Suasana di dalam kamar rawat itu mendadak terasa begitu sakral. Seolah-olah waktu berhenti berputar hanya untuk memberikan ruang bagi dua jiwa yang selama ini berteman dengan tanda tanya. Arlan masih menggenggam tangan Hana, sementara sapu tangan biru itu berada di tengah-tengah mereka, menjadi saksi bisu kembalinya ingatan yang sempat terkubur.
Arlan menatap Hana dengan tatapan yang sulit diartikan, ada rasa syukur, kagum, sekaligus penyesalan yang mendalam.
"Sepuluh tahun, Hana... Sepuluh tahun saya menyimpan kain ini," suara Arlan rendah, bergetar karena emosi.
"Saya mencari kamu ke setiap sudut kota, ke setiap sekolah yang sekiranya punya seragam seperti yang kamu pakai hari itu. Tapi dunia terlalu luas, dan saya kehilangan jejak. Sampai akhirnya, saya bertemu dengan Inggit."
Arlan menjeda kalimatnya, menarik napas panjang untuk menata hatinya.
"Saya mencintai Inggit dengan tulus. Dia adalah wanita yang luar biasa. Bahkan, Inggit tahu tentang sapu tangan ini. Saya menceritakan segalanya padanya, tentang gadis kecil yang menyelamatkan nyawa saya. Inggit tidak marah, dia justru ikut mendoakan agar suatu hari saya bisa mengucapkan terima kasih secara langsung pada pemiliknya."
Hana mendengarkan dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak menyangka Inggit, sahabat yang sudah ia anggap kakak sendiri, ternyata sudah memegang rahasia ini lebih dulu.
"Lalu... hari itu tiba," lanjut Arlan, senyum tipis muncul di bibirnya.
"Hari pertama saya masuk ke kelas sebagai dosen di kelas kamu, dan saya melihat kamu duduk di sana. Saya terpaku, Hana. Sorot mata itu... sorot mata yang sama dengan gadis di gang itu. Saya ingin berteriak, ingin menanyakan apakah itu benar kamu, tapi saya sadar posisi saya. Saya sudah memiliki Inggit, dan kamu adalah mahasiswi saya."
Arlan mengusap punggung tangan Hana dengan ibu jarinya.
"Saya memilih diam. Cukup melihatmu dari jauh, memastikan kamu baik-baik saja, itu sudah cukup bagi saya. Tapi takdir punya cara yang lebih gila. Kamu ternyata bersahabat deng…
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan
Bab 30: Benang Merah yang Tak Pernah Putus
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 92 Episodes
Comments