Aroma masakan rumahan yang sudah lama tidak tercium kini kembali memenuhi setiap sudut ruang makan kediaman utama Arlan.
Malam itu, Umi dan Mama Maya bersikeras turun langsung ke dapur. Mereka memasak semua hidangan favorit Hana, mulai dari sup ayam kampung yang hangat, capcay gurih, hingga ayam goreng bumbu lengkuas.
Meja makan yang selama tiga bulan terakhir ini selalu terasa sepi dan hampa, kini mendadak penuh oleh piring-piring berjejer dan kehangatan yang luar biasa.
Hana duduk diapit oleh Arlan di sisi kanan dan Mama di sisi kirinya. Di seberang mereka, Papa, Abi, dan Umi menatap Hana dengan binar mata yang seolah enggan beralih.
Mereka semua seakan takut jika memalingkan pandangan sedetik saja, wanita muda itu akan menghilang lagi.
"Hana, ayo makan yang banyak, Nak. Ini supnya masih hangat, bagus untuk kondisi kamu," ujar Mama lembut, menyendokkan kuah sup yang mengepul bersama potongan sayur dan ayam ke dalam piring Hana.
"Iya, Sayang. Kata Arlan kandungan kamu masih trimester pertama, harus banyak asupan nutrisi yang sehat," timpal Umi dengan senyuman keibuan yang sangat tulus.
Hana menatap piringnya yang kini penuh, lalu beralih menatap wajah orang-orang di sekelilingnya satu per satu. Ada rasa haru yang mendesak di dadanya.
Setelah berbulan-bulan hanya menatap dinding gudang yang dingin dan melewati hari-hari asing di rumah Rama dengan ingatan terkunci, momen ini terasa seperti surga dunia baginya.
"Terima kasih, Umi, Mama," bisik Hana tulus. Ia mulai menyuap makanannya perlahan.
Arlan yang berada di sampingnya tidak sedetik pun melepaskan perhatiannya. Dengan telaten, ia memotongkan bagian daging ayam yang lembut agar Hana lebih mudah memakannya, lalu meletakkannya di piring sang istri.
"Enak, Sayang?" tanya Arlan dengan suara baritonnya yang sangat lembut.
Tangannya bergerak mengusap kepala Hana yang tertutup jilbab rumah dengan penuh kasih sayang.
Hana mengangguk, matanya agak berkaca-kaca namun senyumnya terkembang manis.
"Enak banget, Mas."
Melihat H…
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan
Bab 86: Hangat di Meja Makan, Manis di Sisi Ranjang
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 92 Episodes
Comments