Deru sirine ambulans, bau obat-obatan yang menyengat, dan lorong-lorong putih Rumah Sakit Bhayangkara menjadi saksi bisu bagaimana takdir sedang mempermainkan hati orang-orang di dalamnya.
Di salah satu ruang rawat, Mama Hana terbaring lemah dengan jarum infus menancap di punggung tangannya. Tekanan darahnya anjlok drastis, tak stabil akibat guncangan batin yang luar biasa.
Di samping brankar itu, Dila menggenggam jemari Mama Hana erat-erat. Ia memeluk tubuh paruh baya yang terus mengigaukan nama putrinya itu, membisikkan kata-kata penguat yang sebenarnya juga sedang ia butuhkan untuk dirinya sendiri. Sebagai seorang sahabat, Dila tahu ia harus menjadi benteng penopang. Ia tidak boleh runtuh di depan seorang ibu yang dunianya baru saja hancur.
Namun, manusia tetaplah manusia. Batas pertahanan Dila akhirnya mencapai titik jenuh.
Setelah memastikan Mama Hana tertidur karena pengaruh obat penenang, Dila melangkah keluar dari ruangan dengan tergesa-gesa. Langkah kakinya membawa dirinya mencari sudut rumah sakit yang paling sepi. Ia menemukan sebuah lorong kosong di dekat tangga darurat yang remang.
BRUK.
Dila merosot, terduduk di atas lantai porselen yang dingin. Kedua kakinya ditekuk, menyembunyikan wajahnya di atas lutut. Di sanalah, bendungan air mata yang sejak tadi ia tahan mati-matian akhirnya runtuh seutuhnya. Tubuhnya bergetar hebat. Kedua tangannya yang biasa lincah bergerak kini gemetar tanpa kendali saat ia memandanginya dengan tatapan nanar.
Dila ingin berteriak. Ia ingin menjerit memaki takdir, namun akal sehatnya menahan tenggorokannya. Ini rumah sakit, ia tidak boleh egois mengganggu ketenangan pasien lain. Alhasil, yang keluar hanyalah suara isakan tertahan yang begitu menyiksa dadanya.
"Hana... ini semua enggak mungkin, kan...?" lirih Dila sesak.
Suaranya tercekat oleh air mata yang terus mengalir deras membasahi celananya.
Ia memegangi dadanya yang terasa begitu ngilu, seolah ada bongkahan batu besar yang menghimpit paru-parunya.
"Kamu enggak mungkin p…
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan
Bab 77: Secercah Harapan di Balik Kabut
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 92 Episodes
Comments