Pagi itu dimulai dengan sinar matahari yang menembus celah gorden, menyapu wajah Hana yang perlahan membuka mata. Namun, rasa kantuknya hilang seketika berganti dengan jantung yang berdegup kencang saat ia menyadari bahwa ia tidak sendirian. Arlan terlelap tepat di sampingnya, masih dengan kemeja semalam yang sedikit kusut.
Hana terkesiap. Dengan gerakan sehalus mungkin, ia menarik tangannya yang ternyata masih melingkar di lengan Arlan. Wajahnya memerah padam. Tanpa membuang waktu, ia segera turun dari ranjang dan setengah berlari menuju kamar mandi, lalu menutup pintunya dengan rapat.
Di balik pintu yang tertutup itu, Arlan perlahan membuka matanya. Sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya. Sebenarnya, ia sudah terbangun sejak Hana mulai bergerak, namun ia sengaja berpura-pura tidur agar Hana tidak mati kutu karena malu. Arlan pun bangkit, merapikan tempat tidur sejenak, lalu beranjak menuju kamarnya sendiri untuk bersiap. Hari ini adalah hari besar, langkah pertama Hana kembali ke dunianya.
Di dalam kamar mandi, Hana menyandarkan punggungnya di pintu sambil memegangi dadanya yang masih berdebar.
"Aduh, Hana... kok bisa sih?" batinnya merutuk.
Ia mencoba merangkai memori semalam. Ingatannya berhenti saat ia membaca novel di sofa. Jika ia bangun di kamar, berarti Arlan menggendongnya. Dan posisi tadi... kenapa ia memegangi lengan Arlan seerat itu?
"Malu-maluin banget, Na! Meskipun dia suamimu, tetap saja dia itu dosenmu. Ingat juga kalau dia itu dulu suaminya Bu Inggit," bisiknya pada diri sendiri, mencoba menekan perasaan aneh yang mulai tumbuh di hatinya.
***
Perjalanan menuju kampus terasa lebih sunyi dari biasanya. Hana terus meremas tali tasnya, tatapannya kosong ke arah jalanan. Begitu mobil SUV hitam Arlan berhenti di pelataran parkir fakultas, tubuh Hana mendadak kaku. Ia melihat kerumunan mahasiswa, dan seketika bayangan komentar-komentar jahat di internet kembali berputar di kepalanya.
Arlan turun lebih dulu. Ia memutari mobil dan membukakan pintu untu…
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan
Bab 41: Di Antara Tatapan dan Takdir yang Salah Alamat
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 92 Episodes
Comments