Dila melangkah keluar dengan senyum tipis, menutup pintu kamar rawat dengan sangat pelan. Ia tahu, di dalam sana, ada dua hati yang sedang berusaha merobohkan tembok tinggi yang selama ini membatasi mereka.
Keheningan menyergap sesaat. Arlan masih berlutut di samping ranjang, menggenggam jemari Hana yang terasa begitu rapuh. Ia menatap wajah istrinya dengan tatapan yang jauh lebih dalam dari biasanya, bukan lagi tatapan seorang dosen pembimbing, melainkan tatapan seorang pria yang berutang nyawa.
"Hana," suara Arlan serak.
"Maafkan saya. Saya gagal menjadi pelindungmu. Seharusnya saya tidak membiarkan kerahasiaan ini menjadi celah bagi orang lain untuk menginjak-injak harga dirimu."
Arlan menarik napas panjang, seolah mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya.
"Saya sudah bicara dengan rektorat. Saya tidak akan membiarkan fitnah ini terus bergulir. Besok, saya akan mengumumkan pernikahan kita secara resmi di kampus. Saya akan bersihkan namamu, Hana. Saya akan pastikan semua orang tahu bahwa kamu adalah istri sah saya, wanita paling terhormat yang saya miliki."
Hana terpaku. Air matanya kembali mengalir, namun kali ini bukan karena rasa sakit, melainkan karena rasa haru yang membuncah. Untuk pertama kalinya, Hana melihat Arlan bukan sebagai sosok "Pak Dosen" yang kaku, melainkan sebagai seorang suami yang siap memasang badan untuknya.
"Terima kasih, Mas..." ucap Hana tulus.
Suaranya masih bergetar, namun senyum tipis mulai menghiasi bibirnya yang pucat.
Arlan terdiam sejenak, lalu tangannya merogoh saku kemeja. Ia mengeluarkan sehelai kain biru muda yang sudah mulai usang namun sangat bersih. Ia meletakkan kain itu di telapak tangan Hana.
Hana menatap benda itu dengan dahi berkerut.
"Apa ini, Mas?" tanya Hana bingung.
Hana membolak-balik kain itu, menyentuh tekstur halusnya yang terasa sangat familiar. Di pojok kain, ada sulaman huruf 'H' yang sedikit pudar.
Arlan tersenyum, genggamannya pada tangan Hana mengerat.
"Dulu, ada seorang gadis remaja yang sangat berani. Dia me…
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan
Bab 29: Pemilik Sapu Tangan Biru
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 92 Episodes
Comments