Hening yang mencekam menyergap ruang tamu setelah paket teror itu dibuang. Arlan, yang menyadari perubahan raut wajah Hana menjadi sepucat kertas, segera berlutut di hadapan istrinya.
Arlan bisa melihat dengan jelas bagaimana tubuh Hana sedikit gemetar, matanya menatap kosong ke arah pintu tempat di mana ancaman itu masuk ke rumah mereka.
Perlahan, Arlan meraih kedua tangan Hana yang terasa dingin. Tanpa suara, ia menarik tubuh mungil itu ke dalam dekapannya. Hana tidak menolak. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Arlan, mencoba mencari perlindungan dari badai pikiran yang mulai berkecamuk di kepalanya.
Detak jantung Hana berpacu di atas normal. Bukan karena pelukan suaminya, melainkan karena kalimat 'atau mati' yang terus berputar-putar di benaknya. Trauma yang baru saja akan sembuh kini kembali terbuka paksa. Hana mendadak memeluk Arlan dengan sangat erat, seolah-olah jika ia melepaskannya, ia akan terjatuh ke dalam jurang yang gelap.
"Mas... aku takut," gumamnya dengan suara yang pecah.
Pertahanannya runtuh, dan tangisnya pecah di dalam pelukan Arlan.
"Tenang, Hana. Saya di sini. Tidak akan ada yang berani menyentuhmu selangkah pun. Saya akan menjaga kamu dengan seluruh hidup saya," bisik Arlan, suaranya rendah namun penuh otoritas.
Cukup lama Hana menangis, menumpahkan segala ketakutan akan masa depan yang terasa kian tidak pasti. Arlan mendekapnya lebih erat, namun dalam hatinya, ia sedang menyusun rencana besar. Ia menyadari satu hal, ia tidak bisa hanya melindungi raga Hana. Ia harus membangun mental istrinya agar tidak terus-menerus dihantui ketakutan.
Setelah isak tangis Hana mereda, Arlan menjauhkan sedikit tubuhnya. Ia menangkup wajah Hana dengan kedua tangannya, memaksa mata gadis itu untuk bertemu dengan matanya.
"Hana, dengarkan saya baik-baik," ujar Arlan serius.
"Kamu tidak boleh terus seperti ini. Mereka yang pengecut akan terus mengancam jika kamu terlihat lemah. Kamu harus kuat, Hana. Kamu bukan wanita lemah yang bisa mereka tindas sesuka hat…
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan
Bab 52: Di Ambang Ketakutan dan Janji Pelindung Jiwa
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 92 Episodes
Comments