Perjalanan pulang sore itu terasa begitu hening, namun keheningan yang tercipta di dalam kabin mobil SUV milik Arlan bukan lagi keheningan yang mencekam atau dipenuhi keputusasaan.
Itu adalah keheningan yang magis, sebuah momen di mana waktu seolah berjalan melambat untuk memberikan ruang bagi dua hati yang sempat terpisah jarak dan takdir untuk saling meyakinkan bahwa semua ini nyata.
Sepanjang jalan, tangan kiri Arlan tidak pernah sedetik pun melepaskan jemari Hana. Ia menggenggamnya begitu erat di atas paha, seolah jika ia melonggarkan cengkeramannya sedikit saja, sang istri akan kembali menghilang dari sisinya.
Sesekali, di sela-sela fokusnya menatap jalanan kota yang mulai temaram oleh lampu-lampu fajar petang, Arlan membawa punggung tangan Hana ke bibirnya, mengecupnya lama dengan mata terpejam dan sisa-sisa air mata yang mengering.
Di sampingnya, Hana menyandarkan kepalanya yang terasa sedikit berat pada bahu kokoh Arlan. Aroma parfum maskulin khas suaminya yang bercampur dengan aroma minyak wangi maskulin yang sangat ia rindukan, perlahan-lahan mengikis habis sisa-sisa ketakutan yang sempat bersarang di benaknya.
Tangan kanannya yang bebas bergerak lembut, mengelus perutnya sendiri yang masih rata. Ada binar kebahagiaan yang mulai menyala di matanya yang sembap.
"Mas," bisik Hana parau, memecah keheningan malam yang mulai turun.
"Iya, Sayang? Ada yang sakit? Perut kamu kram lagi?" tanya Arlan beruntun dengan nada panik yang kentara. Ia langsung melirik cemas ke arah Hana.
Hana menggeleng pelan, sebuah senyuman tipis namun sangat tulus terukir di bibirnya.
"Nggak, Mas. Aku cuma... masih nggak menyangka kalau ini bukan mimpi. Aku benar-benar sama Mas Arlan sekarang."
Arlan mengembuskan napas panjang, menepikan mobilnya sejenak di bahu jalan yang sepi. Ia memutar tubuhnya menghadap Hana, lalu menangkup wajah tirus istrinya dengan kedua tangan. Dipandangnya lekat-lekat manik mata Hana yang berkaca-kaca.
"Ini bukan mimpi, Hana. Ini nyata. Mas di sini, dan kamu ad…
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan
Bab 85: Rumah dan Pelukan yang Utuh
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 92 Episodes
Comments