Mentari pagi berteduh ramah di balik dedaunan pohon mangga di halaman samping kediaman Arlan. Sinar hangatnya yang keemasan menembus celah-celah ranting, menyirami Hana yang sedang duduk di kursi santai bermaterial rotan.
Pagi ini, ia sengaja berjemur untuk mengembalikan kebugaran fisiknya yang sempat menyusut. Di sampingnya, Arlan duduk setia. Pria itu dengan sengaja mengabaikan deretan surel pekerjaan dan membatalkan seluruh jadwal rapat penting di kantornya hari ini.
Baginya, tidak ada urusan dunia yang lebih mendesak daripada mendekap dan memastikan setiap jengkal kenyamanan sang istri.
"Mas, jangan terus-terusan menatapku seperti itu," celetuk Hana dengan tawa kecil.
Pipinya yang semula pucat kini mulai dihiasi semburat merah muda yang manis.
Arlan terkekeh pelan. Tangannya yang hangat bergerak mengupas sebuah jeruk sunkist, lalu menyuapkan satu siungnya dengan telaten ke mulut Hana.
"Mas cuma ingin memastikan kalau istri Mas yang cantik ini tidak berubah jadi fatamorgana lagi. Tiga bulan itu waktu yang sangat lama, Hana. Jadi, anggap saja sekarang Mas sedang membalas dendam."
Hana menerima suapan itu, mengunyahnya sembari menatap binar protektif di mata suaminya.
Tawa hangat dan candaan ringan kembali mengalir di antara mereka, membasuh sisa-sisa kelabu dari masa lalu yang menyakitkan.
Namun, di tengah momen manis dan penuh romansa itu, keheningan pagi mendadak terbelah oleh raungan suara knalpot sepeda motor yang memasuki area halaman rumah.
Bremmm!
Motor itu berhenti dengan sedikit mendadak, menyisakan gesekan halus ban pada paving blok pekarangan.
Arlan dan Hana serempak mendongak, mengalihkan perhatian ke arah gerbang masuk.
Seorang gadis yang duduk di boncengan belakang langsung turun dengan gerakan tergesa-gesa, bahkan cenderung grasak-grusuk.
Tanpa membuang waktu, ia membuka kunci helmnya dengan kasar, lalu mencopot pelindung kepala itu hingga jilbab instan yang dikenakannya menjadi kusut masai dan miring ke kanan. Gadis itu sama sekali tidak memedulika…
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan
Bab 87: Sahabat, Pelukan, dan Rahasia yang Terbongkar
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 92 Episodes
Comments