Lorong rumah sakit yang dingin terasa semakin mencekam saat Umi dan Abi Arlan datang dengan langkah tergesa. Wajah mereka menyiratkan kekhawatiran yang luar biasa karena berita fitnah itu telah sampai ke telinga mereka, disusul kabar bahwa menantu mereka jatuh pingsan di butik.
Tak lama, pintu ruang pemeriksaan terbuka. Dokter keluar dengan gurat wajah yang tenang namun menyimpan sedikit keraguan.
"Keluarga Ibu Hana?" panggil dokter. Arlan, Abi, dan kedua ibu itu segera mendekat.
"Secara medis, tidak ada kondisi fisik yang mengkhawatirkan. Tekanan darahnya memang sedikit rendah karena kelelahan, tapi selebihnya normal. Ibu Hana boleh pulang setelah kesadarannya pulih sepenuhnya."
Mendengar itu, ada embusan napas lega yang terdengar, namun tidak bagi Arlan. Tatapannya masih terpaku pada pintu ruangan tempat Hana terbaring.
Mereka semua masuk ke dalam ruangan. Di sana, Hana tampak begitu kecil di atas ranjang putih yang lebar. Wajahnya pucat pasi, kontras dengan kerudung instan yang dipasangkan seadanya oleh sang Mama tadi. Mama Hana tak kuasa membendung air matanya, ia terisak di samping ranjang putri tunggalnya.
Umi Arlan segera merangkul pundak besannya itu.
"Bu Diana, tenang ya. Hana anak yang kuat, dia akan baik-baik saja," bisik Umi mencoba menyalurkan kekuatan.
Mama Hana mengangguk lemah.
"Hana pasti sadar, Bu... tapi berita itu... fitnah itu benar-benar menghancurkan hatinya," ucapnya terputus oleh tangis.
"Tenang, Bu Diana. Kami tidak akan tinggal diam," kali ini Abi yang bersuara dengan nada berwibawa namun tegas.
"Kita akan cari tahu siapa dalang di balik penyebaran gosip ini. Jika perlu, kita akan bawa ini ke ranah hukum. Harga diri Hana adalah harga diri keluarga kami juga."
Arlan hanya diam membisu. Ia duduk di kursi samping ranjang, jemarinya menggenggam tangan Hana yang dingin. Matanya tak lepas menatap kelopak mata Hana yang masih terpejam rapat. Ia merasa gagal. Janjinya pada Inggit untuk menjaga Hana seolah runtuh dalam sekejap.
Tiba-tiba, jemari H…
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan
Bab 25: Luka yang Tak Kasat Mata
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 92 Episodes
Comments