Keheningan di koridor rumah sakit terasa mencekam setelah histeria Hana mereda. Arlan berdiri di depan pintu ruang rawat, menatap kosong ke arah lantai marmer yang dingin. Di dalam sana, Hana tertidur karena pengaruh obat penenang ringan, namun sisa-sisa air mata masih membekas di bantalnya.
Dokter spesialis penyakit dalam yang menangani Hana menghampiri Arlan. Wajahnya tampak serius, tidak ada lagi nada santai seperti saat menjelaskan kondisi fisik Hana tadi.
"Pak Arlan, kita harus bicara jujur," ucap Dokter itu pelan.
"Secara klinis, detak jantung dan pernapasan Ibu Hana stabil. Namun, rasa sakit yang dia rasakan di dadanya itu 'nyata' bagi otaknya. Ini adalah bentuk pertahanan diri yang runtuh. Saya sangat menyarankan agar Ibu Hana segera dikonsultasikan dengan rekan saya, seorang psikolog klinis. Kita harus melakukan observasi mental hari ini juga sebelum trauma ini mengakar menjadi depresi berat."
Arlan terdiam. Kata 'psikolog' dan 'trauma' terasa seperti hantaman godam di dadanya. Ia mengangguk lemah.
"Lakukan yang terbaik, Dok. Apapun."
Satu jam kemudian, seorang wanita paruh baya dengan kacamata berbingkai tipis dan wajah yang sangat menenangkan datang.
Beliau adalah Dokter Sarah, psikolog senior di rumah sakit tersebut. Atas permintaan Dokter Sarah, Arlan, Umi, dan Mama Hana diminta menunggu di luar agar Hana merasa lebih privat.
Di dalam ruangan yang remang-remang, Hana sudah terbangun. Matanya menatap langit-langit dengan pandangan kosong. Tubuhnya seolah ada di sana, namun jiwanya terasa terbang entah ke mana.
"Halo, Hana... Saya Sarah. Boleh saya duduk di sini?" tanya Dokter Sarah lembut, tanpa membawa papan jalan atau stetoskop yang menakutkan.
Hana tidak menjawab. Ia hanya menggerakkan matanya sedikit.
"Hana, saya tahu dadamu terasa sangat sesak sekarang. Rasanya seperti ada beban ribuan ton yang menindihmu, ya?"
Mendengar kalimat itu, napas Hana mulai tersengal lagi.
"Sakit... Dok. Mereka bilang... aku jahat," lirih Hana. Suaranya pecah, penuh denga…
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan
Bab 26: Di Ambang Batas Kesadaran
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 92 Episodes
Comments