Lampu ring light berpendar terang di ruang tengah butik. Hana berdiri dengan senyum profesional yang manis, tangannya dengan sigap menunjukkan detail jahitan pada sebuah gamis premium. Kolom komentar di layar ponselnya bergerak cepat, pesanan demi pesanan masuk, membuat suasana hati Hana sempat membubung tinggi.
Namun, dalam hitungan detik, alur komentar yang tadinya berisi pujian berubah menjadi aliran racun yang mematikan.
@User_99: Loh, ini bukannya yang lagi viral itu ya?
@AntiPelakor: Oalah, ini wajah aslinya? Pantesan, emang tipe-tipe penggoda.
@DuniaHijab: Kok nggak malu ya? Jualan baju muslim tapi kelakuan ngerebut suami orang. Kedok doang itu hijabnya.
Hana tertegun. Kalimat terakhir itu menghujam tepat di ulu hatinya, membuatnya kehilangan kata-kata di depan kamera. Senyumnya membeku. Tangannya yang memegang gantungan baju mulai gemetar hebat. Komentar pedas lainnya terus bermunculan seolah-olah mereka adalah saksi mata dari sebuah kejahatan yang tidak pernah Hana lakukan.
Mama Hana yang mengawasi dari balik layar segera menyadari perubahan raut wajah putrinya. Ia melangkah maju, membaca sekilas rentetan cacian itu, dan seketika jantungnya seolah berhenti berdetak. Tanpa membuang waktu, sang Mama menarik Hana menjauh dari jangkauan kamera.
"Bi, teruskan livenya sebentar, lalu matikan!" perintah Mama Hana pada salah satu karyawan dengan suara bergetar.
Hana luruh ke lantai tepat setelah lampu kamera padam. Ruangan itu seketika terasa begitu sempit dan menyesakkan.
"Ma... Hana bukan perebut suami orang, Ma. Hana bukan pelakor..." lirih Hana dengan suara yang nyaris hilang.
Air matanya tumpah, membasahi pipi yang tadinya dipoles makeup tipis untuk bekerja.
"Iya sayang, Mama tahu. Kita semua tahu itu fitnah," Mama Hana memeluk putrinya erat, ikut merasakan perih yang luar biasa.
Hana meraih ponselnya dengan jari gemetar, membuka satu tautan berita yang dikirimkan oleh seseorang. Di sana, foto-foto dirinya bersama Arlan terpampang nyata. Namun yang paling menya…
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan
Bab 24: Runtuhnya Benteng Ketegaran
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 92 Episodes
Comments