Mobil Arlan berhenti dengan halus di depan pagar rumah yang sudah sangat akrab bagi Hana. Namun, sore ini, rumah itu tampak berbeda. Bukan lagi sekadar rumah mitra bisnis atau rumah dosennya, melainkan rumah yang kini menjadi alamat tetap di kartu identitasnya kelak.
Arlan turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Hana. Gerakannya kaku, tidak seluwes biasanya saat ia membukakan pintu untuk Inggit. Hana melangkah keluar, kakinya terasa berat saat menapaki lantai teras. Begitu Arlan memutar kunci dan mendorong pintu jati itu terbuka, aroma diffuser lavender, aroma favorit Inggit, langsung menyambut indra penciuman Hana.
Seketika, memori Hana berputar hebat. Ia seolah melihat Inggit sedang berdiri di dekat sofa, tertawa menyambutnya dengan daster sutra yang elegan. Ia teringat bagaimana Inggit sering menariknya ke dapur untuk mencicipi resep baru. Setiap sudut rumah ini adalah jejak Inggit. Hana menarik napas panjang, mencoba menghalau rasa sesak yang tiba-tiba datang. Ia merasa seperti seorang tamu yang lancang, meski cincin di jarinya berkata sebaliknya.
"Hana," panggil Arlan, memecah lamunan gadis itu.
Arlan berdiri di dekat tangga, tampak sedikit gelisah. Tangannya yang biasa menggenggam spidol di kelas dengan penuh wibawa, kini hanya meremas kunci mobil.
"Saya... saya sudah menyiapkan kamar untuk kamu. Di lantai bawah, kamar tamu yang dekat dengan taman belakang," ucap Arlan dengan nada bicara yang berusaha terdengar santai, meski kegugupannya tetap terbaca.
Hana mengikuti langkah Arlan. Pria itu membuka sebuah pintu kamar yang letaknya cukup strategis. Di dalamnya, suasana terasa jauh lebih segar. Tidak ada barang-barang Inggit di sana. Sprei berwarna peach lembut tampak baru terpasang, dan di atas meja belajar yang rapi, Arlan bahkan sudah menyiapkan beberapa buku referensi skripsi yang sempat Hana keluhkan sulit dicari di perpustakaan.
"Saya pikir, kamu butuh ruang sendiri dulu. Saya tidak ingin kamu merasa tertekan kalau langsung... ah, maksud saya, kamu b…
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan
Bab 16: Ambang Pintu dan Canggung yang Menyergap
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 92 Episodes
Comments