Di sebuah ruang tamu yang pengap oleh hawa kedengkian, Siska duduk dengan wajah yang ditekuk seribu. Ia menghempaskan tasnya ke atas meja, memancing perhatian sang ibu yang baru saja muncul dari dapur.
"Ma, Mama harus lihat sendiri betapa kurang ajarnya si pelakor itu sekarang!" adu Siska dengan nada dramatis yang sengaja dibuat-buat.
"Siska kemaren ke rumah Kak Inggit, niatnya baik mau mengamankan barang-barang berharga almarhumah. Eh, Siska malah diusir! Arlan dan perempuan itu seolah sudah kongkalikong mau menguasai semua benda berharga peninggalan Kak Inggit!"
Mama Inggit yang memang mudah tersulut emosi, langsung berkacak pinggang.
"Apa? Jadi si Hana itu sudah berani melarang kamu? Kurang ajar itu anak, kok malah ngelunjak setelah jadi nyonya di sana!"
"Iya, Ma! Padahal aku ini adik kandungnya. Darah daging sendiri! Sedangkan Hana? Dia itu cuma orang luar yang ambil kesempatan dalam kesempitan. Seenak jidat saja dia mau menikmati tas-tas bermerek dan perhiasan Kak Inggit yang harganya selangit itu!" Siska mengepalkan tangannya, matanya berkilat penuh dendam.
"Pokoknya kita tidak boleh diam, Ma. Barang-barang itu hak keluarga kita, bukan hak perempuan pemungut itu!"
***
Sementara itu, suasana di pelataran kampus terasa jauh lebih ringan namun tetap menegangkan bagi Hana. UAS terakhir baru saja usai, dan kini Hana berjalan bersisian dengan Dila menuju parkiran.
"Kamu langsung pulang, Dil?" tanya Hana sembari merapikan tasnya.
"Iya, Han. Sori banget ya, hari ini aku harus antar Mama check-up rutin. Jadi nggak bisa menemani kamu galau atau antar kamu pulang," ucap Dila dengan nada menyesal.
Hana tersenyum menenangkan.
"Nggak apa-apa, Dil. Santai saja. Lagipula, aku sudah ada yang menjemput hari ini."
Dila menghentikan langkahnya, matanya menyipit penuh selidik.
"Dijemput? Siapa? Papa kamu?"
Hana menggeleng pelan. Ia menoleh ke sekeliling, memastikan tidak ada telinga yang menguping, lalu berbisik sangat pelan di telinga sahabatnya.
"Mas Arlan."
"HAH?! Kamu manggil…
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan
Bab 21: Antara Benalu dan Debu Jalanan
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 92 Episodes
Comments