Hana masih terisak di pelukan Umi Pak Arlan, namun perlahan ia menarik diri. Ia menghapus air matanya dengan punggung tangan, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang tercecer. Keheningan di ruang tamu itu seolah menunggu satu patah kata yang akan menentukan arah hidup semua orang di sana.
Hana mendongak, menatap Pak Arlan dengan tatapan yang kini lebih jernih meski masih menyimpan luka.
"Beri saya waktu... satu minggu untuk memutuskannya," ucap Hana. Suaranya tidak lagi bergetar, terdengar cukup lantang di tengah kesunyian ruangan itu.
Pak Arlan terpaku, ia mengangguk pelan sebagai tanda hormat atas permintaan Hana.
"Terima kasih sudah datang," lanjut Hana seraya bangkit berdiri.
Hana menyalami Umi dan orang tuanya dengan sopan, lalu berpamitan masuk ke dalam kamar tanpa menoleh lagi. Pintu kamar tertutup pelan, meninggalkan beban berat yang kini berpindah ke pundak para orang tua.
Setelah kepergian Hana, suasana menjadi lebih cair namun tetap serius. Pak Arlan menarik napas panjang, lalu menatap orang tua Hana dengan raut penuh permohonan maaf.
"Pak, Bu... saya benar-benar memohon maaf karena harus membawa kabar seberat ini ke rumah kalian," ucap Arlan lirih.
"Kami mengerti, Nak Arlan," sahut Papa Hana bijak.
"Tapi... bagaimana dengan keluarga almarhumah Mbak Inggit? Bukankah mereka menolak keras pernikahan ini? Kami tidak ingin Hana masuk ke lingkungan yang membencinya."
Arlan tersenyum getir, sebuah senyum yang menyimpan banyak kepahitan.
"Mereka memang menolak secara lisan dengan makian. Tapi, ketika mereka mendengar isi wasiat tentang warisan dan aset yang ditinggalkan Inggit... mereka langsung berbalik arah. Mereka bahkan mendesak saya untuk segera menikahi Hana agar uang tersebut bisa segera mereka cairkan."
Mama Hana sontak mengelus dada, wajahnya kaget bukan main.
"Ya Allah... sebegitukah mereka karena harta? Padahal Mbak Inggit baru saja pergi."
Ada rasa sesak di hati Mama Hana. Ia mulai menyadari sesuatu, mungkin alasan kenapa Inggit begitu dekat d…
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan
Bab 7: Tenggat Waktu Tujuh Hari
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 92 Episodes
Comments