Langkah kaki Hana terasa sangat berat saat ia memasuki pelataran rumahnya. Kepergian Dila meninggalkan keheningan yang mendadak terasa mencekik. Pandangan Hana tertuju pada mobil mewah yang terparkir angkuh di halaman rumahnya, sebuah pemandangan yang kontras dengan kondisi finansial keluarganya yang baru saja merangkak naik dari jurang kebangkrutan.
Setiap inci keberhasilan keluarganya saat ini adalah buah dari kebaikan hati almarhumah Bu Inggit. Mengingat itu, hati Hana kembali berdenyut perih. Ia merasa seperti seorang pengkhianat jika menolak wasiat itu, namun ia merasa seperti narapidana jika menerimanya.
Hana menarik napas panjang, mencoba menata hatinya yang masih berantakan sebelum memutar knop pintu kayu jati rumahnya.
"Assalamualaikum," ucap Hana dengan suara yang hampir tak keluar.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab suara-suara di dalam secara serentak.
Hana melangkah masuk, namun baru dua langkah, seluruh persendiannya seolah terkunci. Oksigen di paru-parunya seakan mendadak hilang. Di ruang tamu yang tak seberapa luas itu, duduk orang-orang yang kehadirannya tak pernah ia duga akan secepat ini.
Di sana, di atas kursi rotan milik ayahnya, duduk Pak Arlan. Laki-laki itu mengenakan kemeja koko berwarna abu-abu gelap, wajahnya tampak lelah dengan lingkaran hitam di bawah mata yang tak bisa disembunyikan. Di sampingnya, duduk sepasang suami istri paruh baya yang memancarkan aura wibawa namun tenang, Umi dan Abi dari Pak Arlan.
Hana mematung. Tatapannya berserobok dengan mata tajam Pak Arlan yang kini juga sedang menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan, antara rasa bersalah, beban, dan duka yang dalam. Kejadian di kelas tadi pagi kembali terbayang, bisikan teman-temannya tentang "pelakor" seolah berdengung kembali di telinganya.
Lidah Hana kelu. Ia ingin lari kembali ke masjid, atau menghilang saja dari muka bumi saat ini juga. Kehadiran keluarga besar Pak Arlan di rumahnya hanya berarti satu hal yaitu Amanah itu sedang ditagih.
"Hana…
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan
Bab 6: Amanah yang Ditagih
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 92 Episodes
Comments