Suasana di butik siang itu terasa begitu hangat dan kontras dengan dinginnya perlakuan Mama Inggit sebelumnya. Arlan duduk melingkar bersama Hana dan Mama Hana di ruang tengah butik yang merangkap sebagai area santai. Aroma nasi hangat dan lauk pauk yang mereka bawa tadi memenuhi ruangan, menciptakan atmosfer kekeluargaan yang tulus.
Para karyawan butik, yang sudah dianggap keluarga sendiri oleh Hana dan mendiang Inggit, ikut menikmati hidangan yang dibelikan Arlan. Mereka semua sudah tahu tentang pernikahan ini. Sebagai orang-orang yang melihat langsung bagaimana tulusnya Hana merawat Inggit hingga napas terakhir, mereka tidak menaruh curiga atau prasangka buruk. Mereka paham, wasiat Inggit bukanlah sesuatu yang diputuskan tanpa alasan yang kuat.
"Terima kasih ya, Pak Arlan, makanannya. Sering-sering main ke sini, biar Non Hana makin semangat kerjanya," celetuk salah satu karyawan senior yang disambut tawa kecil oleh yang lain.
Hana hanya bisa tersenyum malu, sesekali melirik Arlan yang tampak sangat membaur. Setelah makan selesai dan diselingi obrolan ringan, Arlan berpamitan karena ada rapat mendadak di kantor pusat.
Hana mengantar Arlan sampai ke teras butik.
"Hati-hati di jalan, Mas," ucap Hana lirih.
Arlan mengangguk, sorot matanya yang tenang menatap Hana lekat-lekat.
"Saya usahakan pulang lebih cepat. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi saya."
Setelah mobil SUV hitam itu melaju pergi, Hana terdiam di ambang pintu. Ia menatap telapak tangannya sendiri, sisa hangat genggaman Arlan di restoran tadi seolah masih tertinggal di sana, memberikan kekuatan yang sulit ia jelaskan.
Di dalam mobil, Arlan sedang fokus membelah kemacetan saat ponselnya berdering nyaring. Nama Dandy muncul di layar. Dandy adalah rekan sesama dosen sekaligus sahabat karib Arlan yang paling tahu seluk-beluk hidupnya.
"Halo, Lan. Lo di mana? Lagi bareng Hana ga?" Suara Dandy terdengar mendesak, jauh dari nada santainya yang biasa.
"Lagi di jalan mau ke kantor. Gue sendiri, Hana lagi kerja di…
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan
Bab 23: Badai yang Terencana
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 92 Episodes
Comments