak hidung mereka hanya terpaut beberapa senti. Hana bisa merasakan deru napas Arlan yang hangat, dan Arlan bisa melihat pantulan dirinya di manik mata Hana yang bening. Keduanya membeku selama beberapa detik yang terasa sangat panjang. Jantung Hana berdebur kencang, seolah ingin melompat keluar.
Sampai akhirnya Hana sedikit memundurkan tubuhnya ke sandaran ku…
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan
Bab 22: Ketegangan di Balik Aroma Restoran
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 92 Episodes
Comments