Hana menyenggol pelan lengan Dila yang sampai detik ini masih berdiri mematung di koridor kampus. Sahabatnya itu benar-benar terlihat seperti sebuah manekin hidup yang kehilangan pasokan daya setelah menerima bungkusan cokelat dari Tomi.
"Ehem... Cieee..." goda Hana sengaja memanjangkan nadanya sembari mengerlingkan mata jahil.
Dila seketika tersentak dari lamunannya. Ia menoleh patah-patah ke arah Hana, lalu menatapnya dengan pandangan tidak percaya yang dibuat sedramatis mungkin.
"Hana...! Jangan mulai, deh!" tegurnya dengan suara yang melengking kaku.
Hana langsung tertawa renyah melihat wajah kesal bercampur salah tingkah yang tercetak jelas di wajah sahabatnya itu.
"Udah, ah, jangan terlalu kesal begitu. Si Tomi niatnya baik tahu, Dil. Dia kasih kamu cokelat biar mood kamu membaik. Sudah, dimakan saja, mubazir juga kalau dibuang," ujar Hana memberikan nasihat logis.
Dila menunduk, menatap nanar ke dalam paper bag cokelat di pangkuannya. Di dalamnya berjejer beberapa batang cokelat premium varian dark chocolate kesukaannya. Ya, harus diakui kalau cokelat memang salah satu kelemahannya saat sedang stres tingkat dewa seperti sekarang. Sayang juga kalau harus berakhir di tempat sampah.
Sembari mengembuskan napas pasrah, Dila merobek salah satu bungkus cokelat itu dengan gerakan dongkol, lalu menggigitnya kasar.
"Gue makan ini murni menghargai makanan ya, Han. Bukan karena terpesona sama aksi kesambetnya si kecebong sawah itu!" gerutu Dila dengan mulut penuh cokelat.
Wajahnya perpaduan antara bingung, kesal, tapi juga lahap.
Hana hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah kocak Dila. Namun, di balik tembok pilar koridor yang berjarak beberapa meter dari posisi mereka, sesosok pria bergeming.
Tomi rupanya belum benar-benar pergi. Ia diam-diam mengintip, dan begitu melihat Dila memakan cokelat pemberiannya, meski dengan wajah cemberut maksimal.
Sebuah senyuman kecil yang sangat tipis tanpa sadar terukir di sudut bibir mantan Presiden Mahasiswa itu. Merasa m…
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan
Bab 73: Sinyal Bahaya untuk sang Dosen
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 92 Episodes
Comments