Keesokan harinya, Arlan duduk di ruang tamu rumah orang tuanya. Kabar mengenai persetujuan Hana telah ia sampaikan, dan untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, gurat ketegangan di wajah Umi dan Abi-nya sedikit melunak.
"Syukurlah, Nak. Umi lega sekali dengarnya," ucap Umi sembari mengusap dada.
"Umi tahu ini berat bagi Hana, tapi setidaknya sekarang dia punya sandaran legal. Kalau Hana sudah sah menikah denganmu, Siska dan adik-adik Inggit lainnya tidak akan bisa lagi melabrak atau menghina Hana sembarangan. Kamu punya hak penuh untuk melindunginya."
Abi mengangguk setuju, namun wajahnya masih menyimpan satu ganjalan.
"Lalu bagaimana dengan rumah kamu dan Inggit, Lan? Bukankah rumah itu kalian beli bersama? Secara hukum, itu adalah harta gono-gini."
Arlan terdiam sejenak, ia sudah menduga pertanyaan ini akan muncul. Memang benar, rumah minimalis modern yang ia tinggali bersama Inggit adalah hasil patungan dari tabungan mereka berdua selama lima tahun pernikahan.
"Iya, Bi. Sebenarnya Mama Inggit dan Siska sudah mulai mempertanyakan itu lewat pesan singkat tadi pagi. Mereka seolah tidak sabar ingin menghitung setiap senti keramik di rumah itu," jawab Arlan dengan nada getir.
Arlan menyandarkan punggungnya, tampak sangat lelah dengan cara berpikir keluarga mertuanya.
"Arlan sudah memutuskan. Arlan akan meminta penilai properti untuk menghitung harga jual rumah itu sekarang. Arlan akan membaginya dua, lalu memberikan bagian Inggit kepada keluarganya menggunakan uang pribadi Arlan sendiri."
Abi menaikkan alisnya.
"Maksud kamu, kamu akan tetap menempati rumah itu tapi membayar 'hak' keluarga Inggit secara tunai?"
"Iya, Bi. Anggap saja Arlan membeli rumah itu sepenuhnya. Arlan terlalu malas, bahkan mungkin sudah muak, untuk terus berurusan atau berdebat soal harta dengan mereka. Arlan ingin memutus rantai komunikasi yang tidak perlu. Begitu uang itu diberikan, Arlan ingin mereka tidak punya alasan lagi untuk menginjakkan kaki di sana atau mengganggu kehidupan Arlan…
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan
Bab 12: Memutus Rantai Masa Lalu: Rahasia di Balik Penyakit Inggit
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 92 Episodes
Comments