Beberapa hari berlalu, namun Hana masih harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Kondisi psikosomatis-nya belum stabil. Setiap kali teringat komentar jahat itu, dadanya kembali nyeri dan napasnya memburu. Dokter Sarah menyarankan agar Hana diisolasi dari dunia luar, terutama media sosial, sampai jiwanya benar-benar siap.
Arlan membagi waktunya antara kampus, kantor, dan rumah sakit. Wajahnya tampak semakin tirus, namun sorot matanya semakin tajam dan dingin.
Puncaknya adalah pagi ini. Arlan mendapatkan panggilan darurat dari pihak rektorat. Berita tentang "Skandal Dosen Populer dan Mahasiswinya sendiri" sudah menjadi konsumsi publik, bahkan mulai mengganggu stabilitas kampus. Di mata rektorat dan rekan dosen, Arlan adalah tersangka utama yang mencoreng nama baik institusi.
Arlan melangkah masuk ke ruang rapat rektorat dengan langkah tegap. Di dalam sana, sudah duduk Rektor, Dekan Fakultas, dan beberapa perwakilan dosen senior. Suasana terasa tegang, seolah-olah Arlan sedang menghadiri sidang putusan akhir.
"Pak Arlan," buka Rektor dengan nada suara yang berat dan kecewa.
"Berita yang beredar di luar sana sudah sangat meresahkan. Sebagai dosen senior yang menjadi panutan, tindakan Anda dengan mahasiswi bernama Hana ini..."
"Tindakan apa yang Anda maksud, Pak Rektor?" potong Arlan langsung. Suaranya datar, dingin, namun penuh penekanan.
"Foto-foto yang beredar, Pak Arlan! Anda berduaan di mobil, berpegangan tangan di restoran... Ini adalah pelanggaran kode etik berat!" seru Dekan Fakultas, wajahnya memerah menahan geram.
"Apa yang Anda pikirkan? Hana itu mahasiswi Anda sendiri!"
Arlan diam sejenak. Ia menatap satu per satu wajah di ruangan itu dengan tatapan yang membuat nyali beberapa dosen senior menciut. Aura dingin dari Arlan terpancar jelas, memenuhi ruangan yang tertutup itu.
Tanpa bersuara, Arlan membuka tas kerjanya. Ia mengeluarkan sebuah benda tipis bersampul cokelat tua dengan lambang Garuda emas di depannya.
Brak.
Arlan meletakkan buku nikah itu…
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan
Bab 27: Skakmat di Ruang Rektorat
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 92 Episodes
Comments