"Mas, sakit...!!"
Lengkingan tertahan Hana seketika meruntuhkan keheningan seisi rumah besar itu pada suatu sepertiga malam. Arlan yang semula tertidur lelap langsung terjaga seolah disengat aliran listrik tegangan tinggi.
Di bawah temaram lampu tidur, ia melihat wajah istrinya sudah dibanjiri keringat dingin, kedua tangannya meremas sprei kasur dengan amat erat. Kontraksi hebat itu datang lebih cepat dari perkiraan dokter.
"Sayang, tenang... tarik napas. Umi! Mama! Hana mau melahirkan!"
Arlan yang biasanya selalu tenang, berwibawa, dan rasional saat menghadapi ratusan mahasiswa di ruang kuliah, mendadak berubah menjadi pria paling panik sedunia. Ia kewalahan mengenakan kemejanya secara terbalik, mencari kunci mobil yang mendadak hilang dari nakas, hingga hampir tersandung karpet kamar sendiri.
Suasana malam itu seketika berubah menjadi kepanikan masif yang luar biasa. Umi dan Mama yang mendengar teriakan itu langsung terbangun, ikut panik namun berusaha tetap sigap menyiapkan tas perlengkapan bayi yang sudah dikemas sejak minggu lalu.
Sepanjang perjalanan membelah jalanan kota yang sunyi menuju rumah sakit, tangan kiri Arlan tidak pernah lepas mencengkeram jemari Hana. Ia ikut berkeringat dingin, berkali-kali membisikkan kalimat selawat dan doa di sela-sela ringisan kesakitan sang istri.
Begitu tiba di ruang persalinan, suasana tegang kian memuncak. Arlan berdiri setia di sisi kepala Hana, membiarkan rambut dan lengannya ditarik serta dicengkeram erat sebagai pelampiasan rasa sakit yang luar biasa.
"Ayo Ibu Hana, dorong sedikit lagi! Kepala bayinya sudah terlihat!" instruksi dokter kandungan dengan nada tegas namun menenangkan.
"Mas... sakit banget, Mas..." isak Hana dengan sisa tenaga yang ia miliki.
Arlan mengecup dahi Hana yang basah oleh keringat, air matanya sendiri ikut menetes melihat perjuangan bertaruh nyawa sang istri.
"Mas di sini, Sayang. Kamu kuat, demi anak kita. Dorong lagi, Sayang..."
Dengan satu hentakan napas terakhir yang panjang dan sisa kekuata…
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan
Bab 90 (EPILOG): Muara dari Segala Doa
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 92 Episodes
Comments