Begitu roda mobil berhenti di garasi, suasana canggung yang menyesakkan itu belum juga menguap. Hana dan Arlan turun tanpa suara, seolah-olah kata-kata telah habis ditelan keheningan jalanan tadi. Mereka langsung masuk ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri, mencari ketenangan di bawah kucuran air yang dingin.
Arlan merasakan denyut di pelipisnya semakin kencang. Perasaan tidak nyaman campuran antara sisa emosi setelah menghadapi keluarga Inggit dan rasa cemburu yang konyol, membuat dadanya terasa sesak.
Ia mencoba menenangkan diri melalui sholat Maghrib, bersujud lama untuk mencari kejernihan hati.
Selesai ibadah, Arlan turun ke ruang makan dengan langkah yang sedikit lebih ringan. Di meja makan, Bi Ina sudah menyiapkan hidangan yang mengepul hangat. Namun, satu kursi di sana masih kosong. Hana tidak terlihat di mana pun.
"Hana belum turun, Bi?" tanya Arlan sembari menarik kursi.
"Sepertinya belum, Pak. Tadi non Hana bilang mau sholat dulu, tapi sampai sekarang belum turun juga. Padahal ini sudah hampir masuk waktu Isya," ujar Bi Ina dengan nada sedikit khawatir sambil menata piring.
Perasaan tidak enak seketika menjalar di benak Arlan. Tanpa membuang waktu, ia melangkah lebar menuju kamar Hana. Arlan mengetuk pintu sekali, dua kali... namun tidak ada jawaban.
Keheningan di balik pintu itu justru terasa mencekam. Akhirnya, dengan tangan yang sedikit bergetar, Arlan memutar kenop pintu.
"Hana?"
Pemandangan di hadapannya membuat jantung Arlan seolah berhenti berdetak. Hana tergeletak tak berdaya di atas sajadahnya. Ia masih mengenakan mukena putihnya, tampak seperti sosok yang jatuh di tengah sujudnya.
"Hana!" Arlan menghampiri dengan panik.
Saat jemarinya menyentuh kening Hana, Arlan tersentak. Suhu tubuh gadis itu sangat tinggi, panas yang membakar. Hana demam hebat.
Dengan gerakan cepat namun penuh kehati-hatian, Arlan mengangkat tubuh ringan Hana dan membaringkannya di tempat tidur. Ia merutuk dalam hati melihat wajah istrinya yang pucat pasi dengan rona…
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan
Bab 48: Di Balik Dingin yang Membakar
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 92 Episodes
Comments