Malam yang panjang dan melelahkan itu akhirnya berganti dengan keheningan yang intim di dalam kamar utama mereka. Begitu pintu kayu dikunci rapat dari dalam, Arlan langsung melonggarkan dasi kupu-kupunya dan melepas jas tuksedo hitamnya, menyisakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga sikut.
Hana baru saja selesai membersihkan riasan tebal di wajahnya, menyisakan wajah polosnya yang bersih dan segar. Ketika ia sedang merapikan hijab santai di depan cermin, sepasang lengan kekoh tiba-tiba melingkar mesra dari belakang, memeluk pinggangnya dengan erat.
Arlan membenamkan wajahnya di ceruk leher Hana, menghirup aroma sabun bayi yang menenangkan dari tubuh istrinya.
"Mas, geli..." cicit Hana.
Ia mencoba menggeliat kecil namun cengkeraman Arlan justru kian mengerat.
"Biarkan seperti ini sebentar, Sayang," bisik Arlan dengan suara baritonnya yang serak dan dalam. Ia menatap pantulan wajah mereka di cermin.
"Malam ini kamu cantik sekali. Mas sampai hampir tidak konsentrasi saat menyalami para rekan dosen di pelaminan tadi karena mata mas hanya ingin menatap kamu."
Pujian blak-blakan itu seketika membuat pipi Hana merona merah padam. Ia menunduk malu, menyembunyikan senyumnya.
"Mas Arlan gombalnya pintar ya sekarang. Belajar dari mana, sih?"
Arlan terkekeh pelan, kecupan-kecupan kecil mulai ia daratkan di pelipis dan pipi Hana, membuat wanita itu semakin tersipu malu dan salah tingkah.
"Tidak perlu belajar kalau objeknya adalah istri sendiri, Sayang."
Arlan perlahan memutar tubuh Hana agar menghadapnya, menatap lurus ke dalam manik mata sang istri dengan binar yang sarat akan gairah dan cinta yang teramat masif.
Malam itu, di bawah temaram lampu kamar yang syahdu, mereka menghabiskan waktu bersama dalam jalinan kasih yang indah dan penuh kehangatan.
Namun, di sela-sela momen romantis itu, Hana sempat menahan dada bidang Arlan, menatapnya dengan pandangan memperingatkan yang lembut.
"Mas... pelan-pelan, ya? Kandungan Hana masih sangat muda," bisik Hana parau dengan nap…
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan
Bab 89: Balasan Terbaik dari Sebuah Luka
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 92 Episodes
Comments