Makan malam pertama di rumah itu berlangsung dengan iringan denting sendok yang beradu dengan piring porselen. Arlan memesan makanan hangat dari restoran langganannya, namun bagi Hana, rasa makanan itu seolah tertelan oleh kecanggungan yang luar biasa.
Mereka duduk berhadapan, namun mata mereka lebih sering menatap nasi daripada satu sama lain. Arlan sesekali mencoba mencairkan suasana dengan menanyakan progres skripsi, namun Hana hanya menjawab singkat, membuat suasana kembali sunyi.
"Hana, kamu istirahatlah lebih awal. Hari ini sangat panjang untukmu," ucap Arlan setelah mereka selesai membereskan meja makan.
Hana hanya mengangguk patuh, merasa lega karena "ujian" makan malam itu telah berakhir.
Tengah malam, kesunyian rumah itu terasa begitu pekat. Hana terbangun dengan tenggorokan yang terasa sangat kering, mungkin karena terlalu banyak menangis dan berbicara dalam beberapa hari terakhir. Dengan mata yang masih setengah mengantuk dan kesadaran yang belum pulih sepenuhnya, ia bangkit dari tempat tidur.
Dalam kondisi autopilot, Hana melangkah keluar kamar menuju dapur. Pikirannya masih tertinggal di rumah orang tuanya, di mana ia bebas berkeliaran tanpa beban. Ia lupa bahwa statusnya telah berubah. Ia lupa bahwa ada pria lain di rumah ini.
Malam itu, Hana keluar tanpa mengenakan hijabnya. Rambut hitamnya yang panjang dan sedikit bergelombang tergerai bebas hingga ke pinggang, tampak sedikit berantakan namun memberikan kesan alami yang sangat cantik. Ia mengenakan baju tidur satin berlengan panjang yang longgar.
Hana sampai di dapur, menyalakan lampu kecil di atas dispenser, lalu mulai mengisi botol minumnya. Suara air yang mengalir menjadi satu-satunya bunyi di sana. Setelah botol terisi penuh, Hana memutar tubuhnya, berniat kembali ke kamar untuk melanjutkan tidurnya.
DEG
Langkah Hana terkunci di lantai dapur. Botol minum di tangannya hampir saja meluncur jatuh jika ia tidak segera mencengkeramnya dengan kuat. Di depannya, berdiri Arlan yang tampak baru saja ingi…
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan
Bab 17: Rambut yang Tergerai dan Jantung yang Berisik
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 92 Episodes
Comments