Semburat oranye mulai menghiasi langit sore, menandakan waktu pengerjaan skripsi yang cukup produktif bagi dua mahasiswi Manajemen Bisnis itu harus berakhir. Ponsel Dila terus bergetar di atas meja, menampilkan nama "Bunda" yang menelpon untuk kesekian kalinya.
"Na, kayaknya aku harus pulang sekarang. Negara api sudah memanggil, Bunda nggak bakal kasih ampun kalau aku pulang lewat Maghrib," ujar Dila sambil terburu-buru memasukkan laptop dan kabel charger-nya ke dalam tas.
Hana tertawa kecil melihat sahabatnya yang panik. Ia mengantarkan Dila keluar hingga ke teras rumah. Di sana, sebuah motor matic berwarna putih sudah terparkir manis.
"Sudah balik toh motor kesayangannya," goda Hana sambil menyilangkan tangan di dada.
Dila menepuk jok motornya dengan bangga, seolah sedang memamerkan trofi kemenangan.
"Tentu saja! Ini adalah buah dari diplomasi tingkat tinggi, Na. Demi motor, aku rela 'menjual' diri sedikit ke Bunda."
Hana menaikkan sebelah alisnya.
"Jadi beneran mau sama Tomi? Mantan Presma yang katanya dulu paling vokal itu?"
"Hanaaa! Berhenti panggil nama itu!" Dila merengut kesal sembari memakai helmnya.
"Kan rencananya cuma menyetujui perjodohan supaya Bunda senang dan fasilitas kembali. Masalah perjodohan ini? Biar si Tomi itu saja yang nanti memutuskan, lagian mengingat kelakuan aku ke dia, dan permusuhan kami, biarin aja dia yang nolak. Supaya bunda ga marah sama aku lagi. Win-win solution, kan?"
"Iya bener sih, tapi tetap hati-hati, Dil. Biasanya yang benci banget bisa jadi cinta banget. Apalagi kalau lawannya mantan Presma yang pinter debat," pungkas Hana yang dibalas dengan raungan mesin motor Dila.
"Nggak akan! Aku duluan ya, Na! Salam buat Pak Dosen kesayangan!" teriak Dila sambil melaju meninggalkan halaman rumah Arlan.
Sepeninggal Dila, suasana rumah mendadak terasa begitu sunyi. Hana menutup pintu depan perlahan dan menyandarkan punggungnya di sana. Ia menghela napas panjang, mencoba membuang sisa-sisa energi yang terkuras hari ini.
Hari ini sungguh…
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan
Bab 55: Senja di Teras dan Debar yang Tersisa
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 92 Episodes
Comments