Suasana di ruang makan yang sunyi pada pukul sebelas malam itu terasa sangat berbeda. Hanya ada denting sendok yang beradu dengan piring porselen, memecah keheningan di antara Arlan dan Hana.
Arlan duduk tepat di hadapan Hana, memerhatikan istrinya yang sedang menyuap bubur buatan Bi Ina dengan gerakan yang sangat pelan, seolah-olah mangkuk bubur itu adalah hal paling menarik di dunia.
Hana benar-benar tidak berani mendongak. Bayangan kejadian di kamar tadi, saat wajah mereka hampir bersentuhan dan perutnya berbunyi nyaring, masih menari-nari di kepalanya. Wajahnya terasa panas setiap kali ia teringat betapa memalukannya momen itu.
"Kenapa buburnya diaduk terus, Hana? Kamu sedang mencari harta karun di sana?" Arlan membuka suara, nada bicaranya mengandung sedikit tawa yang tertahan.
Hana tersedak kecil, lalu mendongak dengan wajah kikuk.
"Eh, enggak Mas. Ini... buburnya enak banget."
Arlan terkekeh, suara rendahnya terdengar begitu menenangkan di tengah sunyinya malam. Ia meraih segelas air hangat dan menyodorkannya pada Hana.
"Makan yang banyak supaya tenagamu pulih. Saya tidak mau bimbingan skripsi pertama kita nanti diisi dengan adegan mahasiswanya pingsan karena kurang gizi."
Mendengar candaan itu, kekakuan di pundak Hana perlahan mencair. Ia tersenyum tipis, merasa bersyukur Arlan tidak membahas lebih lanjut tentang "insiden perut" tadi.
Namun, suasana cair itu tidak bertahan lama. Setelah Hana menghabiskan makanannya, Arlan tidak langsung beranjak. Ia menggeser piringnya ke samping, lalu perlahan menjulurkan tangannya di atas meja, meraih jemari Hana dan menggenggamnya dengan mantap.
Seketika, detak jantung Hana kembali berpacu liar. Udara di ruang makan itu mendadak terasa statis.
"Hana," panggil Arlan.
Suaranya kali ini tidak lagi mengandung canda. Berat, dalam, dan penuh kesungguhan.
Hana terpaku, matanya terkunci pada manik mata Arlan yang menatapnya dengan intensitas yang begitu kuat. Di dalam tatapan itu, Hana tidak lagi melihat sosok dosen yan…
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan
Bab 50: Izin untuk Mencintai dan Pelarian yang Manis
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 92 Episodes
Comments
Sri Jumiati
semangat thor
2026-07-08
1