Setelah keberangkatan Arlan, suasana rumah terasa begitu tenang. Hana yang masih merasakan sisa-sisa kelelahan di tubuhnya mencoba mengalihkan fokus dengan duduk di depan laptop peninggalan Inggit. Namun, alih-alih langsung berkutat dengan data riset pasar untuk skripsi Manajemen Bisnis-nya, jemarinya justru tergerak membuka folder dokumentasi lama.
Ratusan foto terpampang di sana, potret kebersamaan mereka saat meeting butik, makan siang bersama, hingga tawa lepas di sela kesibukan. Sampai akhirnya, mata Hana tertuju pada sebuah file video pendek. Ia mengklik dua kali, dan seketika hening merajai kamar itu.
Wajah Inggit muncul di layar. Ia tampak pucat namun tetap memancarkan kecantikan yang damai. Dari latar belakangnya, Hana sadar video itu direkam di kamar yang ia tempati sekarang.
"Assalamualaikum, Hana. Apa kabar? Semoga saat kamu melihat ini, kamu selalu baik dan... bahagia," suara Inggit terdengar lembut namun bergetar.
"Mungkin saat video ini diputar, saya sudah tidak ada lagi di samping kamu."
Hana merasakan sesak di dadanya. Kalimat itu begitu nyata karena Inggit memang telah tiada. Ia terus menonton dengan mata berkaca-kaca.
"Maafkan saya, Hana. Bukan maksud saya melangkahi takdir, tapi rasanya tubuh saya sudah tahu kapan ia harus berhenti berjuang," Inggit tersenyum tipis di video itu.
"Hana... saya minta maaf jika nanti permintaan saya terdengar gila dan di luar nalar. Menikah dengan Arlan mungkin hal terakhir yang kamu bayangkan."
"Hana sudah menuruti permintaan Mbak..." bisik Hana lirih di sela isaknya.
"Kamu tahu betapa saya mencintai Arlan, tapi kamu juga harus tahu betapa saya menyayangi kamu. Kamu bukan sekadar rekan bisnis saya Hana, kamu adalah sahabat, adik, dan bagian terbaik dalam hidup saya," lanjut Inggit sembari mulai meneteskan air mata.
"Di dalam keluarga saya, saya tidak pernah merasakan hangatnya keluarga. Papa, Mama, bahkan adik saya hanya menganggap saya mesin ATM berjalan. Tapi kamu berbeda. Kamu menerima saya di titik paling rapuh…
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan
Bab 59: Wasiat yang Tak Terucap dan Luka di Balik Layar
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 92 Episodes
Comments