Satu tahun telah berlalu sejak badai besar itu sepenuhnya mereda. Pagi hari di kediaman utama Arlan kini tak pernah lagi sepi.
Rumah yang dulunya terasa dingin dan kaku itu kini telah bertransformasi total menjadi sebuah istana kecil yang selalu dihangatkan oleh riuh canda tawa dan derap langkah kaki mungil yang saling berkejaran.
Arlan masih tetap menjalani profesinya sebagai dosen, meski kini ia menjadi dosen yang paling sering menolak jam mengajar malam karena tidak ingin melewatkan satu detik pun waktu perkembangan anaknya.
Di samping itu, bisnis properti dan beberapa yayasannya pun berkembang semakin pesat di bawah kendali tangannya dan Andi.
Sementara Hana, ia memilih untuk mengambil cuti kuliah untuk sementara waktu. Padahal, ia tinggal menyelesaikan bab akhir dari skripsinya. Baginya, gelar sarjana bisa dikejar kapan saja, namun masa-masa emas pertumbuhan putra kecilnya tidak akan pernah bisa diulang untuk kedua kali.
Putra kecil mereka yang lahir dari sisa-sisa perjuangan air mata itu diberi nama Zayn.
Pagi ini, Zayn yang baru saja genap berusia satu tahun sedang berada di atas karpet bulu tebal di ruang tengah, mencoba menegakkan kaki-kaki kecilnya yang menggemaskan. Ia sedang belajar berjalan, melangkah satu demi satu dengan tubuh yang masih limbung ke kanan dan ke kiri.
"Ayo, Dek Zayn! Jalannya ke arah Kakak sini!" seru Ziara riang.
Gadis kecil itu duduk berlutut beberapa meter di depan Zayn sembari merentangkan kedua tangan, bersiap menangkap jika tubuh sang adik merosot jatuh.
Di sampingnya, Azlan berdiri tegak memegangi sebuah bola plastik warna-warni, bertindak sebagai 'pelatih' pribadi adik bayinya.
"Pintar, Zayn! Sedikit lagi! Langkahnya yang tegap seperti Papa!"
Zayn kecil yang merasa didukung oleh kedua kakaknya langsung tertawa renyah hingga memamerkan dua gigi kelincinya yang baru tumbuh di bagian bawah.
Dengan gerakan menggemaskan, Zayn melemparkan bola plastik di tangannya ke arah Ziara, lalu sedetik kemudian tubuh gembilnya ambruk, duduk sel…
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan
EXTRA PART: Senandung di Bawah Langit yang Sama
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 92 Episodes
Comments