Dua hari telah berlalu sejak pertemuan yang menyesakkan itu. Bagi Hana, butik hijab milik keluarganya adalah satu-satunya tempat ia bisa menarik napas tanpa merasa tercekik. Jika sedang tidak ada jadwal kuliah, Hana akan menghabiskan waktu seharian di sana, membantu Mama mengelola bisnis yang kian berkembang pesat.
Hari ini, butik begitu sibuk. Sejak pagi, Hana tak berhenti melakukan siaran live di aplikasi belanja online. Suaranya yang ramah dan pembawaannya yang ceria membuat penonton betah berlama-lama. Jemarinya lincah melipat kain, melakukan pengemasan, hingga memastikan pengiriman barang berjalan lancar.
Melihat tumpukan paket yang siap dikirim, Hana menyeka keringat di dahinya dengan senyum tipis. Omzet hari ini melonjak drastis, sebuah pencapaian yang setidaknya mampu mengalihkan pikirannya dari kemelut wasiat itu.
"Alhamdulillah ya, Nak. Hari ini pembelian benar-benar membeludak," ucap Diana, mama Hana, sambil merapikan sisa-sisa kain setelah lima karyawan mereka pulang.
"Iya, Ma. Hana bersyukur banget. Walaupun capek, tapi lihat hasilnya begini jadi senang," sahut Hana sembari tersenyum.
Diana menatap putrinya dengan haru. Setelah dua hari Hana hanya mengurung diri dan merenung, akhirnya senyum itu muncul kembali, meski tak secerah biasanya.
Hana adalah gadis yang periang dan murah senyum, itulah alasan mengapa pelanggan sangat menyukainya. Namun sejak kepergian Inggit, keceriaan itu seolah berputar 180 derajat menjadi mendung yang tak kunjung usai.
Namun, ketenangan itu hanyalah fatamorgana yang pecah seketika.
"HANA!"
Sebuah teriakan melengking dari arah pintu masuk membuat bahu Hana tersentak. Siska melangkah masuk dengan wajah yang masam, seolah baru saja menelan sesuatu yang pahit. Ia memijat pelipisnya dengan kasar, memperlihatkan raut wajah yang tidak sabaran.
"Ada apa ya, Tante?" tanya Hana, masih berusaha menjaga kesopanannya meski jantungnya mulai berdegup kencang.
Siska mendengus kasar, menatap Hana dengan pandangan merendah.
"Hana, kamu itu tin…
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan
Bab 8: Harga Diri yang Dipertaruhkan
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 92 Episodes
Comments